Liputan Documenta 14 - Kegelisahan Seniman
Mengenal Kassel pada saat perhelatan Documenta merupakan saat yang tepat. Perhelatan seni akbar yang terkenal di kalangannya, terutama di kalangan seniman maupun penikmat seni kontemporer menambah pandangan tentang dunia seni juga semakin melatih empati.
Documenta pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955 atas prakarsa pelukis sekaligus profesor asal Kassel bernama Arnold Bode dengan maksud membuka dialog antara Jerman dan dunia setelah berakhirnya Perang Dunia ke II. Documenta pertama adalah retrospektif karya dari semua aliran seni utama seperti Fauvisme, Ekspresionisme, Kubisme dan Futurisme, adapun seniman yang turut menyumbangkan karya adalah Pablo Picasso, Max Ernst, Hans Arp, Henri Massisse, Wassily Kandinsky dan Henry Moore. Selain itu pada Documenta pertama diperkenalkan juga seniman modern Jerman seperti Klee, Schlemmer dan Beckmann.
5 Tahun kemudian Profesor Bode merencanakan membuat kembali Documenta bersama pemerintah negara bagian Hesse, beliau terus menjadi direktur utama hingga tahun 1972, lalu dimulailah konsep baru manajemen pameran. Juri Internasional mewakili badan Documenta memilih seorang Direktur utama untuk perhelatan 5 tahunan ini. Documenta semakin menjadi tolok ukur seni kontemporer di dunia sekaligus sarana inovatif para seniman berkarya.
Setiap Documenta menarik dengan tema serta isu dunia saat itu. Kassel menjadi kota kecil yang ditanami karya seni kontemporer di setiap sudut. Beberapa karya dapat dilihat di luar ruangan beberapa tidak. Pemerintah kota Kassel bahkan membeli beberapa karya "outdoor" yang banyak memikat pengunjung hingga menjadi simbol kota Kassel, karena setiap tahun setelah Documenta selesai para seniman akan datang untuk melihat kembali karya "lama" mereka, bahkan mungkin membawa pelajar seni untuk berdiskusi.
Jika melihat sisi lain Obelisk akan terbaca sebuah kalimat berbahasa Inggris "I was a stranger and you took me in" yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bangunan ini sebagai simbol bahwa Jerman membuka pintunya untuk pengungsi, di Kassel memang saat ini terlihat multikultural terkait jumlah pengungsi yang terbilang tidak sedikit. Sebuah langkah besar yang diambil Kanzler Angela Merkel saat itu namun dipercaya merupakan langkah yang tepat. Olu Oguibe sendiri merupakan seniman asal Nigeria yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika.
Mill Of Blood adalah sebuah replika Silver Mill pada awal masa kolonial Spanyol di Bolivia. Penggilingan ini membutuhkan keringat, darah para budak suku asli Andes. Kekayaan datang tidak hanya dari bumi namun juga dari nyawa para budak suku asli negara yang dikolonialisasi.
Pada tahun 1952 sebuah kelompok arsitek, seniman dan pujangga menciptakan sebuah sekolah Arsitektur di Valparaiso. Mereka membuat sebuah persatuan antara puisi dan arsitektur, secara berani lalu membuat gebrakan sistem pedagogik baru mencoba membuat pandangan baru tentang Amerika. Tahun 1965 kelompok ini berkeliling kontinen dan membuat sebuah pertunjukkan puisi sambil membuat karya seni. Eksperimen tersebut bernama "Travesia Of Amereida". Tahun 1970 kelompok Amereida menggagas reunifikasi ritual tersebut dan memutuskan untuk memilih tempat di mana kehidupan, tempat belajar dan bekerja dapat dijadikan satu. Tahun 1984 Universitas mengganti kurikulumnya dan "The Travesias" setiap tahun melakukan perjalanan workshop melewati negara negara Amerika Selatan. Mereka pun lalu diundang ke Documenta dengan harapan dunia keindahan arsitektur serta puisi dapat menjadi perbincangan dan memberikan keramahan.
Marta Minujin tak ayal ingin berbicara mengenai kebebasan berbicara, berpendapat tanpa kekangan. Isu ini tetap menjadi sebuah hal yang dielu-elukan bahkan membutuhkan bangunan mega raksasa berisi buku-buku yang dilarang dari seluruh dunia pada jamannya agar isu "kebebasan berpendapat" dilihat sebagai hak asasi. Kegelisahan Marta diperlihatkan melalui bangunan kuil raksasa di tengah kota yang bahkan pembangunannya sampai saat ini masih terus dilakukan selama ada buku terlarang yang bisa dipasang. Jumlah 550.000 buku belum cukup dibanding jumlah sensor pengetahuan yang Marta gelisahkan.
Hiwa K menciptakannya semata mata pengingat akan kesulitan para tuna wisma. Beliau sendiri merupakan pengungsi dari Irak pada saat invasi Amerika-Irak, Hiwa lalu bersekolah seni di Berlin. Setiap pipa dipasangi beberapa instalasi "ruangan". Masing-masing pipa memiliki fungsi ruangannya tersendiri.
Migrasi, Pengungsi dan Documenta 14
Documenta tahun ini merupakan ajang yang ke 14, karya seni sebagian besar sebagai protes serta teriakkan seniman terhadap berbagai isu dunia juga pengingat sejarah-sejarah kelam. Contohnya perbudakkan, genosida, rasismus atau Nazi. Adapun isu terbaru yang disuarakan seputar pengungsi, migrasi, kelaparan dan perubahan lingkungan.
Untuk mendalami Documenta 14 maka sebaiknya membeli tiket masuk yang berlaku tidak hanya untuk satu Gallery melainkan seluruh perhelatan seni di Kassel, tempatnya mancakup Museum maupun Ruang Pameran dengan total sekitar 25 tempat. Harga tiket satu hari 22 Euro, tiket juga memiliki berbagai macam paket seperti tiket 2 hari seharga 38 Euro maupun tiket seharga 100 Euro berlaku selama 100 hari Documenta berlangsung. Selain itu terdapat potongan harga untuk beberapa kalangan seperti pelajar, anak kecil, orang tua di atas 60 tahun, relawan maupun pengungsi.
Pembicaraan mengenai migrasi, pengungsi dan multikultural nampak memiliki porsi yang lebih besar dibanding isu lain. Dapat dikatakan 5 tahun belakangan hal tesebut menjadi arus utama pemberitaan dunia. Walaupun disamping itu isu yang tak habis diperbincangkan seperti politik, ekonomi atau kemiskinan tetap bisa menjadi sorotan. Isu mengenai lingkungan tidak begitu memiliki porsi yang luar biasa, beberapa karya seni yang cukup memenuhi isu lingkungan adalah penemuan sabun ramah lingkungan oleh Otobong Nkanga. Atau protes terhadap ritual kultural pembunuhan besar besaran rusa di Norwegia. Tambahan lain ritual kultural nyeleneh yang diinisiasi artis pornografi yang sekarang menjadi edukator seks serta penggagas Ecosexual, Annie Frinkle. Dia membuat pernikahan-pernikahan terhadap berbagai elemen bumi atas kegelisahannya terhadap perubahan iklim.
Documenta 14 dan Seni Kontemporer Asia Tenggara
Seni kontemporer asal Asia terutama Asia Tenggara kurang terdengar, atau bahkan tidak ada, beberapa karya dari Asia yang menjadi buah bibir adalah film seri karya sutradara Nagisa Oshima berjudul "Dawn Of Asia" yang diputar di salah satu bioskop di Kassel ditambah sesi diskusi setelahnya. Beberapa karya yang menunjukkan sisi ke-"Asia"-an atau isu sosial yang terjadi di Asia kurang begitu memiliki porsi yang signifikan.
Hal tersebut agak sedikit disayangkan padahal salah satu dewan komisi Documenta berasal dari Korea Selatan. Dewan Komisi terpilih adalah orang-orang yang memberikan saran siapa saja seniman yang berhak diundang ke Documenta. Berikut adalah dewan komisi Documenta 14.
Chris Dercon – Direktor der Tate Gallery of Modern Art, London
Suzanne Cotter – Direktorin des Museu de Arte Contemporânea de Serralves, Porto
Joanna Mytkowska – Direktorin des Museum für Moderne Kunst, Warschau
Kim Hong-hee – Direktorin des Seoul Museum of Art, Seoul
Koyo Kouoh – Künstlerische Direktorin der Raw Material Company, Dakar
Susanne Gaensheimer – Direktorin des Museums für Moderne Kunst, Frankfurt/Main
Osvaldo Sánchez – Direktor von inSite05, Mexiko-Stadt
Matthias Mühling – Kurator der Galerie im Lenbachhaus, München
Documenta pertama kali dilaksanakan pada tahun 1955 atas prakarsa pelukis sekaligus profesor asal Kassel bernama Arnold Bode dengan maksud membuka dialog antara Jerman dan dunia setelah berakhirnya Perang Dunia ke II. Documenta pertama adalah retrospektif karya dari semua aliran seni utama seperti Fauvisme, Ekspresionisme, Kubisme dan Futurisme, adapun seniman yang turut menyumbangkan karya adalah Pablo Picasso, Max Ernst, Hans Arp, Henri Massisse, Wassily Kandinsky dan Henry Moore. Selain itu pada Documenta pertama diperkenalkan juga seniman modern Jerman seperti Klee, Schlemmer dan Beckmann.
5 Tahun kemudian Profesor Bode merencanakan membuat kembali Documenta bersama pemerintah negara bagian Hesse, beliau terus menjadi direktur utama hingga tahun 1972, lalu dimulailah konsep baru manajemen pameran. Juri Internasional mewakili badan Documenta memilih seorang Direktur utama untuk perhelatan 5 tahunan ini. Documenta semakin menjadi tolok ukur seni kontemporer di dunia sekaligus sarana inovatif para seniman berkarya.
Setiap Documenta menarik dengan tema serta isu dunia saat itu. Kassel menjadi kota kecil yang ditanami karya seni kontemporer di setiap sudut. Beberapa karya dapat dilihat di luar ruangan beberapa tidak. Pemerintah kota Kassel bahkan membeli beberapa karya "outdoor" yang banyak memikat pengunjung hingga menjadi simbol kota Kassel, karena setiap tahun setelah Documenta selesai para seniman akan datang untuk melihat kembali karya "lama" mereka, bahkan mungkin membawa pelajar seni untuk berdiskusi.
Das Fremdlinge und Flüchtlinge Monument (Obelisk)
Olu Oguibe
Jika melihat sisi lain Obelisk akan terbaca sebuah kalimat berbahasa Inggris "I was a stranger and you took me in" yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bangunan ini sebagai simbol bahwa Jerman membuka pintunya untuk pengungsi, di Kassel memang saat ini terlihat multikultural terkait jumlah pengungsi yang terbilang tidak sedikit. Sebuah langkah besar yang diambil Kanzler Angela Merkel saat itu namun dipercaya merupakan langkah yang tepat. Olu Oguibe sendiri merupakan seniman asal Nigeria yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika.
Mill Of Blood
Antonio Vega Macotela
Mill Of Blood adalah sebuah replika Silver Mill pada awal masa kolonial Spanyol di Bolivia. Penggilingan ini membutuhkan keringat, darah para budak suku asli Andes. Kekayaan datang tidak hanya dari bumi namun juga dari nyawa para budak suku asli negara yang dikolonialisasi.
Bauexperiment
Ciudad Abierta
Pada tahun 1952 sebuah kelompok arsitek, seniman dan pujangga menciptakan sebuah sekolah Arsitektur di Valparaiso. Mereka membuat sebuah persatuan antara puisi dan arsitektur, secara berani lalu membuat gebrakan sistem pedagogik baru mencoba membuat pandangan baru tentang Amerika. Tahun 1965 kelompok ini berkeliling kontinen dan membuat sebuah pertunjukkan puisi sambil membuat karya seni. Eksperimen tersebut bernama "Travesia Of Amereida". Tahun 1970 kelompok Amereida menggagas reunifikasi ritual tersebut dan memutuskan untuk memilih tempat di mana kehidupan, tempat belajar dan bekerja dapat dijadikan satu. Tahun 1984 Universitas mengganti kurikulumnya dan "The Travesias" setiap tahun melakukan perjalanan workshop melewati negara negara Amerika Selatan. Mereka pun lalu diundang ke Documenta dengan harapan dunia keindahan arsitektur serta puisi dapat menjadi perbincangan dan memberikan keramahan.
The Parthenon Of Books
Marta Minujin
Marta Minujin tak ayal ingin berbicara mengenai kebebasan berbicara, berpendapat tanpa kekangan. Isu ini tetap menjadi sebuah hal yang dielu-elukan bahkan membutuhkan bangunan mega raksasa berisi buku-buku yang dilarang dari seluruh dunia pada jamannya agar isu "kebebasan berpendapat" dilihat sebagai hak asasi. Kegelisahan Marta diperlihatkan melalui bangunan kuil raksasa di tengah kota yang bahkan pembangunannya sampai saat ini masih terus dilakukan selama ada buku terlarang yang bisa dipasang. Jumlah 550.000 buku belum cukup dibanding jumlah sensor pengetahuan yang Marta gelisahkan.
Röhren Installation
Hiwa K
Hiwa K menciptakannya semata mata pengingat akan kesulitan para tuna wisma. Beliau sendiri merupakan pengungsi dari Irak pada saat invasi Amerika-Irak, Hiwa lalu bersekolah seni di Berlin. Setiap pipa dipasangi beberapa instalasi "ruangan". Masing-masing pipa memiliki fungsi ruangannya tersendiri.
Migrasi, Pengungsi dan Documenta 14
Documenta tahun ini merupakan ajang yang ke 14, karya seni sebagian besar sebagai protes serta teriakkan seniman terhadap berbagai isu dunia juga pengingat sejarah-sejarah kelam. Contohnya perbudakkan, genosida, rasismus atau Nazi. Adapun isu terbaru yang disuarakan seputar pengungsi, migrasi, kelaparan dan perubahan lingkungan.
Untuk mendalami Documenta 14 maka sebaiknya membeli tiket masuk yang berlaku tidak hanya untuk satu Gallery melainkan seluruh perhelatan seni di Kassel, tempatnya mancakup Museum maupun Ruang Pameran dengan total sekitar 25 tempat. Harga tiket satu hari 22 Euro, tiket juga memiliki berbagai macam paket seperti tiket 2 hari seharga 38 Euro maupun tiket seharga 100 Euro berlaku selama 100 hari Documenta berlangsung. Selain itu terdapat potongan harga untuk beberapa kalangan seperti pelajar, anak kecil, orang tua di atas 60 tahun, relawan maupun pengungsi.
Pembicaraan mengenai migrasi, pengungsi dan multikultural nampak memiliki porsi yang lebih besar dibanding isu lain. Dapat dikatakan 5 tahun belakangan hal tesebut menjadi arus utama pemberitaan dunia. Walaupun disamping itu isu yang tak habis diperbincangkan seperti politik, ekonomi atau kemiskinan tetap bisa menjadi sorotan. Isu mengenai lingkungan tidak begitu memiliki porsi yang luar biasa, beberapa karya seni yang cukup memenuhi isu lingkungan adalah penemuan sabun ramah lingkungan oleh Otobong Nkanga. Atau protes terhadap ritual kultural pembunuhan besar besaran rusa di Norwegia. Tambahan lain ritual kultural nyeleneh yang diinisiasi artis pornografi yang sekarang menjadi edukator seks serta penggagas Ecosexual, Annie Frinkle. Dia membuat pernikahan-pernikahan terhadap berbagai elemen bumi atas kegelisahannya terhadap perubahan iklim.
Documenta 14 dan Seni Kontemporer Asia Tenggara
Seni kontemporer asal Asia terutama Asia Tenggara kurang terdengar, atau bahkan tidak ada, beberapa karya dari Asia yang menjadi buah bibir adalah film seri karya sutradara Nagisa Oshima berjudul "Dawn Of Asia" yang diputar di salah satu bioskop di Kassel ditambah sesi diskusi setelahnya. Beberapa karya yang menunjukkan sisi ke-"Asia"-an atau isu sosial yang terjadi di Asia kurang begitu memiliki porsi yang signifikan.
Hal tersebut agak sedikit disayangkan padahal salah satu dewan komisi Documenta berasal dari Korea Selatan. Dewan Komisi terpilih adalah orang-orang yang memberikan saran siapa saja seniman yang berhak diundang ke Documenta. Berikut adalah dewan komisi Documenta 14.
Chris Dercon – Direktor der Tate Gallery of Modern Art, London
Suzanne Cotter – Direktorin des Museu de Arte Contemporânea de Serralves, Porto
Joanna Mytkowska – Direktorin des Museum für Moderne Kunst, Warschau
Kim Hong-hee – Direktorin des Seoul Museum of Art, Seoul
Koyo Kouoh – Künstlerische Direktorin der Raw Material Company, Dakar
Susanne Gaensheimer – Direktorin des Museums für Moderne Kunst, Frankfurt/Main
Osvaldo Sánchez – Direktor von inSite05, Mexiko-Stadt
Matthias Mühling – Kurator der Galerie im Lenbachhaus, München
Penikmat seni kontemporer dari masyarakat Asia Tenggara tidak bisa dikatakan sedikit, para seniman profesional pun sudah terhitung beberapa sukses secara internasional. Namun jika kiprahnya belum terdengar hingga ke Documenta mungkin perlu didiskusikan lebih lanjut apa yang menjadi penyebabnya. Documenta sendiri bukanlah kegiatan festival seni yang "populer" dalam arus mainstream bisa jadi kegiatan ini masih belum banyak terdengar di kalangan seniman Asia Tenggara. Atau sebenarnya sudah terdengar namun tidak begitu dipedulikan.
Di dalam seni sesungguhnya tidak ada tolok ukur yang pakem akan keindahan atau di ajang internasional mana karya harus terpajang. Namun jika karya seni mampu ditampilkan di sarana yang menarik begitu banyak peminat seni kontemporer maupun turis, serta tempat yang begitu bebas berekspresi bahkan dirayakan. Alangkah lebih beragam jika keeksotisan Asia serta isu yang selama ini "kurang terdengar" di dunia barat dapat tidak hanya membuka mata para pengunjung namun juga menamparnya hingga jatuh.
Sejauh ini seni kontemporer yang ditampilkan para seniman internasional tidak lain adalah teriakkan serta kegelisahan dari masing-masing pengalaman pribadi di negara asal mereka maupun suku bangsa. Disuarakkan dengan lebih elegan atau bahkan lebih bergolak hingga membuat pengunjung tidak nyaman.
Tulisan berdasarkan pengalaman penulis yang menghadiri langsung Documenta 14 di Kassel, Jerman.
Sumber tambahan:
documenta14.de











Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.