Chamonix dan Bagaimana Saya Mengenal Ultra Trail
Hari ke 6 saya harus pulang ke Munich, tapi serupa liburan di kediaman Oma dan Opa di Kassel (liputan Kassel). Chamonix memiliki tempat tersendiri di jiwa saya.
Alpen.
Saya mulai mengurangi travelling yang hanya dua hari jika memerlukan jarak jauh. Minimal 3 hari atau mungkin lebih. Saya ingin lebih intim, lebih bermakna, ingin menjalin persahabatan dengan tempat dan kenangan.
Ada saatnya kita menjalin persahabatan dengan warga sekitar, atau mungkin ada saatnya menjalin persababatan dengan orang yg baru kita kenali, atau ada saatnya diam berjam-jam memperhatikan orang berlalu lalang, atau membaca sejarah dan kisah tempat tersebut, atau belajar hal baru dari komunitas tertentu. Yang penting ada ikatan kenangan tersendiri yang tidak lewat saja. Sehingga perjalanan saya tidak sia-sia, hasil main saya tidak hanya tentang menginjak dan melihat. Tidak hanya tentang "pernah ke sana". Saya belajar.
Puncak tertinggi Chamonix: Mont Blanc, bagai sesosok bijaksana yang kokoh dan kuat. Saya jadi ingat di salah satu hari, saya dan teman duduk di bangku taman samping gereja sambil terus memandangi Alpen. Lalu datang seorang asing mengajak berbincang penuh semangat. Perempuan dari Turki, saat menatap kami memandangi Alpen dia berkata pada kami: "Until now I always mesmerized, is that even real? The Mountain, it's so beautiful, it's like a 3D painting". Kami tentu mengamini, Alpen itu magical. Perempuan Turki ini lalu berbincang dengan kami, mengetahui bahwa teman di samping saya adalah atlit yg akan berlari dia semakin berapi-api. "Do you also a runner? What did you eat guys? What are you thinking?"
Itu pertanyaan yg sama dengan saya. Olahraga berlari sambil mendaki ini terdengar inhuman. Para runner ini bukan manusia.
Jika di Mallorca saya belajar kultur keluarga Jerman saat plesir, di Chamonix saya belajar mengenai olahraga berlari dan mendaki. Mengenai batas limit manusia. Mengenai tantangan, dan ketahanan mental. Mengenai Trail running.
Dunia ini memang besar dan penuh orang "gila", saya tidak pernah tau dua kegiatan menguras tenaga itu disatukan. Mendaki gunung dan berlari maraton. Bahkan beratus-ratus kilometer, berhari-hari.
Di Chamonix saya mendapat kesempatan mengamati. Perayaan besar-besaran para trail runners, dari seluruh dunia. Melakukan race di sekeliling Alpen, Ultra Trail du Mont Blanc. Untuk para trail runners ini seperti "naik haji", salah satu mimpi atlit yang terbaik di negaranya adalah datang ke sini. Berlari mengelilingi sekaligus mendaki Alpen.
Saya mengamati, menjadi sosok anak baru yang datang untuk berlibur, mengikuti kaka sepupu saya yang memang salah satu orang yang pernah berkecimpung di dunia berlari, yg awal mulanya hobi hingga pernah finish berlari trail 6 jam di Rinjani, namun lalu disibukkan dengan sekolah PHd nya hingga beralih ke stand-up paddling. (Dan secara tidak langsung mulai memberi sugesti agar saya mulai berlari dengan meminjamkan berbagai barang sport serta memperkenalkan merek2 sepatu nyaman)
Kami berencana untuk bertemu dan menghabiskan liburan bersama jika suatu hari masing-masing dari kami masih di Eropa. Saya di Jerman, dia di Belanda, lalu Perancis diputuskan menjadi tempat pertemuan.
Hari Kamis malam saya berangkat dari Munich pukul 9 dan tiba pukul 6 pagi di Jenewa, Swiss. Chamonix memang lebih mudah dijangkau melalui Jenewa. Perjalanan 9 jam menggunakan bus tidak selalu nyaman, untung saja badan saya bukan yang sulit untuk tidur. Di manapun jadi asal mengantuk.
Tiba di Jenewa saya berkesempatan melihat sekeliling setelah menaruh luggage kami di loker stasiun kereta. Air mancur Jet D'eau yang terkenal hingga komplek United Nations dengan bangku 3 kakinya yang bermakna untuk melambangkan oposisi terhadap ranjau darat dan bom curah, bertindak sebagai pengingat bagi politisi juga pihak lainnya yang mengunjungi Jenewa. Di bawah kursi raksasa ini juga kerap kali terjadi demonstrasi. Manusia yang menyuarakan aspirasi dan mengaku peduli dengan nasib dunia. Berharap lembaga persatuan negara-negara ini bisa membuka mata dan turun membuat perubahan sambil kontroversi tetap berjalan karena biaya operasional United Nations yg tidak sedikit, ya kembali lagi persoalannya pada uang.
Perjalanan satu hari di Jenewa berlanjut menuju sebuah taman dengan patung Gandhi. Saya mengambil gambar, sambil mengingat film tentang Gandhi. Tentang sosok yang mati ditembak dan membuat saya tetap berpegang teguh pada pasifisme.
Sisa hari kami habiskan di pinggir danau terbesar di Jenewa, memakan makan siang Baguet, plus keju dan buah Nektarinen di atas rumput sambil melihat pemandangan dan bercakap. Lalu kami menyesal tidak membawa pakaian renang karena ternyata ada sisi danau yang bisa direnangi.
Menjelang sore kami berangkat menggunakan Shuttle bus menuju Chamonix (fyi, dibaca Syamonyi).
Chamonix terletak di sisi Tenggara Perancis. Kota yang mengembalikan sisi keren dari negara ini, karena Perancis tidak melulu tentang Paris. Jangan menaruh ekspektasi tinggi terhadap Paris. Sebenarnya kota tersebut spesial, hanya saja kini sudah tak pernah libur dari turis yang datang, mungkin seperti Amsterdam, London atau kota besar lain. Hingga kota-kota ini secara terpaksa harus menjadi sedikit arogan untuk bertahan. Lalu kota-kota ini pasrah akan arus cepat manusia hingga lupa untuk melambat. Tapi memang akan seperti itu.
Chamonix adalah kota kecil yang unik dan indah, suasana pedesaan Perancis bisa dirasakan, ramah tamah warga. Ketika setiap pagi supir bus akan mengucapkan Bonjour, lalu berpapasan dengan orang lain sambil saling melempar senyum. Tak lupa merci dan Au Revoir. Ah memang karakter desa itu selalu rendah hati. Para penduduk Chamonix mungkin selalu merasa diawasi Alpen. Merasa malu untuk meninggi, karena Mont Blanc akan tetap menjadi puncak tertingginya, 4810 m.
Selain trail running dan hiking. Chamonix terkenal karena tempat hiburan ski-nya. Saat winter mungkin suasananya akan 180° berbeda. Lebih indah? Mungkin. Tapi musim panas di kota ini pun sudah luar biasa cantik.
Ketika sampai di terminal bus dan berjalan kurang lebih 3 kilometer menuju Hostel sambil menggendong Carrier yang super berat. Kami sampai di sebuah Hostel. Harap diperhatikan untuk membawa sendiri bed cover dan selimut jika datang. Hostel ini yg termurah di Chamonix dan memang tidak begitu luar biasa. Kebersihan tentu tidak sempurna (namun lebih mending dari Hostel saya ketika di Paris). Jaraknya sekitar 1 km dari pusat kota.
Ultra Trail adalah pertandingan berlari melewati berbagai medan alam yang biasanya pegunungan, bahkan beberapa gurun atau bebatuan. Jaraknya tidak pernah dekat.
Menurut International Trail Running Association:
Trail-running adalah perlombaan pejalan kaki yang terbuka untuk semua orang, di lingkungan alami (gunung, padang pasir, hutan, dataran ...) dengan jalan beraspal atau aspal minimal yang mungkin (yang tidak boleh melebihi 20% dari total jalurnya).
Klasifikasi Trail berlari balapan
Trail: di bawah 42 km
Trail Ultra Medium (L): 42 km sampai 69 km
Trail Ultra Long (L): 70 km sampai 99 km
Trail Ultra XLong (XL): 100 km dan lebih
(1) Pelari akan menerima informasi yang cukup untuk menyelesaikan lomba tanpa tersesat.
Itu termasuk tanda fisik (bendera, kaset, tanda ...) atau tanda permanen GR atau lintasan GPS atau indikasi peta.
(2) Pelari harus secara mandiri mengorganisir antara stasiun bantuan, tentang pakaian, komunikasi, makanan dan minuman.

Klasifikasi Trail berlari balapan
Trail: di bawah 42 km
Trail Ultra Medium (L): 42 km sampai 69 km
Trail Ultra Long (L): 70 km sampai 99 km
Trail Ultra XLong (XL): 100 km dan lebih
(1) Pelari akan menerima informasi yang cukup untuk menyelesaikan lomba tanpa tersesat.
Itu termasuk tanda fisik (bendera, kaset, tanda ...) atau tanda permanen GR atau lintasan GPS atau indikasi peta.
(2) Pelari harus secara mandiri mengorganisir antara stasiun bantuan, tentang pakaian, komunikasi, makanan dan minuman.

Di hari pertama kami datang malam harinya kami membeli 2 pizza untuk dimakan bersama sama. Pizza yang dipanggang fresh dengan harga sekitar 10€ ukuran medium. Betul kawan Perancis tak pernah murah. Bahkan sekali pun di desa.
Saya dikenalkan dengan 6 orang pelari.
Apakah semuanya berlari untuk Ultra Trail du Mont Blanc (selanjutnya UTMB)?
Tidak, karena UTMB memiliki beberapa race lain dalam satu rangkain acara.
Mari kita bicarakan sekilas:
Selain UTMB kualifikasi berlari dibagi lagi menjadi beberapa, berikut daftar nya:
Begitulah, jika ingin menjadi bagian dalam UTMB dua tahun sebelumnya para atlit harus mengejar poin dengan cara ikut berbagai Race lain. Bisa dibilang, atlit yang bergabung dalam perlombaan UTMB bukan sembarangan anak kemarin sore yang ngga pernah olahraga (ya iyalah elaah).
HIking ngos-ngosan ke Le Brévent
- UTMB: Ultra-Trail du Mont-Blanc (166 km +9,600 m)
- CCC: Courmayeur - Champex - Chamonix (101 km +6,100 m)
- TDS: Sur les Traces des Ducs de Savoie (119 km +7,250 m)
- OCC: Orsières - Champex - Chamonix (53 km +3,300 m)
- PTL: La Petite Trotte à Léon (approx. 300 km +28,000 m)
Begitulah, jika ingin menjadi bagian dalam UTMB dua tahun sebelumnya para atlit harus mengejar poin dengan cara ikut berbagai Race lain. Bisa dibilang, atlit yang bergabung dalam perlombaan UTMB bukan sembarangan anak kemarin sore yang ngga pernah olahraga (ya iyalah elaah).
HIking ngos-ngosan ke Le Brévent
Esok hari saya berencana hiking bersama para atlit, mereka mengusulkan untuk mengunjungi puncak La Brévent, saya pun ngikut.
Pagi sudah datang lengkap dengan pakaian olahraga saya yg barang tentu tidak se-serius pakaian-pakaian mereka.
Saya tidak punya sport bra (shame on me), kaos berlari, sepatu trail, atau Vest yang biasa digunakan para pelari atau tempat minum berbahan silikon yang ringan dan bisa dilipat jika kosong. Atau celana compress yang nyaman atau kaos kaki khusus untuk pelari yang tidak murah. (Barang-barang sport dengan kualitas bagus sedikit demi sedikit saya tau akibat dari mengobrol dengan atlit-atlit ini serta cuci mata di berbagai toko sport di Chamonix)
Saya hanya berbekal mental turis.
Alhasil 3 kali mata saya berkunang-kunang saat mendaki. Saya tidak sarapan dengan baik, terakhir saya mendaki gunung juga sudah tidak ingat lagi. Kami sudah mendaki gunung selama kurang lebih 45 menit lalu atlit2 ini menyusul dari bawah dengan mudahnya. Perjalanan menuju Le Brévent bersama saya untuk mereka mungkin benar2 seperti rekreasi karena kecepatan mendaki saya yang rata-rata manusia yang olahraga seperlunya.
Tapi mereka sungguh luar biasa baik, tetap berjalan di belakang saya dan bersedia untuk berhenti seraya beristirahat.
Pendakian ini sampai pada sekelebat penyesalan saya kenapa harus ikut hiking ini, sambil terus melihat ke puncak yang jauh, dengan tanjakan yg tak habis habis.
Itu mungkin salah satu pergulatan mental dari trail running. Lelah+tanjakan+puncak yg tak kunjung sampai+berlari mengejar waktu. Dikali 980 kali lipat.
Tak heran, ada beberapa runners yang trauma akan gunung. Melihatnya memuakkan lalu menyerah.
Ketika sampai di puncak pemandangannya luar biasa indah, terbayar sudah berpeluh, berkunang-kunang, napas terengah, serta pergulatan batin yang rasanya ingin menyerah.
Di puncak kami menikmati Sandwich dan saya memesan secangkir kopi. Saya dan beberapa atlit perempuan mencari jalan turun yang lebih landai agar tidak securam jalur pendakian. Saya pikir tidak apa lebih jauh, bisa sambil melihat pemandangan.
Tentu perjalanan pulang juga ajaib, jalur yg kami tempuh merupakan jalur ski saat musim dingin..
Hari - Hari Berikutnya
Saya menaiki kereta ke desa terdekat dari Chamonix, hampir semua kawasan bermain ski atau hiking.
Saya, kaka sepupu dan salah satu atlit bertandang ke desa terjauh yakni Vallorchine. Kami membawa bekal Baguet dan keju. Berjalan di pelataran hijau berbukit. Saat menemukan suara gemericik selokan kecil kami memutuskan untuk memakan bekal disitu.
Vallorchine
Beralaskan selimut saya makan dan mendengar kesunyian. Saya terus mengucap di kepala bahwa saya tidak akan pernah lupa apa yang disuguhkan Chamonix dan pegunungan Alpen.
Di kota Chamonix hampir setiap hari saya mencoba berbagai rasa es krim sambil memikirkan apa yang akan saya lakukan esok hari.
Sore hari kami pun mengantar tim PTL (La Petite Trotte à Léon, approx. 300 km +28,000 m) untuk mengambil BIB mereka.
Apa itu BIB?
Kertas yang dicantumkan di kaos pelari. Pada Bib umumnya tertera nomor pelari, nama pelari, timing chip untuk merekam waktu yang dihabiskan pelari dari garis start sampai garis finish, dan identitas kontak darurat.
Hari setelah piknik saya dan kaka sepupu kembali menaiki kereta. Kali ini ke stasiun terjauh arah sebaliknya dari Vallorchine, yakni Servoz. Konon ada danau indah yang sayangnya tak bisa direnangi.
Tentu jika boleh direnangi maka danaunya tak akan sejernih itu.
Sebelum menuju danau kami sempat mendatangi sebuah benteng kecil jaman perang yang ternyata dipakai untuk memuja roh dan ilmu hitam. Tapi ntah kenapa di Eropa ini saya tak merasakan keseraman jika dibanding Budaya Urban di tanah kelahiran.
Saya mewanti-wanti sejak awal tidak ingin hiking dengan tanjakan cihuy semacam Le Brevent lagi, memang tak ada tapi tetap saja menanjak. Di perjalanan menuju danau jernih Lac Vert kami beberapa kali melewati bukit kosong tempat para sapi asik-asikan.
Sampai ke danau memang sungguh jernih, andai saya pengambil gambar profesional dengan kamera bagus maka kejernihannya akan terekam dengan baik, apa daya selama ini hanya berbekal Smartphone yang sudah tahunan menemani.
Beberapa keluarga datang menggunakan mobil. (Ternyata ada akses parkir). Saya pikir danau ini semacam danau perawan yang sulit dijangkau, tidak kawan. Kami makan siang di pinggir danau sambil banyak mengambil gambar.
Hari itu saya pulang dari Servoz ditemani hujan rintik kecil, sore hari saya mengantar tim PTL yang berangkat. Ternyata menonton Start dari sebuah perlombaan lari international menimbulkan atmosfer yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sebagai anak yang sama sekali tidak memiliki nasionalisme tinggi, melihat para atlit ini berusaha agar dapat berlari bersama para atlit Internasional lain entah kenapa membuat keharuan tersendiri. Karena sedikit banyak saya melihat bagaimana sulitnya meraih mimpi dan merasakan energi usaha dari setiap grup menimbulkan secercah getaran semangat kehidupan. (ceileh)
Saya memperpanjang liburan di Chamonix selama satu hari. Hari berikutnya atlit lain dari Indonesia mulai berdatangan selain dari 6 orang yang pertama saya kenal. Apartemen kami dipenuhi para perantau yang memiliki mimpi-mimpi masing-masing dan tujuan tersendiri mengapa ikut berlari.
Kami makan dan mengobrol bersama (Saya bahkan dapat bekal sambal serta rendang untuk dibawa pulang ke Munich).
Yang saya tangkap dari Ultra Trail maupun olahraga berlari jarak panjang lain adalah setiap atlit sebenarnya bertanding dengan dirinya sendiri, semakin banyak perlombaan yang diikuti, pelari akan semakin mengenal kemampuannya. Jika pertandingan lain terlihat nampak begitu melawan orang lain, berlari sebaliknya. Sesama pelari akan saling membantu menyemangati, memberi masukan, mungkin beberapa tips karena untuk mencapai finish ketahanan, hasil latihan, persiapan matang, juga pergulatan mental dan fisik masing-masing individu lah yang hanya bisa menjadi acuan.
Berlari jarak panjang (seperti ultra trail atau ultra maraton) adalah olahraga yang tidak bisa dilakukan secara mendadak, individu haruslah mulai dengan jarak pendek lalu menambah jarak sedikit demi sedikit seiring kemampuan fisik dan mental yang terus meningkat. Selain itu dalam Ultra Trail pelari juga akan disuguhi alam yang indah maupun menantang. Satu sisi pelari dapat melihat pemandangan, mensyukuri pemberian semesta tapi di sisi lain alam bisa begitu kejam dengan hujan badainya, dingin menusuk tulang, panas terik yang tiba-tiba datang atau kesunyian berkepanjangan.
Sedikit banyak saya mencoba mengerti jika seseorang sudah mulai berlari dan jiwanya jatuh pada lari dia tidak akan berhenti. Sebagian bahkan mungkin merasa bahwa ketika berlari dia mengalami dialog dengan jiwa kecilnya, haruskah berhenti atau haruskah lanjut, seseorang juga akan begitu mengerti kemampuan fisik - mentalnya.
Saya jadi teringat bagaimana Haruki Murakami terus berlari hingga saat ini karena dia berkata ketika berlari ide mengenai novelnya kadang muncul, atau ada sebuah momen di mana "temboknya" runtuh dan bermunculan pemikiran. Atau dia menggambarkan bagaimana perasaan kilas balik perjalanannya ketika hampir menyelesaikan 62 miles Ultra Maraton.
Para pelari yang mencapai finish mengerti hal tersebut, Haruki Murakami pun.
Dan saya tidak...












Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.