Jalan Kawan Akhir Tahun
Selain bermain ski, cita cita berlibur di saat Winter adalah menyaksikan aurora.
Untuk hal tersebut, jika kamu berselancar di mesin pencari dunia maya maka tempat-tempat yg direkomendasikan antara lain Islandia, Tromsø di Norwegia, atau Kanada dan tentu Alaska, ah satu lagi Greenland. Negara-negara tersebut menarik, sangat.
Mahal, WOIYA.
Saya kira tabungan hasil uang saku relawan saya akan cukup mendatangi kota-kota di mana saya bisa melihat aurora. Ternyata tidak kawan, butuh persiapan banyak dan uang yang melimpah untuk datang ke sana.
Apalagi Tromsø, kota terujung di Norway yang memang terkenal dengan Aurora Tripnya, tak punya akses darat menuju kesana. Traveller harus menggunakan pesawat. Ja, toll.
Akhirnya apa yang terjadi, ganti haluan kapten!
Saya tak punya Bucket List negara yang "harus" saya datangi semenjak saya belajar mengenai "jalan jalan tak hanya jalan". Liburan Winter ini juga bertepatan dengan Tahun Baru. Saya ingin yang beda, yang selama ini tak terpikir, tanpa ekspektasi macam-macam dan tak mahal.
Lalu tercetus lah satu negara: PORTUGAL
Saya berencana berlibur dengan kawan dekat di Munich, karena penasaran apa yang akan terjadi jika kami liburan bersama (selain koper saya yang dicuri di bus). #oops 2018 tak perlu lagi dibahas. Hahaha
Teman seperjalanan saya ini track record travellingnya sudah kemana mana. Dia kebalikan dari saya yang tak suka berpindah pindah kota dengan cepat (pernah saya alami satu kali di Eropa winter 2016 dan kekayaan pengalaman rekreasinya tak begitu magic). Begitulah, kawan saya ini hobinya traveling cepat pindah kota. Kebiasaannya ambil libur 1 Minggu lalu menclok-menclok kemana mana.
Saya lalu wanti-wanti, liburan winter kita nanti minimal 3 hari lah kita explore tempat. Dan kami berhasil.
Dengan tiket membooking dari expedia.de yang sudah paket komplit Hotel bintang 4 plus sarapan + Tiket Pesawat bulak balik. Berangkat!
Soal Hotel bintang 4 harus diklarifikasi, saya dan kawan bukan anak traveling Hotel. Tapi kami sama-sama penasaran gimana pengalaman rekreasi di Eropa ala ala sosialita. Yang tak perlu berbagi kamar mandi di Hostel, membawa-bawa bed cover sendiri, atau chat sana sini cari Couch Surfing, atau tidur di atas sofa, di sleeping bag, lalu sibuk mencari sarapan pagi, kadang menyeduh Popmie (iya semacam Popmie ada juga di Jerman). Bukan karena hal-hal tersebut tidak menyenangkan, justru seru, apalagi kumpul di dapur, masak juga makan malam bareng penghuni Hostel lain, menghabiskan malam berbincang hingga lelah, seperti ketika saya solo trip ke Praha. Hanya saja, sekali kali rasanya ingin liburan yang benar-benar bebas lelah, kasur empuk, kamar mandi bersih, sarapan melimpah.
Memberi hadiah pada badan dan jiwa ya butuh juga.
Ternyata nyaman Hotel Bintang 4 :)))))) (uang kadang tak berbohong #kenyataanpahit)
Soal pesawat, Portugal dan Jerman itu jaraknya 2.397 km mirip-mirip lah sama Bandung - Aceh 2.424 km, menggunakan jalan darat membutuhkan sekitar 24 jam dari Jerman menuju Portugal (belum ditambah transit kalau ada) ya dengan jarak lebih dikit tapi Bandung - Aceh butuh waktu sekitar 56 jam.
(Sengaja catat perbandingan jarak di Eropah sama Indonesah soalnya biar lebih ngeh kalau sesungguhnya jarak antar kota di Eropah tak "sedekat" kelihatannya)
Ya silakan jika ingin menggunakan jalan darat dengan harga tiket yang sama mahalnya dengan menggunakan pesawat atau sekiranya lebih murah, perbedaannya tak jauh.
Pesawat kami berangkat dari Hahn Frankfurt Airport, jaraknya masih sekitar satu setengah jam dari Frankfurt International Airport, saya harus membeli tiket bus tambahan untuk bisa ke sana. Kalau ada yang tertarik nama perusahaannya Flicbo. Kalau dibaca dari servicenya, mereka juga menyediakan jasa transport Bandara-Hotel begitu pun sebaliknya.
Berburu tiket pesawat selesai, berburu tiket bus juga harus berpintar-pintar, saya membeli tiket transit satu hari sebelumnya ke Heidelberg karena harga tiket yang lebih murah dibanding Munich-Frankfurt, sekaligus saya ingin mengunjungi kota yang terkenal pada jaman perkuliahan dulu (Bahkan ini kota lebih menjadi buah bibir gosip dibanding Berlin sang ibukota). Singkat cerita saya sempat mengunjungi Heidelberg (tempat Koper saya dicuri) dan bahkan sempat trip satu hari ke Strasbourg yang cantik.
Heidelberg dan Strasbourg
Heidelberg ini kota kecil yang tua tempat para pelajar, mungkin karena Universitas Ruprecht Karl Heidelberg yang kualitasnya diidamkan. Ekspektasi saya kota ini akan dipenuhi ke-khasan kota Tua dengan jalanan berbatu yang tak rata (Lisabon ternyata lebih tua), di sisi lain daerah "perkotaan" nya juga ada. Bahkan Stasiun Utama Heidelberg ada di daerah "modern". Roomate saya pernah mengunjungi Heidelberg dan dia berasal dari kota kecil di Jerman (kurang lebih dekat perbatasan Swiss - Jerman), menurutnya di Heidelberg banyak sekali orang Asia, keadaannya mungkin mirip semacam kawasan Kastil Neuschwanstein di Bayern (ketika Winter 2016 saya ke sana memang tempat itu dipenuhi turis Asia). Saya terpaksa harus setuju, Heidelberg penuh pendatang Asia :)))
Kami berjalan-jalan sambil berbincang menyusuri Philosophenweg, semacam jalan kecil di sisi sebrang sungai Neckar, jalan ini dinamai "jalan filosofi" karena dulu banyak pelajar yang datang ke sini mencari inspirasi atau sekedar melepas kepenatan perkuliahan, memang dari sini pemandangan kota Heidelberg dan Kastil terlihat. Akan begitu menenangkan datang ke atas bukit Philosophenweg sambil membaca buku dan memandangi sungai juga kastil.
Dari Philosophenweg kami menyusuri lorong-lorong kecil dan berakhir di Altstadt (Kota Tua), dari situ kami melihat-lihat kawasan kota Tua Heidelberg yang masih ada jejak-jejak dekorasi natal.
Perjalan Heidelberg berakhir di sebuah kedai kopi yang hangat dan harum semerbak ketika kami membuka pintu kedai, dari keharuman kopinya membuat saya bersikukuh untuk kami tetap disitu dan berhangat-hangat.

Di samping sungai Neckar juga jembatan tua (Altebrücke)
Untuk hal tersebut, jika kamu berselancar di mesin pencari dunia maya maka tempat-tempat yg direkomendasikan antara lain Islandia, Tromsø di Norwegia, atau Kanada dan tentu Alaska, ah satu lagi Greenland. Negara-negara tersebut menarik, sangat.
Mahal, WOIYA.
Saya kira tabungan hasil uang saku relawan saya akan cukup mendatangi kota-kota di mana saya bisa melihat aurora. Ternyata tidak kawan, butuh persiapan banyak dan uang yang melimpah untuk datang ke sana.
Apalagi Tromsø, kota terujung di Norway yang memang terkenal dengan Aurora Tripnya, tak punya akses darat menuju kesana. Traveller harus menggunakan pesawat. Ja, toll.
Akhirnya apa yang terjadi, ganti haluan kapten!
Saya tak punya Bucket List negara yang "harus" saya datangi semenjak saya belajar mengenai "jalan jalan tak hanya jalan". Liburan Winter ini juga bertepatan dengan Tahun Baru. Saya ingin yang beda, yang selama ini tak terpikir, tanpa ekspektasi macam-macam dan tak mahal.
Lalu tercetus lah satu negara: PORTUGAL
Saya berencana berlibur dengan kawan dekat di Munich, karena penasaran apa yang akan terjadi jika kami liburan bersama (selain koper saya yang dicuri di bus). #oops 2018 tak perlu lagi dibahas. Hahaha
Teman seperjalanan saya ini track record travellingnya sudah kemana mana. Dia kebalikan dari saya yang tak suka berpindah pindah kota dengan cepat (pernah saya alami satu kali di Eropa winter 2016 dan kekayaan pengalaman rekreasinya tak begitu magic). Begitulah, kawan saya ini hobinya traveling cepat pindah kota. Kebiasaannya ambil libur 1 Minggu lalu menclok-menclok kemana mana.
Saya lalu wanti-wanti, liburan winter kita nanti minimal 3 hari lah kita explore tempat. Dan kami berhasil.
Dengan tiket membooking dari expedia.de yang sudah paket komplit Hotel bintang 4 plus sarapan + Tiket Pesawat bulak balik. Berangkat!
Soal Hotel bintang 4 harus diklarifikasi, saya dan kawan bukan anak traveling Hotel. Tapi kami sama-sama penasaran gimana pengalaman rekreasi di Eropa ala ala sosialita. Yang tak perlu berbagi kamar mandi di Hostel, membawa-bawa bed cover sendiri, atau chat sana sini cari Couch Surfing, atau tidur di atas sofa, di sleeping bag, lalu sibuk mencari sarapan pagi, kadang menyeduh Popmie (iya semacam Popmie ada juga di Jerman). Bukan karena hal-hal tersebut tidak menyenangkan, justru seru, apalagi kumpul di dapur, masak juga makan malam bareng penghuni Hostel lain, menghabiskan malam berbincang hingga lelah, seperti ketika saya solo trip ke Praha. Hanya saja, sekali kali rasanya ingin liburan yang benar-benar bebas lelah, kasur empuk, kamar mandi bersih, sarapan melimpah.
Memberi hadiah pada badan dan jiwa ya butuh juga.
Ternyata nyaman Hotel Bintang 4 :)))))) (uang kadang tak berbohong #kenyataanpahit)
Soal pesawat, Portugal dan Jerman itu jaraknya 2.397 km mirip-mirip lah sama Bandung - Aceh 2.424 km, menggunakan jalan darat membutuhkan sekitar 24 jam dari Jerman menuju Portugal (belum ditambah transit kalau ada) ya dengan jarak lebih dikit tapi Bandung - Aceh butuh waktu sekitar 56 jam.
(Sengaja catat perbandingan jarak di Eropah sama Indonesah soalnya biar lebih ngeh kalau sesungguhnya jarak antar kota di Eropah tak "sedekat" kelihatannya)
Ya silakan jika ingin menggunakan jalan darat dengan harga tiket yang sama mahalnya dengan menggunakan pesawat atau sekiranya lebih murah, perbedaannya tak jauh.
Pesawat kami berangkat dari Hahn Frankfurt Airport, jaraknya masih sekitar satu setengah jam dari Frankfurt International Airport, saya harus membeli tiket bus tambahan untuk bisa ke sana. Kalau ada yang tertarik nama perusahaannya Flicbo. Kalau dibaca dari servicenya, mereka juga menyediakan jasa transport Bandara-Hotel begitu pun sebaliknya.
Berburu tiket pesawat selesai, berburu tiket bus juga harus berpintar-pintar, saya membeli tiket transit satu hari sebelumnya ke Heidelberg karena harga tiket yang lebih murah dibanding Munich-Frankfurt, sekaligus saya ingin mengunjungi kota yang terkenal pada jaman perkuliahan dulu (Bahkan ini kota lebih menjadi buah bibir gosip dibanding Berlin sang ibukota). Singkat cerita saya sempat mengunjungi Heidelberg (tempat Koper saya dicuri) dan bahkan sempat trip satu hari ke Strasbourg yang cantik.
Foto Album Pop Sunda
Heidelberg ini kota kecil yang tua tempat para pelajar, mungkin karena Universitas Ruprecht Karl Heidelberg yang kualitasnya diidamkan. Ekspektasi saya kota ini akan dipenuhi ke-khasan kota Tua dengan jalanan berbatu yang tak rata (Lisabon ternyata lebih tua), di sisi lain daerah "perkotaan" nya juga ada. Bahkan Stasiun Utama Heidelberg ada di daerah "modern". Roomate saya pernah mengunjungi Heidelberg dan dia berasal dari kota kecil di Jerman (kurang lebih dekat perbatasan Swiss - Jerman), menurutnya di Heidelberg banyak sekali orang Asia, keadaannya mungkin mirip semacam kawasan Kastil Neuschwanstein di Bayern (ketika Winter 2016 saya ke sana memang tempat itu dipenuhi turis Asia). Saya terpaksa harus setuju, Heidelberg penuh pendatang Asia :)))
Kami berjalan-jalan sambil berbincang menyusuri Philosophenweg, semacam jalan kecil di sisi sebrang sungai Neckar, jalan ini dinamai "jalan filosofi" karena dulu banyak pelajar yang datang ke sini mencari inspirasi atau sekedar melepas kepenatan perkuliahan, memang dari sini pemandangan kota Heidelberg dan Kastil terlihat. Akan begitu menenangkan datang ke atas bukit Philosophenweg sambil membaca buku dan memandangi sungai juga kastil.
Dari Philosophenweg kami menyusuri lorong-lorong kecil dan berakhir di Altstadt (Kota Tua), dari situ kami melihat-lihat kawasan kota Tua Heidelberg yang masih ada jejak-jejak dekorasi natal.
Perjalan Heidelberg berakhir di sebuah kedai kopi yang hangat dan harum semerbak ketika kami membuka pintu kedai, dari keharuman kopinya membuat saya bersikukuh untuk kami tetap disitu dan berhangat-hangat.
Pemandangan di atas diambil dari Philosophenweg
Lorong menuju Altstadt
Kedai kopi gembira ria
Penampakan kedai dari luar
Malam hari di kosan kawan saya, kami membuat sebuah keputusan super instant untuk esoknya mengunjungi Strasbourg, sebuah kota kecil di Perancis dekat dengan perbatasan Jerman. Teman saya akhirnya menghubungi temannya dan berharap bisa sedikit menunjukkan bagaimana Strasbourg.
Kami menggunakan tiket Baden Württemberg lalu di lanjutkan sebuah tiket khusus menuju Strasbourg dari stasiun Kehl (di mana kami sempat-sempatnya berfoto karena menunggu kereta cukup lama). Yang ingin menyebrang melewati sungai Rhine menuju Perancis dari Jerman jangan lupa membeli tiket Europass-Mini, yang lebih murah jika rame-an.
Strasbourg adalah kota yang bergitu "campur" nampaknya hampir semua kewarganegaraan ada disini, (mungkin untuk yang gembar gembor ngga enaknya jadi minoritas bisa tinggal di Strasbourg) karena di sana minoritas adalah mayoritas? Nah loh gimana.
Tapi saya jarang merasa jadi minoritas di Jerman, dan saya juga tidak merasa jadi mayoritas waktu di Bandung. Karena untuk ber-empati terhadap orang lain tak perlu lah itu "playing victim" merasa kerdil karena menjadi minoritas, atau merasakan kekuatan superior karena bagian dari mayoritas.
Eh tapi selain warganya yang multikulti Strasbourg ini memang aduhai cantiknya, pemerintah Strasbourg bahkan begitu niat mendekorasi kota kecil ini dengan berbagai hiasan natal atau musim dingin. Kota tua Strasbourg dipenuhi lorong-lorong kecil dengan bangunan-bangunan unik. Juga bangunan tua khas yang menjadi inspirasi sebuah tempat wisata di Lembang bernama Farm H***e. (Hell yeah I've got to see the real one) #suombongamat
Saking cantik dan berharganya, UNESCO menobatkan kota tua sejarah Strasbourg menjadi warisan sejarah dunia yang harus dilestarikan. Menurut kawan kami yang tinggal dan bersekolah jurusan Aerospace Engineering (sempet cerita juga dia baru pulang ke rumah dari Lab atau Kampus kalau diusir satpam saking belajar atau nugas mulu). #HIDUPMAHASISWA.
Strasbourg lebih indah dinikmati malam hari, dengan cahaya-cahaya lampu yang sedemikian rupa. Ah siang saja ku sudah suka.
Tak kalah unik adalah lift sungai, kurang lebih begini, Strasbourg dikelilingi sungai Rhine, lalu di tengah kota ada sungai yang lebih tinggi dari yang lain, intinya perahu yang lewat akan diturunkan maupun dinaikkan menggunakan lift air ini. Mind blow! (dulu cuma baca lewat National Geographic atau liputan di Majalah)
Kami sempat makan makanan khas Strasbourg, sejenis Pizza tipis atau lebih seperti Pancake tipis asin. Sambil berbincang mengenai Strasbourg yang pada jaman perang menjadi bagian dari Perancis lalu diambil Jerman lalu kembali menjadi bagian Perancis.
Sudah selesai di Strasbourg dengan penutup drama pengembalian makanan yang tertinggal di ransel salah satu kawan.
Besok saatnya terbang ke Portugal (perlu di tekankan, malam hari setelah pulang dari Stasbourg koper saya dicuri, alhasil saya terbang ke Portugal berbekal satu-satunya baju yang saya pakai, seru bukan -___-'') ya dan tidak...
Strasbourg
Bersambung...
ke




Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.