Fair
"Hal-hal baru" adalah salah satu yang saya syukuri tentang dunia. Seperti menemukan hadiah. Padahal hal baru tidak selamanya membahagiakan. But, that's the point!
Bagaimana kamu bisa membedakan yang membahagiakan atau tidak ketika kamu belum pernah mencobanya?
Some people said tidak usah mencoba untuk tau rasanya, karena kita sebagian besar sudah diberi informasi tentang rasa tersebut. Nah disinilah datangnya fair to judge something.
Kamu sudah mengerti dan tau akan diri kamu sepenuhnya tapi sebaik-baiknya kamu belajar mengenai diri kamu selalu ada sisi lain. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Bumi Manusia "Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuan tentang manusia takkan bakal bisa kemput" - halaman 165.
kemput /kem·put/ adv seluruhnya (sampai tuntas)
Jadi ketika berbicara tentang keadilan untuk menilai, kita akan menemukan sebuah relatifitas yang tinggi. Saya berbicara agar adil tapi definisi adil yang akan diterapkan adalah tergantung dari your personal boundaries. Ini poin utamanya, bagaimana dan sejauh apa personal boundaries kamu?
Saya akan coba jabarkan lebih lanjut.
Kasus pertama: Jangan mau tinggal atau kerja di kota A. Kata orang tinggal di kota A itu sulit, suasananya tidak menyenangkan, keras, panas.
Untuk saya itu termasuk penilaian yang tidak adil. Kenapa? Saya belum pernah tinggal di kota A. Maka dari itu dampaknya akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Lalu yang menjadi sulit itu apa? Seperti apa definisi sulit yang dimaksud? Apakah definisi sulit kita sama? Tidak menyenangkan yang bagaimana? Apa disana tidak ada oksigen? Keras? Bukankah hidup memang keras?
Lantas karena kata beberapa orang lalu kita benar-benar takut dengan kota A dan tidak mau mencoba tinggal disana.
Logika saya tidak bisa masuk di pernyataan itu. Untuk kasus seperti ini saya harus mencobanya sendiri, karena terlalu banyak hal yang relatif mengenai kota |A, tidak mutlak. Lalu masuklah pada tahap mencoba. Haruskah kita sendiri mencobanya? Disinilah kebijaksanaan dari batasan pribadi kita. Apa ketika kita mencoba tinggal di kota A akan sebanding dengan perjuangannya? Apa ilmu yang didapatkan dari kota A akan banyak berguna? Kenapa tidak ke kota B? Bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing?
Personal boundaries bermain disini. Saya pribadi akan merasa tertantang jika ditawarkan untuk tinggal tapi saya juga akan lihat ada apa dengan kota A dan seperti apa kotanya? Apakah kota tersebut setimpal dengan waktu yang saya habiskan disana? Namun yang harus digaris bawahi jangan menilai kota A lebih awal tanpa benar-benar mengalami secara pribadi.
Kasus kedua: Saya anak yang sangat menyukai hal-hal kreatif dan tidak suka mengalami aktifitas yang sama setiap hari. Saya cepat bosan dan saya benci pekerjaan kantoran di depan meja. Saya tidak akan mencobanya.
Well itu kasus saya sendiri dan pernyataan yang saya buat sebelum saya mencoba pekerjaan yang saat ini saya lakukan. Di depan meja dan komputer seperti seorang sekertaris, melakukan hal yang sama setiap hari. Saya tidak menyukainya, tapi saya tidak membencinya. Dan setelah mencobanya, pekerjaan ini salah satu pekerjaan yang tidak ingin saya lakukan untuk waktu yang lama.
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, walaupun kamu merasa mengenali diri kamu sepenuhnya, benar-benar mengetahui apa yang kamu suka dan tidak, tetap saja pengetahuan kamu tentang manusia tidak akan bisa kemput. Pengetahuan kamu tentang diri kamu sendiri pun tidak akan pernah selesai. Karena kita adalah makhluk paling dinamis. Setidaknya sekarang saya bisa fair untuk menjudge pekerjaan seperti ini. Seperti menonton sebuah film, kita tidak bisa mengkritik film tersebut bagus atau jelek ketika kita belum menontonnya.
Saya percaya manusia yang maju akan berubah seiring dengan ilmu yang dia dapat. Jika berbicara mengenai manusia maka kita akan menemukan banyak premis.
Ketika menemukan banyak premis maka saya akan menemukan juga banyak kesimpulan dan paradoks.
Satu hal yang pasti, segala sesuatu yang kamu lakukan pastikan ada ilmu yang bisa kamu dapat dan menjadi pupuk kepribadian. Walapun dinamis dan senang mencoba saya tidak ingin membuang waktu saya dengan hal-hal yang tidak akan bermanfaat. Make your only life the most amazing life you've ever had. Bahkan jika saya harus melakukan dan mencoba sesuatu yang saya benci saya akan mengambil manfaat dari hal tersebut, paling sedikit setidaknya kita tahu dan bisa menilai.
Saat ini saya benar-benar percaya bahwa diri saya selalu berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu saya mencoba kadang tidak hanya sekali, terutama dengan makanan: Saya benar-benar tidak sanggup memakan daging kambing, tapi itu tidak membuat saya berhenti mencoba. Setiap Idul Adha saya akan mencoba memakan daging kambing. Saya penasaran apa kali ini saya bisa memakannya atau tidak, apa tahun ini saya berubah atau tidak. Siapa tau mungkin kali ini saya baik-baik saja ketika memakan daging kambing.
Kasus Ketiga: Jangan bergaul dengan orang itu / dengan si C / dengan kaum itu. Karena mereka orang yang tidak menyenangkan, suka berkhianat, menusuk dari belakang dll.
Ini kasus penilaian yang menurut saya benar-benar tidak adil karena sisi ke-relatifitas-an yang sangat tinggi. Penilaian terhadap manusia adalah penilaian yang benar-benar berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi, bukan kata orang. Saya sendiri merasa bahwa saya orang yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan, walaupun sudah merasa benar-benar mengenali diri ada sisi sisi dimana saya pun merasa terkejut dengan kemampuan yang saya punya. Begitu pun dengan orang lain, menilai seseorang berdasarkan kata orang bukanlah pernyataan yang dapat kamu pegang. Saya setuju dan dapat menerima ketika kita menilai seseorang dari karya apa yang dikerjakan dan ilmu apa yang dia tinggalkan untuk dunia. Namun itu adalah penilaian general, bukan penilaian pribadi dimana kita menaruh batasan bahwa kita tidak akan mau dekat dekat dengan orang tersebut. Penilaian sifat.
Apakah kita harus mencoba dulu dekat dengan orang-orang ber-reputasi buruk? Sekali lagi itu tergantung dari batasan pribadi masing-masing. Apakah perlu? Apakah kamu ingin?
Argumentasi mana yang akan kamu pegang untuk melaksanakan pilihan kamu, karena saya sadar pilihan yang berhubungan dengan manusia sangat beresiko tinggi. Sejauh mana kamu mau ambil resiko tersebut, karena sekali lagi manusia salah satu makhluk yang tidak bisa kita tebak. Kedinamisan-nya dapat berakibat baik namun juga dapat berakibat buruk. Belum lagi waktu berperan pada kasus-kasus yang sudah saya jabarkan. Waktu mempengaruhi sebuah bentuk, apa yang kamu temukan sekarang dengan apa yang kamu temukan 20 tahun kemudian akan berubah.
Personal boundaries mempengaruhi semuanya. Seperti misalnya walaupun saya menyukai hal-hal baru saya tidak akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, bahkan mengambil hak orang lain. Saya juga tidak akan mencoba melakukan sesuatu yang menyakiti diri saya sendiri dan merusak masa depan saya. Namun jika ada seseorang yang memasang batasan pribadi berbeda itu pilihannya. Personal boundaries berhubungan dengan "hal-hal baru", walaupun banyak sekali hal baru yang bagus tapi ada pula hal baru yang tidak baik. Personal boundaries berperan disini, sejauh mana kamu membiarkan hal baru tersebut merubah diri kamu dan pandangan kamu atau bahkan personal boundaries kamu.
Misal: Saya membuat batasan bahwa sampai kapanpun, setiap hal baru yang menyakiti fisik makhluk hidup dengan maksud buruk tidak akan pernah mau saya coba dan lakukan.
Batasan pribadi melindungi saya dari hal baru yang buruk.
Misal berikutnya: Saya membuat batasan bahwa sampai kapanpun, saya tidak akan mau berpacaran dengan lelaki yang memukul wanita.
Ketika saya menemukan kasus di atas atau mengalami hal di atas. Personal boundaries seperti pengingat bahwa saya tidak punya toleransi terhadap kekerasan. Sebagaimanapun sisi-sisi kerelatifan yang lain datang.
Fair to judge something berhubungan dengan pengalaman pribadi. Setidaknya penilaian yang kita tanam pada diri sendiri, bukan untuk orang lain. Seperti menyimpan sebuah cerita berharga untuk pengingat diri di waktu yang akan datang. Kamu sudah mencobanya, kamu tau rasanya dan silahkan menilai dengan bijaksana ketika hal yang sama terulang. Saya bisa bilang mungkin itu salah satu bagian menjadi dewasa, memutuskan dengan bijaksana.
Saya setuju dengan pendapat what does not kill you make you stronger. Suatu hari jika salah memilih atau mencoba hal baru yang ternyata membuatmu menderita dan jatuh, bangkitlah. Karena selama tidak membunuh kamu ya tidak apa-apa.
Bagaimana kamu bisa membedakan yang membahagiakan atau tidak ketika kamu belum pernah mencobanya?
Some people said tidak usah mencoba untuk tau rasanya, karena kita sebagian besar sudah diberi informasi tentang rasa tersebut. Nah disinilah datangnya fair to judge something.
Kamu sudah mengerti dan tau akan diri kamu sepenuhnya tapi sebaik-baiknya kamu belajar mengenai diri kamu selalu ada sisi lain. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Bumi Manusia "Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, peradabanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuan tentang manusia takkan bakal bisa kemput" - halaman 165.
kemput /kem·put/ adv seluruhnya (sampai tuntas)
Jadi ketika berbicara tentang keadilan untuk menilai, kita akan menemukan sebuah relatifitas yang tinggi. Saya berbicara agar adil tapi definisi adil yang akan diterapkan adalah tergantung dari your personal boundaries. Ini poin utamanya, bagaimana dan sejauh apa personal boundaries kamu?
Saya akan coba jabarkan lebih lanjut.
Kasus pertama: Jangan mau tinggal atau kerja di kota A. Kata orang tinggal di kota A itu sulit, suasananya tidak menyenangkan, keras, panas.
Untuk saya itu termasuk penilaian yang tidak adil. Kenapa? Saya belum pernah tinggal di kota A. Maka dari itu dampaknya akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Lalu yang menjadi sulit itu apa? Seperti apa definisi sulit yang dimaksud? Apakah definisi sulit kita sama? Tidak menyenangkan yang bagaimana? Apa disana tidak ada oksigen? Keras? Bukankah hidup memang keras?
Lantas karena kata beberapa orang lalu kita benar-benar takut dengan kota A dan tidak mau mencoba tinggal disana.
Logika saya tidak bisa masuk di pernyataan itu. Untuk kasus seperti ini saya harus mencobanya sendiri, karena terlalu banyak hal yang relatif mengenai kota |A, tidak mutlak. Lalu masuklah pada tahap mencoba. Haruskah kita sendiri mencobanya? Disinilah kebijaksanaan dari batasan pribadi kita. Apa ketika kita mencoba tinggal di kota A akan sebanding dengan perjuangannya? Apa ilmu yang didapatkan dari kota A akan banyak berguna? Kenapa tidak ke kota B? Bagaimana kelebihan dan kekurangan masing-masing?
Personal boundaries bermain disini. Saya pribadi akan merasa tertantang jika ditawarkan untuk tinggal tapi saya juga akan lihat ada apa dengan kota A dan seperti apa kotanya? Apakah kota tersebut setimpal dengan waktu yang saya habiskan disana? Namun yang harus digaris bawahi jangan menilai kota A lebih awal tanpa benar-benar mengalami secara pribadi.
Kasus kedua: Saya anak yang sangat menyukai hal-hal kreatif dan tidak suka mengalami aktifitas yang sama setiap hari. Saya cepat bosan dan saya benci pekerjaan kantoran di depan meja. Saya tidak akan mencobanya.
Well itu kasus saya sendiri dan pernyataan yang saya buat sebelum saya mencoba pekerjaan yang saat ini saya lakukan. Di depan meja dan komputer seperti seorang sekertaris, melakukan hal yang sama setiap hari. Saya tidak menyukainya, tapi saya tidak membencinya. Dan setelah mencobanya, pekerjaan ini salah satu pekerjaan yang tidak ingin saya lakukan untuk waktu yang lama.
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, walaupun kamu merasa mengenali diri kamu sepenuhnya, benar-benar mengetahui apa yang kamu suka dan tidak, tetap saja pengetahuan kamu tentang manusia tidak akan bisa kemput. Pengetahuan kamu tentang diri kamu sendiri pun tidak akan pernah selesai. Karena kita adalah makhluk paling dinamis. Setidaknya sekarang saya bisa fair untuk menjudge pekerjaan seperti ini. Seperti menonton sebuah film, kita tidak bisa mengkritik film tersebut bagus atau jelek ketika kita belum menontonnya.
Saya percaya manusia yang maju akan berubah seiring dengan ilmu yang dia dapat. Jika berbicara mengenai manusia maka kita akan menemukan banyak premis.
Ketika menemukan banyak premis maka saya akan menemukan juga banyak kesimpulan dan paradoks.
Satu hal yang pasti, segala sesuatu yang kamu lakukan pastikan ada ilmu yang bisa kamu dapat dan menjadi pupuk kepribadian. Walapun dinamis dan senang mencoba saya tidak ingin membuang waktu saya dengan hal-hal yang tidak akan bermanfaat. Make your only life the most amazing life you've ever had. Bahkan jika saya harus melakukan dan mencoba sesuatu yang saya benci saya akan mengambil manfaat dari hal tersebut, paling sedikit setidaknya kita tahu dan bisa menilai.
Saat ini saya benar-benar percaya bahwa diri saya selalu berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu saya mencoba kadang tidak hanya sekali, terutama dengan makanan: Saya benar-benar tidak sanggup memakan daging kambing, tapi itu tidak membuat saya berhenti mencoba. Setiap Idul Adha saya akan mencoba memakan daging kambing. Saya penasaran apa kali ini saya bisa memakannya atau tidak, apa tahun ini saya berubah atau tidak. Siapa tau mungkin kali ini saya baik-baik saja ketika memakan daging kambing.
Kasus Ketiga: Jangan bergaul dengan orang itu / dengan si C / dengan kaum itu. Karena mereka orang yang tidak menyenangkan, suka berkhianat, menusuk dari belakang dll.
Ini kasus penilaian yang menurut saya benar-benar tidak adil karena sisi ke-relatifitas-an yang sangat tinggi. Penilaian terhadap manusia adalah penilaian yang benar-benar berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi, bukan kata orang. Saya sendiri merasa bahwa saya orang yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan, walaupun sudah merasa benar-benar mengenali diri ada sisi sisi dimana saya pun merasa terkejut dengan kemampuan yang saya punya. Begitu pun dengan orang lain, menilai seseorang berdasarkan kata orang bukanlah pernyataan yang dapat kamu pegang. Saya setuju dan dapat menerima ketika kita menilai seseorang dari karya apa yang dikerjakan dan ilmu apa yang dia tinggalkan untuk dunia. Namun itu adalah penilaian general, bukan penilaian pribadi dimana kita menaruh batasan bahwa kita tidak akan mau dekat dekat dengan orang tersebut. Penilaian sifat.
Apakah kita harus mencoba dulu dekat dengan orang-orang ber-reputasi buruk? Sekali lagi itu tergantung dari batasan pribadi masing-masing. Apakah perlu? Apakah kamu ingin?
Argumentasi mana yang akan kamu pegang untuk melaksanakan pilihan kamu, karena saya sadar pilihan yang berhubungan dengan manusia sangat beresiko tinggi. Sejauh mana kamu mau ambil resiko tersebut, karena sekali lagi manusia salah satu makhluk yang tidak bisa kita tebak. Kedinamisan-nya dapat berakibat baik namun juga dapat berakibat buruk. Belum lagi waktu berperan pada kasus-kasus yang sudah saya jabarkan. Waktu mempengaruhi sebuah bentuk, apa yang kamu temukan sekarang dengan apa yang kamu temukan 20 tahun kemudian akan berubah.
Personal boundaries mempengaruhi semuanya. Seperti misalnya walaupun saya menyukai hal-hal baru saya tidak akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain, bahkan mengambil hak orang lain. Saya juga tidak akan mencoba melakukan sesuatu yang menyakiti diri saya sendiri dan merusak masa depan saya. Namun jika ada seseorang yang memasang batasan pribadi berbeda itu pilihannya. Personal boundaries berhubungan dengan "hal-hal baru", walaupun banyak sekali hal baru yang bagus tapi ada pula hal baru yang tidak baik. Personal boundaries berperan disini, sejauh mana kamu membiarkan hal baru tersebut merubah diri kamu dan pandangan kamu atau bahkan personal boundaries kamu.
Misal: Saya membuat batasan bahwa sampai kapanpun, setiap hal baru yang menyakiti fisik makhluk hidup dengan maksud buruk tidak akan pernah mau saya coba dan lakukan.
Batasan pribadi melindungi saya dari hal baru yang buruk.
Misal berikutnya: Saya membuat batasan bahwa sampai kapanpun, saya tidak akan mau berpacaran dengan lelaki yang memukul wanita.
Ketika saya menemukan kasus di atas atau mengalami hal di atas. Personal boundaries seperti pengingat bahwa saya tidak punya toleransi terhadap kekerasan. Sebagaimanapun sisi-sisi kerelatifan yang lain datang.
Fair to judge something berhubungan dengan pengalaman pribadi. Setidaknya penilaian yang kita tanam pada diri sendiri, bukan untuk orang lain. Seperti menyimpan sebuah cerita berharga untuk pengingat diri di waktu yang akan datang. Kamu sudah mencobanya, kamu tau rasanya dan silahkan menilai dengan bijaksana ketika hal yang sama terulang. Saya bisa bilang mungkin itu salah satu bagian menjadi dewasa, memutuskan dengan bijaksana.
Saya setuju dengan pendapat what does not kill you make you stronger. Suatu hari jika salah memilih atau mencoba hal baru yang ternyata membuatmu menderita dan jatuh, bangkitlah. Karena selama tidak membunuh kamu ya tidak apa-apa.
Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.