Teman, Sahabat. Apa artinya?
The Wolves
and The Ravens dari Rogue Valley menemani sore dengan suara guntur yang
bersahutan. Untuk sesaat saya sempat terdiam dan diam, dengan kepala mendongak.
Lagu ini memiliki nada yang saya suka, yang sepertinya tepat dan membuat saya
ingin menulis. Walaupun saya sendiri tidak terlalu memperhatikan liriknya. Kamu
pasti pernah merasakannya bukan? Menikmati lagu yang bahkan kamu tidak tahu
lirik dan maksud penyair tapi nada lagu ini nampak tepat dengan apa yang kamu
rasakan?
Siang ini saya dibuat terbahak oleh kenangan. Seberapa
sering kamu dibuat tertawa lepas oleh kenangan? Kamu dibuat benar-benar
bahagia. Bahagia karena mengalami itu, namun bukan berarti kamu ingin
mengulanginya. Kamu bersyukur karena hal-hal itu diberikan pada kamu.
Saat saya menulis ini saya tahu mungkin 1 tahun atau 2
tahun atau 10 tahun kemudian pandangan saya berubah. Mungkin saya berpendapat
lebih atau kurang, karena saya mengakui bahwa saya terus berubah. Karena selama saya masih banyak belajar,
banyak membaca, banyak menonton film bagus, banyak bertemu orang, banyak
berpergian. Pandangan saya akan terus berubah. Saya bersyukur karena apa yang
saya tulis ini adalah apa yang saya rasakan selama baru 22 tahun hidup di bumi.
Waktu saya
kira-kira berumur 5 tahun ada sebuah wahana permainan dalam restoran cepat saji
dan dengan bahagia saya bermain. Saya berkenalan dengan salah satu anak
perempuan yang ingin bermain bersama. Anak itu datang dan menyapa “Hai, siapa
nama kamu? Aku Putri (saya lupa namanya). Kita main bareng yuk” “Aku Runi.
Yuk!” Secepat itu kami berteman, seingat saya kala itu menyenangkan. Tapi hanya
sampai disitu saja. Kami berteman di wahana bermain restoran cepat saji.
Setelah pulang lalu beberapa minggu kemudian saya tidak ingat wajahnya, sampai
sekarang. Ingatan yang saya sebutkan pun hanya samar-samar. Setelah itu saya
masuk Sekolah Dasar saya berteman kembali dan menyenangkan. Masuk SMP juga
sangat menyenangkan. Tapi saya sadar kala itu kami masih belum menemukan diri
kami seperti apa. Masih belum tau caranya berteman dengan baik, atau bisa
dibilang bukan kami tapi saya. Saya yang belum tau bagaimana caranya berteman
dengan baik karena kala itu saya sendiri pun belum benar-benar menjadi diri
saya. Saya tidak tau saya suka apa, saya ingin menjadi apa, langkah apa yang
harus saya ambil. Namun sekarang kata “seandainya” pun terlintas mengingat saya
tak pernah keep in touch dengan
teman-teman saya saat SD sampai SMP. Tanpa sadar ternyata kami semua berubah
dan kami berubah dengan jalan kami masing-masing. Kami tidak tumbuh bersama
karena kami tidak menjalin pertemanan seperti itu lagi.
Saya masuk
SMA. Oke apa saya sudah tau apa yang saya suka saat SMA? Saya tau ingin menjadi
apa di masa depan? Jawabannya tidak. Saya masih menebak-nebak, masih mengikuti,
masih tidak tau. Tapi kenapa saya berteman dengan sekelompok orang hingga
sampai sekarang? Mereka menjadi sahabat baik saya hingga saat ini. Apakah
karena saya sekelas dengan orang-orang yang sama selama 2 tahun. Apa lamanya
kita berteman menentukan ikatan yang lebih kuat? Saya tidak tau, karena jika
benar, saya sekelas dengan orang yang sama selama 6 tahun saat SD. Saya bisa
bilang kami terikat kala itu tapi tidak setelahnya. Lalu teringat kata
„seandainya“, seandainya saya tidak berhubungan lagi dengan sahabat SMA saya
hingga sekarang apa kami tetap jadi sahabat? Seandainya saya tetap berhubungan
dengan teman-teman SD dan SMP saya, berhubungan yang benar-benar bertemu dan
bercerita apa saja secara berkala, dengan kata lain tumbuh bersama. Seandainya
begitu apa mereka akan terus menjadi sahabat saya hingga sekarang? Saya tidak
tahu. Yang saya tahu, bersama dengan teman-teman SMA saya, saya tetap berusaha
bertemu secara berkala, bercerita apa saja dan tetap menjadi diri sendiri. Kami
tumbuh bersama dan kami berubah bersama. Ada pepatah yang bilang kamu akan
punya 2 jenis sahabat, sahabat yang sering bertemu dan sahabat yang jarang kamu
temui. Saya punya dua-duanya. Bersama sahabat SMA kami benar-benar jarang
bertemu, tapi ketika kami bertemu kami benar-benar seperti apa adanya.
Berbicara mengenai apapun, kami mengenang masa SMA kami, kami bercanda dan
menertawakan kebodohan kami dulu. Mereka adalah teman tumbuh bersama walaupun
saling berjauhan. Saya ingat sempat kami berjauhan dan benar-benar jauh, tidak
bertemu dan berbicara kalau tidak salah selepas kami lulus SMA, semua memiliki
kesibukan. Saya ingat karena saat itu satu tahun saya tidak melanjutkan kuliah
dan sulit sekali bertemu dengan teman-teman SMA, saya benar-benar kesepian.
Namun satu tahun kesepian itu lah saya menemukan apa yang saya suka, saya
menemukan sesuatu yang baru yang membuat saya benar-benar bersemangat. Satu
tahun itu saya seperti menemukan potongan diri saya. Saya mulai mengenali diri
sendiri, saya mulai membuat sebuah pondasi kepribadian, mulai menentukan siapa
sebenarnya seorang Runi Rachmalina Utari.
Saya melanjutkan
sekolah di Universitas. Rasanya seperti anak kecil kembali yang masuk sekolah,
karena saya sudah menunggu-nunggu yang namanya kuliah ini. Satu hal baru yang
saya pelajari mengenai dunia pertemanan selama belasan tahun, bertemanlah
dengan orang yang Tuhan beri untuk kita. Saya percaya itu hingga saat ini,
teman seperti hadiah dari Tuhan. Saat masa orientasi saya berteman dengan satu
orang perempuan yang baik dan cantik (saya jadi ingat saya kehilangan kontak
dengan dia dan tidak tau bagaimana kabarnya). Setelah puluhan tahun ini saya
sadar bahwa teman yang ada disekitar saya ini yang sudah Tuhan berikan. Saat
kuliah saya berteman dengan sekelompok orang yang berbeda-beda kepribadian
namun mempunyai semangat dan spirit yang sama. Orang-orang ini memberi
inspirasi dan banyak mengajari saya arti pertemanan.
Sekarang saya punya sahabat melalui dua periode yang
berbeda, saat SMA dan saat Kuliah. Saya selesai menjalani masa SMA tapi
persahabatan kami tidak selesai oleh waktu, baru beberapa hari ini juga saya
menyelesaikan kuliah dan saya yakin persahabatan kami juga tidak selesai hanya
dengan persoalan lulus. Pada tahap kehidupan selanjutnya juga saya pasti akan
bertemu dengan banyak orang dan saya yakin suatu saat ada orang-orang baru yang
mengelilingi saya. Teringat pembicaraan dengan salah satu sahabat saya beberapa
hari yang lalu mengenai doa kami di masa depan
dalam lingkungan baru dan tahapan kehidupan yang lain. Biarkan orang-orang yang
diam di ruang-ruang hati ini, yang akan menjadi kenangan membahagiakan adalah
orang-orang baik yang menghargai orang lain dan tulus, yang menganggap diri
sendiri adalah pribadi yang berharga hingga tak perlu mencari muka, yang
hatinya penuh cinta hingga membagikannya pada banyak orang adalah kebutuhan,
yang jujur dan mengakui kepribadian terburuk maupun terbaik hingga tak perlu
menjadi palsu, yang tak malu akan keanehan dirinya hingga melihat perbedaan itu
bukan masalah besar.
Ini yang saya rasakan berteman dengan
sahabat-sahabat seperti mereka:
1.
- Tidak takut ada penolakan ketika menjadi diri sendiri bahkan yang teraneh sekalipun (kalau saya jadi pemain sinetron Indosiar juga mereka masih mau temenan sama saya)
- Bercerita apa saja tentang siapa saja but mostly tentang diri sendiri beserta kebodohannya
- Membicarakan orang lain adalah pembicaraan yang paling jarang dibicarakan apalagi menjelek-jelekkan (mending ngomongin selebriti Hollywood, jelas terkenal)
- Tidak pernah membicarakan keburukan sahabat sendiri di belakangnya (saya pikir orang nusuk, palsu dan pengecut kaya gini nih yang harus dijauhin)
- Legowo menerima kritik tanpa ada rasa dongkol dan dendam (mau omongan yang baik-baik terus mah cari fans aja, jangan sahabat)
- Berani bercerita tentang mimpi masa depan dan rencana-rencana ke depan tanpa takut dihakimi (semua sahabat saya hebat dalam mensupport mereka cocok jadi cheerleaders)
- Benar-benar merasakan kebahagiaan ketika ada sahabat yang memperoleh kesuksesan dan pencapaian yang mereka inginkan (saya pikir saya bakal iri tapi taunya kalau kamu uda bener-bener tulus temenan yang ada malah bahagia banget kalau temen dapat sesuatu)
- Banyak belajar dari kepribadian mereka yang unik-unik
- Perasaan terasa ringan dan menyenangkan kalau ada mereka
- Tidak risau ketika kamu benar-benar dalam keadaan jatuh dan terpuruk karena kamu bisa lari ke sahabat kamu dan cerita apa adanya
Jika kamu belum menemukan perasaan yang
seperti yang saya rasakan sekarang mungkin kamu belum menemukan teman yang
benar-benar teman. Kesimpulan yang bisa saya ambil selama 22 tahun ini mungkin
adalah percayakan kepada Tuhan teman yang akan ada di hidup kamu, dengan catatan
kamu punya rule tentang menjadi manusia yang tau caranya memanusiakan manusia.
Jika kamu sudah menemukan teman yang seperti itu jangan lepaskan, tetaplah
menjaga komunikasi karena sahabat adalah harta yang tidak bisa kamu beli dengan
materi dunia.
ahhhh jadi terharu :')
ReplyDeleteI love you always babe. Kamu salah satu sahabat aku yang berani bermmimpi besar dan juga selalu mendukung sahabatnya untuk ngelakuin apa yg mereka inginkan. Thank you for being my bestfriend!