Tergulung Gelombang Pusaran Amuk (Ulasan buku)
Anda berumur di
bawah 21 tahun? Masih di bawah 17 tahun? Atau malah mungkin masih mengenakan
seragam merah-putih? Mungkin sebaiknya
dede tidak membaca Pusaran Amuk karangan Zaky Yamani.
Pusaran Amuk
karangan Zaky Yamani merupakan sebuah novel dengan tema besar yang bercerita
mengenai bagaimana perlawanan terhadap sistem, perlawanan terhadap kekuasaan. Sebagai
tema kecil, tema drama-romansa tersaji guna para pembaca tidak cepat-cepat
menutup novel ini.
Tema besar novel
ini dibangun oleh hubungan segitiga antara polisi-pers-pengusaha. Sudah bukan
suatu kejanggalan, pola hubungan antara polisi dengan pers, merupakan hubungan
layaknya anjing-kucing. Satu pihak memiliki tugas untuk membatasi kebebasan dan
informasi yang beredar di masyarakat, sedang pihak lain berusaha mengorek
informasi sedalam mungkin dan mengabarkan fenomena kepada masyarakat. Bagaimana
dengan pengusaha? Ya, dilihat mana yang lebih menguntungkan. Jikalau keadaan
lebih menguntungkan bila bersama polisi, maka pengusaha akan merangkul polisi.
Tapi jika citra lebih diuntungkan dengan pers, pers pun bisa mejadi mitra
pengusaha.
Konflik dimulai
ketika polisi melakukan salah tangkap terhadap sekelompok orang (di mana salah
satu korban salah tangkap merupakan wartawan). Ditangkap karena dianggap pelaku
pelecehan seksual, di mana salah satu korban merupakan tunangan polisi yang
menangkap. Tersulut emosi karena tunangannya dilecehkan, para polisi ini tidak
hanya melakukan salah tangkap. Lebih jauh, mereka melakukan penyiksaan kepada
para korban salah tangkap agar pengakuan yang diinginkan oleh para polisi ini
terucap.
Singkat cerita,
peristiwa salah tangkap dan penyiksaan ini terungkap oleh media, dan dimulailah
perang antara pers dengan polisi. Di saat konflik memuncak, pengusaha diminta
bantuan untuk menjadi penengah antara polisi dengan pers. Namun secara tidak
disangka, para pihak yang awalnya menganggap merekalah aktor utama dalam
konflik ini, harus merelakan nasib mereka ditentukan oleh kekuatan-kekuatan
yang selama ini memperhatikan konflik mereka dari bayang-bayang.
Drama-romansa
selalu memberikan debaran dan kesenangan tertentu saat kita membacanya.
Drama-romansa merupakan tema yang umum, baik dalam literatur maupun dalam layar
kaca. Namun Zaky Yamani tidak membawa drama-romasa dalam Pusaran Amuk dengan
formula populer yang cenderung tidak masuk akal.
Pusaran Amuk
menyediakan drama-romansa yang berproses dari awal hingga akhir. Jalinan
keterikatan batin-seksual yang dialami para tokoh bukanlah jalinan yang
bersifat happily ever after.
Timbul-tenggelam antara kemesraan dan pertengkaran, antara birahi membara
dengan perenungan diri, merupakan jalan yang harus ditempuh para tokoh untuk
menemukan pasangan hidup.
Menarik untuk
dicermati bahwa tema drama-romansa dalam Pusaran Amuk bukan sekedar penghias dan
pemanis jalan cerita. Tema kecil ini merupakan bagian dari keseluruhan cerita,
tak terlepas, dan tidak jarang drama-romansa ini merupakan penghubung antara
konflik yang satu dengan konflik lainnya.
Abu-abu, Membumi dan Menyingkap
Apa yang coba dinarasikan
oleh Zaky Yamani dalam Pusaran Amuk merupakan kejadian yang lumrah terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun berangkat dari pengalaman dan kejadian
sehari-hari, Zaky Yamani membawa hal ini lebih jauh. Zaky berusaha mengusik
zona kenyamanan para pembaca Pusaran Amuk dan memberi sentilan, “apa yang
sebenarnya terjadi mungkin lebih kelam dari penceritaannya”.
Peristiwa salah
tangkap dan perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan polisi bukanlah sekedar
fantasi. Fenomena tersebut nyata, dan mungkin saja Anda yang membaca ulasan ini
pernah mengalami hal-hal tersebut. Namun, bagi kita yang tidak mengalaminya,
kita hanya mengetahui peristiwa tersebut secara kulit luarnya saja.
Dalam Pusaran
Amuk, kita sebagai pembaca diajak layaknya kita berada dalam cerita. Kita
seperti melihat secara langsung bagaimana para korban salah tangkap disiksa
oleh polisi karena menolak memberikan pengakuan yang direkayasa. Kita dipaksa
untuk merasakan dan melihat bagaimana darah bersimbah menyelimuti korban dan
bau amisnya menusuk hidung.
Pusaran Amuk
bukanlah buku penuh pesan moral, tapi merupakan novel yang bertolak dari
kejadian-kejadian sehari-hari dan dapat dijadikan
refleksi oleh para pembacanya. Zaky Yamani menghindari pewatakan yang terlalu
hitam-putih pada para tokoh dalam Pusaran Amuk. Tidak ada tokoh yang
benar-benar bengis, tidak ada pula tokoh sebaik malaikat. Para tokoh dalam
Pusaran Amuk hanya berusaha menjadi manusia, dengan pergulatan kebaikan dan keburukan
dalam diri masing-masing.
Jadi, gimana de?
Masih tertarik membaca Pusaran Amuk? Kalo masih tertarik, tidak apa-apa.
Hitung-hitung pendewasaan diri, toh Pusaran Amuk tidak menggunakan gaya bahasa
yang njelimet.
Oh ya, dalam
Pusaran Amuk pun ada kisah selintas mengenai kehidupan buruh.
Profesi
Terbaik Adalah Yang Banyak Membawa Pengaruh?
Apa senjatamu untuk melawan dunia?
Maksudnya dunia dan realita yang begitu naik turun, membolak balik, membawa
terbang namun kadang menghempaskan seketika. Beberapa kelompok kuat menggunakan
senjata api atau senjata tajam jika maksud tujuannya adalah sebuah perkelahian
fisik, namun dunia lebih pintar daripada adu jotos dua manusia. Kadang senjata
fisikmu tidak berguna, walaupun kebanyakan manusia picik penuh ketakutan
menggunakan senjata dan tenaga melawan sebuah aktivitas. Misalnya mengancam
perpustakaan? Mengancam acara diskusi?
Senjata yang kau punya bisa berupa
keahlian, seperti yang pandai bicara menggunakan suara untuk memersuasi, atau
di sisi lain yang pandai menulis menggunakan tulisannya sebagai bentuk
perlawanan bengis.
Pada akhirnya karena kemampuan tersebut
beberapa profesi terbentuk, selain bermanfaat dan menghasilkan pundi paling
utama adalah berpengaruh. Jadi dapatkah dikatakan bahwa profesi yang paling
disegani adalah yang paling banyak membawa pengaruh? Terutama pengaruh terhadap
manusia lain, terhadap kelompok kolektif?
Penggambaran pernyataan tersebut dapat
dilihat dalam premis awal novel Pusaran Amuk, sebuah pusaran kejadian akar dari
keseluruhan isi novel. Penangkapan tiga orang tersangka oleh polisi, adalah
Jimmy, Doddy dan Mahmud. Jimmy dan Doddy yang berteman baik berada dalam satu
mobil, lalu secara tiba-tiba ketika sedang berkendara, mobil mereka dihentikan
polisi. Tidak seperti penangkapan Josef K dalam novel Proses karya Franz Kafka
yang tanpa alasan jelas. Di novel ini sebab penangkapan diterangkan, yaitu
pelecehan seksual terhadap perempuan, namun yang menjadi permasalahan adalah
Jimmy dan Doddy korban salah tangkap. Di pihak lain Mahmud yang bertemu dengan
Doddy dan Jimmy di dalam penjara juga merupakan korban salah tangkap kasus
pelecehan seksual terhadap perempuan. Ketiganya mendapat perlakuan yang sama,
mereka dipukuli dan dianiaya saat proses interogasi karena pihak kepolisian
terus bersikukuh mengharapkan pengakuan ketiganya. Cerita menjadi lain ketika
polisi menemukan kenyataan bahwa Jimmy adalah seorang wartawan.
Bagaimana Jimmy dan Doddy bisa
ditangkap? Dalam Pusaran Amuk prosesnya digambarkan secara apik nan complicated
: benar ada dua orang pelaku
melakukan pelecehan seksual, benar juga pelaku menggunakan mobil, sialnya mobil
yang sama persis dengan yang digunakan Jimmy dan Doddy. Bagaimana Mahmud bisa ditangkap?
Kasusnya sedikit berbeda
: tidak benar telah terjadi pelecehan seksual, tidak
benar ada pelaku yang melakukannya, yang ada adalah korban “menuduh” Mahmud
melecehkan.
Dari premis awal ini Zaky Yamani sudah mencampurkan gejolak emosi
manusia, keadaan sekitar, kondisi korban, kebetulan-kebetulan yang mendukung
menjadi pencampuran. Membuat sebuah pusaran awal.
Kejadian beringsut menjadi kompleks.
Jimmy manusia yang menggunakan tulisan untuk melawan, profesinya berbahaya,
profesi yang dapat mempengaruhi banyak pihak. Sebenarnya jika ditarik ke
padanan waktu sekarang, di dunia serba cepat dan fenomena viral meluas bak
banjir bandang di kawasan Jakarta (jika mengetik kata kunci “daerah yang sering
terkena banjir” halaman satu dan dua Google membahas kota Jakarta) siapa saja
dapat menggunakan tulisan untuk melawan, di dunia internet siapa saja bisa
menjadi berbahaya.
Lain kisah dengan Mahmud, seorang buruh
miskin yang dituduh melakukan pelecehan seksual di angkutan umum. Pilu
menggelayuti hidup bapak seorang anak ini, profesinya tidak banyak mempengaruhi
banyak kalangan, walaupun tidak dapat dipungkiri barang-barang yang kita
nikmati adalah buah tangan profesi Mahmud. Tapi orang kadang lupa. Mahmud yang
polos dikeroyok, digebuki, berita tentangnya tersebar hingga keluarganya
dirundung malu tak berkesudahan. Semua bermula dari salah persepsi dan asal
menuduh. Mahmud adalah “wayang” Zaky Yamani untuk menunjukkan bahwa betapa
budaya kolektif untuk main hakim sendiri begitu menakutkan dan mengerikan.
Mahmud tak punya senjata melawan kebengisan salah tangkapnya.
Dari
yang awal mulanya salah tangkap, pusaran terus berlanjut menjadi berbagai
kejadian yang saling mengaitkan satu sama lain, bahkan di ranah romansa. Para
pelaku menjalin hubungan dengan lawan jenisnya yang ternyata ikut berperan
dalam pusaran. Bentuk percintaan yang digambarkan pun bukan manis asmara
remaja. Dewasa dan berdasarkan realita.
Zaky Yamani membiarkanmu bertemu banyak
karakter, bertemu banyak kisah yang sekali lagi itulah bagaimana buku dapat
membawamu ke dunianya yang unik. Sang
tokoh buruh tidak terlalu mendapat bagian diakhir kisah, namun keseluruhan
cerita membuat pembaca ikut tergulung gelombang pusaran.
Ulasan oleh Bingah dan Runi Rachmalina
Judul Buku : Pusaran Amuk
Penulis : Zaky Yamani
Penerbit : Gramedia

buku yang sangat keren http://mesinindo.com
ReplyDelete