Memaafkan



Tahun ini banyak orang-orang yang ingin memberi daripada menerima. Saya sih merasanya begitu. Mungkin gerakan beramal yang sedang semarak dielu-elukan oleh tokoh-tokoh dan berbagai macam buku sudah berefek signifikan. Saya hanya selalu berharap semoga semua niat baik yang dilakukan oleh orang-orang menjadi berkah dan manfaat untuk orang lain.

Setidaknya kita menjadi masyarakat yang peduli sesama. Semoga.
Omong-omong soal memberi, ga cuma harta yang kita bisa beri. Ada ilmu dan maaf.

Memberi banyak menimbulkan efek untuk diri kita sendiri bukan untuk orang lain.
Saya rasain sih gitu, contohnya memberi harta. Itu kaya nabung, nabung ke orang lain dan bisa jadi manfaat buat org itu. In the future God will give all back even more.

Memberi ilmu, kalau sama orang yang kita beri ilmunya diamalkan terus maka ilmu kita bermanfaat terus. Nanti kita juga dapat ilmu lain, yang lebih malah. Kalau kamu percaya hukum karma ya mungkin bisa diaplikasikan dalam ilmu ini. What you get is what you give. Saya mungkin lebih percaya hukum cermin, memantul, perlakuan orang-orang ke kita itu pantulan dari perlakuan kita ke mereka. Saya percaya kalau saya belum dapat lebih mungkin karena saya juga kurang memberi.

Menurut saya ada memberi lain yang penting.

Memberi maaf.
Memberi maaf lebih ke efek membersihkan diri. Kalau kita disakiti dan kita memaafkan orang yang menyakiti kita itu efeknya kita sendiri yang rasain. Memaafkan itu seperti menyiram air ke hati kita yang berdebu. Bukan, bukan buat orang yang kita kasih maaf. Buat kita sendiri. Memaafkan dan mengikhlaskan itu bentuk penenangan diri dan kebahagiaan. Masih susah untuk memaafkan? Coba kamu tulis semua hal-hal yang bikin kamu ga enak, bikin kamu benci apapun itu. Tulis semua sampe kata kasarnya juga ga apa-apa. Keluarin kebencian kamu semuanya lewat tulisan itu. Lalu setelah beres menulis pejamkan mata salurkan energi negatif kamu di kertas itu, kamu remas kertasnya lalu lemparkan semua ke tong sampah. Lempar semua kebencian kamu ke tong sampah. Karena kebencian itu kaya sampah, Cuma ngotorin hati kita.

Kebencian itu kaya pagar tembok tinggi berduri yang mengelilingi dan menutupi hati bahagia kita. Kita gabisa keluar, ga bisa liat dunia lain yang menyenangkan, ga bisa liat indahnya matahari terbit, ga bisa rasain hangatnya, ga bisa liat pelangi. Kamu cuma tau gelap dan sakit.

Memaafkan itu seperti merubuhkan tembok tinggi berduri. Jadi saya rasa sebelum meminta maaf cobalah untuk memaafkan. Mulai dari memaafkan diri sendiri, karena memaafkan diri sendiri itu lebih susah. Lalu maafkan semua orang yang pernah ada di hidup kamu, yang pernah menyakiti kamu. Setelah hati kita ikhlas minta maaf lah pada semua orang yang pernah berinteraksi sama kamu. Sama yang pernah menyakiti kamu sekalipun. Percaya pada hati kamu yang besar, lakukan demi kebahagiaan kamu sendiri. You are a big person with a big heart. Believe that.

Happy giving forgiven and asking forgiveness :)
Minal Aidzin Wal Faidzin. Happy Eid Mubarak!


Comments