Ano Novo di Portugal
Perbedaan mendasar mengenai sebuah perjalanan di Eropa dan di tanah air adalah di sini, kamu akan mengagumi bagaimana peradaban manusia di setiap masing-masing fase kehidupan. Bagaimana masyarakat yang tinggal di suatu kota membangun gedung, jalan dengan berbagai sisi sejarah yang mau tidak mau akan kamu ketahui.
Portugal adalah pelajaran mengenai hal tersebut. Mengunjungi kota tertua kedua di dunia, Lisabon. Walaupun sudah tentu,dari semua peradaban Eropa, Yunani tetaplah yang tertua, namun Portugal sendiri memiliki sisi yang hingga saat ini menjadi negara pencampuran antara gedung peradaban tua dengan modernitas. Tentang gerbang ukiran di Stasiun Metro Rossio dengan estetika luar biasa yang ditujukkan khusus untuk Raja Marques de Pombal, konon sang Raja pergi berperang di Afrika Utara saat musim panas dan mayatnya tak pernah ditemukan, warga Portugal meyakini bahwa sang Raja suatu hari nanti akan pulang maka dibangunlah gerbang indah di stasiun kereta yang saat ini menjadi pintu gerbang menuju Sintra (salah satu daerah di selatan Portugal).
Berbicara mengenai kejayaan Portugal maka tak akan bisa lepas dari Viriato dan Nuno Alvares Pereira. Viriato adalah seorang Lusitaner yang berperang atas nama Portugal untuk melawan Roma hingga akhirnya Portugal menang, fyi dahulu Lusitania adalah bagian dari kerajaan Romawi. Lalu Nuno Pereira sendiri adalah panglima perang Portugal yang memenangkan perang dalam waktu singkat karena strategi perang menggali tanah dan menutupnya sebagai kamuflase.
Sejarah sebelum masa diktator Portugal kurang lebih terpusat pada empat orang tersebut. Maka dari itu Monumen maupun Patung-Patung mereka dapat terlihat di sedikit banyak sisi kota Lisabon.
Liburan Yang Murah Tapi Mahal
Harga yang dijadikan patokan tentu saja kota tempat tinggal super mahal Munich a.k.a MΓΌnchen. Yang mahalnya biasa dibandingkan dengan Paris atau negara Perancis lain, sama-sama mahal. Atau kota-kota sekitar di Swiss dan Austria seperti Salzburg atau Jenewa, mahal juga.
Tapi Portugal ini tidak kawan, makan Kebab plus kentang dan minum bisa hanya 3 Euro saja, atau memakan satu porsi Churrasquinho, makanan khas Portugal dengan porsi banyak dipadu rasa mediterania. Dengan harga sekitar 5 Euro lidah yang merindukan rempah sedikit terobati. Untuk sarapan, alangkah cermat jika memesan sarapan yang sudah satu paket di Hotel. Kadang sarapan prasmanan yang melimpah kami bekal untuk dijadikan makan siang di Terreiro de Paco.
Harga transportasinya terbilang relatif, tergantung sejauh mana tempat menginap dari pusat kota. Hotel kami di Santa Iria, bisa dikatakan daerah pinggir kota Lisabon. Maka tiket transportasi yang efektif untuk kami adalah dengan sistem Zapping saldo, tapping setiap memasukki stasiun, mirip seperti di Paris atau mungkin untuk gambaran lebih lumrah, seperti di Singapura (mengingat patokan Metro / LRT/ MRT dari Asia Tenggara ya biasanya negara tersebut). Isi kartu Tap juga seperti saldo, yang bisa diisi 3-40 Euro, tergantung kebutuhan. Setiap Tap harga yang harus dibayar untuk menaiki Metro 1,31 Euro dan menaiki Kereta sekitar 2 Euro.
Yang menjadi mahal adalah ketika kami ingin membayar pengalaman-pengalaman yang lebih, contohnya mencoba Sea Food paling terkenal di Lisabon, yang dikelola oleh dua orang asli Portugal tak bisa berbahasa Inggris dengan Restoran yang hanya cukup untuk sekitar 20 orang saja.
Restoran baru buka sekitar jam 7 malam, dan kami sudah nongkrong untuk mengantri dari pukul 6, tepat di depan pintu. Lalu menjelang pukul 7 antrian semakin panjang. Ketika pintu Restoran dibuka sang empunya membatasi pelanggan yang datang, jika seluruh meja sudah terisi maka mereka akan menghentikan antrian yang masuk bahkan beberapa mereka suruh pulang. Sebenarnya Restoran ini menerima reservasi lewat telfon tapi tentu saja orang berbahasa Portugal yang hanya bisa melakukan ini.
Penampilan Seafood terbilang bukan penampilan ala Resto Bintang Lima, lebih seperti Seafood kaki lima. Rasanya lumayan mengobati rindu Seafood di tenda -tenda pinggir jalan di Bandung.
Kemahalan lain adalah masih tentang makanan, ketika malam tahun baru kami ingin makan di dekat Terreiro de Paco karena disitulah kembang api berasal. Namun tentu, restoran di dekat lingkungan ini memanfaatkan momen tersebut dengan bermahal-mahal ria. Kami makan di jalanan-jalanan berbatu tua Portugal di dekat Terreiro de Paco, makanan yang dipesan dua nasi goreng porsi besar yang kami bagi bertiga. Harganya selangit, seketika kami merindukan nasi goreng jibot tengah malam. (Nasi goreng jibot adalah nasi goreng tengah malam di Bandung)
Atau pengalaman mengenai ketidak jelasan nasib pulang setelah malam tahun baru karena Metro tidak beroperasi pada pukul 3 pagi, kami menunggu bus di sebuah Halte berharap ada Bus Malam seperti di Jerman (terlalu polos), bus tak datang selama hampir dua jam di tengah malam yang dinginnya mulai menusuk. Hingga sudah tak tahan lagi lebih baik menunggu di stasiun Metro menghindari angin, ternyata Metro beroperasi secara spesial untuk para penikmat tahun baru kala itu. Hanya saja stasiun terakhir Oriente, dari situ kami harus naik taksi pulang yang mahal.
Santa Iria dan Samudera
Hotel tempat kami menginap terletak di Santa Iria, satu daerah di pinggir kota yang dekat Samudera. Kami tak pernah tahu ternyata stasiun di dekat Santa Iria, antara lain Gare de Oriente adalah stasiun yang artistik. Stasiun ini terletak tepat di Parque das Nacoes, tempat dengan arsitektur modern di Lisabon, isinya adalah pusat perbelanjaan lalu taman-taman tematik modern. Di taman ini juga terpampang Flags of Nation dari berbagai negara di dunia yang suka tidak suka bendera Indonesia tidak ada. Kami lalu menyusuri jalan setapak di pinggir Samudera sambil membicarakan mengapa bendera Indonesia tidak diterbangkan.
Keterbatasan ilmu sejarah dunia tentang Flags Of Nation di daerah Oriente membawa pada kebuntuan. Pada kenyataannya bendera Indonesia tetap tidak di terbangkan di tiang-tiang. Namun menyusuri Samudera di Santa Iria seperti menyusuri daerah Suburban yang tak begitu "touristy" seperti pantai Belem.
Kawasan pinggir Samudera yang terkenal selain daerah Oriente adalah Belem. Tempat di mana Padrao des Descobrimentos berdiri, sebuah monumen ikonik Portugal untuk meningkatkan kepercayaan diri nasional, sambil menghormati para penjelajah asal Portugis yang hebat. Di sisi barat monumen adalah penggambaran para penjelajah, sedangkan di sisi timur adalah pemodal utama, dengan kedua belah pihak mendukung patung Infante D. Henrique, penghasut utama dari abad ke-15 "Golden Age of Discovery" di Portugal. Monumen ini dirancang dengan cerdik sehingga memberikan tampilan haluan kapal yang menghadap ke muara, dengan bagian belakang mewakili Salib Latin.
Saat itu musim dingin di Belem tapi manusia-manusia di pantai Belem menikmati matahari terbenam sambil menikmati sejuknya udara. Kami bertiga berjalan dari Padrao des Descobrimentos menuju Torre de Belem, yang dibangun untuk benteng kecil pertahanan Lisabon dahulu dihiasi ukiran rumit nan indah.
Di pinggirnya deburan ombak terdengar, matahari terbenam di kejauhan sebelah barat.
Hari itu tanggal 1 Januari, satu hari setelah kami merayakan tahun baru di Terreiro de Paco. Seperti mengerti akan kebutuhan damai jiwa masing-masing, tanpa sebelumnya saling berbicara kami diam menghadap surya yang tenggelam.
Tiga manusia ini berdiri di sudut-sudut kecil pantai Belem, di sebelah benteng dalam sunyi yang cukup lama, memejamkan mata mendengar ombak, mendengar dunia, mendengar orang-orang di kejauhan, mendengar diri sendiri, mendengar semesta, mendengar Tuhan. Dengan warna oranye dari surya yang tenggelam sulit untuk tidak diam dan menjelajahkan pikiran ke tahun-tahun sebelumnya, terutama satu tahun ke belakang.
"Siapa mengira kamu ada di belahan dunia yang begitu jauh dari rumah, tapi merasa begitu bahagia. Selamat menerbangkan jiwa di tahun berikutnya."
Tahun Baru dan Kembang Api
Berbekal video dari Youtube dan bertanya ke sana kemari mengenai pertunjukkan kembang api terbaik di Lisabon maka Terreiro de Paco adalah jawabannya. Di tengah-tengah bangunan tua berlatar "U" panggung megah dan besar didirikan. Beberapa musisi tampil dua jam sebelum tengah malam. Kami bernyanyi dan menari bersama di tempat yang ditimbang paling baik melihat kembang api. Tentu ucapan selamat tahun baru dan postingan tahun baru dari tanah air sudah lebih dulu kami lihat, karena saat itu perbedaan waktu Lisabon dengan Indonesia sekitar 6 jam.
Kembang api terbaik yang pernah saya saksikan, semua orang terkagum-kagum berteriak tanpa henti sambil mengucapkan "ANO NOVO" yang artinya Selamat Tahun Baru. Kami berpelukan dan saling mengucapkan selamat, dengan wajah penuh pengharapan, semoga tahun 2018 menjadi tahun pembelajaran kembali untuk hidup yang sebentar dan cepat ini.
Setelah kembang api selesai perayaan dilanjut di distrik Alto Bairro, kawasan yang jumlah Bar nya mencapai 400. Jalanan-jalanan sempit Alto Bairro lah tempat pesta itu sendiri. Di gang-gang ini berbagai manusia tumpah ruah, bahkan para perempuan penikmat sepatu tinggi di jalanan berbatu menanjak Lisabon.
Claudia dan Sejarah
Kami mendaftar free tour kota Lisabon, karena ingin mengenal kota ini lebih dalam, bagaimana sejarah Portugal dan apa cerita dibalik monumen-monumen serta bangunan indah kota yang mengagumkan ini. Kami mengenal Claudia, yang menyukai bir Superbock dibanding Sagres, lalu menyuarakan kampanye melindungi tembok-tembok keramik Portugal yang menjadi cagar sejarah budaya mereka. (Ornamen keramik yang terukir adalah salah satu ciri khas Portugal, keramik-keramik ini menempel pada bangunan-bangunan rumah di Portugal yang tak jarang berumur 150 tahun atau lebih, disinyalir banyak dijual di pasar gelap hasil pencurian secara paksa di tembok-tembok rumah tua di Alto Bairro)
Claudia menjelaskan sejarah kota tempat tinggalnya, menolak mengunjungi sebuah kastil di atas bukit kota Lisabon karena kastil tersebut dibangun oleh pemimpin diktator mereka. Betul, Portugal pernah bertahun-tahun dikuasai oleh seorang diktator, hingga penduduknya harus pontang panting melarikan diri ke berbagai negara tetangga. Melahirkan generasi yang mampu berbahasa Perancis atau Spanyol, sampai pada puncak revolusi. Dengan berapi-api Claudia menjelaskan bahwa di Terreiro de Paco berkumpul seluruh penduduk kota Lisabon, menuntut sebuah revolusi, menuntut demokrasi. Penduduk bertumpah ruah dikelilingi penjagaan militer. Bahkan ada seorang penjual bunga di dekat Terreiro de Paco yang membawa banyak sekali bunga dan menyisipkan sekuntum demi sekuntum pada senjata-senjata tentara militer tersebut. Pada akhirnya penduduk menang.
Portugal mendapatkan demokrasi yang diinginkan. Namun setelahnya mereka mengalami krisis dua kali dan hingga saat ini pun masih berlomba menjadi lebih baik dari ke hari bersama negara Uni Eropa lain.
Tapi Claudia dan banyak anak muda lain optimis, mereka menaruh harapan besar pada negaranya.
Penulis yang Tak Terkenal
Claudia menyukai puisi, masyarakat Portugal yang lain pun, mereka jatuh hati dengan kata-kata indah. Jika bukan pegiat literasi atau penulis teredukasi maka dapat dipastikan orang tak akan mengenal Fernando Pessoa, penulis yang menciptakan 200 karakter. Manuskrip karakter-karakter tersebut bahkan malah ditemukan setelah sang penulis meninggal, para peneliti literatur menyusunnya satu persatu hingga saat ini.
Membaca beberapa puisinya memberi petunjuk bahwa sang penulis memang adalah seorang pemikir cerdas, namun Pessoa adalah seorang yang pemalu. Dia tak menerbitkan atau tak berani mempublikasikan apa yang ditulis, seperti apa yang dia katakan pada puisinya "Discontinuous Poems" bahwa yang berharga adalah bukan dirinya tapi syair itu sendiri:
Claudia mengenalkan beliau pada kami, juga pada toko buku tertua di dunia. Mengingat bau kertas tercampur kopi (karena di dalam toko buku ada sebuah sudut Cafe kecil tempat untuk membaca) ketika memasukki pintu Toko Buku menanamkan tekad bahwa kami atau setidaknya saya, tak akan pernah melupakan apa yang terjadi selama hampir satu Minggu di Lisabon.
Kota ini begitu spesial, negaranya pun, karena ketertarikan tak hanya pada Lisabon, masih ada Sintra atau Porto yang bisa dijelajahi. Tak pernah menyangka, Lisabon membuat hati dan jiwa kami sebegitu terpesona, bukan karena kesempurnaan tempat, kemajuan teknologi yang luar biasa, atau kebersihan yang selalu dibanding-bandingkan dengan Jerman. Lisabon pun penuh kekurangan, tapi itulah yang membuatnya semakin berbeda. Kota ini memiliki keunikan dan kebijaksanaan, atau jatuh bangunnya mengingatkan pada tanah kelahiran. Yang pasti terima kasih untuk akhir dan awal tahun penjelajahan ini.
Portugal adalah pelajaran mengenai hal tersebut. Mengunjungi kota tertua kedua di dunia, Lisabon. Walaupun sudah tentu,dari semua peradaban Eropa, Yunani tetaplah yang tertua, namun Portugal sendiri memiliki sisi yang hingga saat ini menjadi negara pencampuran antara gedung peradaban tua dengan modernitas. Tentang gerbang ukiran di Stasiun Metro Rossio dengan estetika luar biasa yang ditujukkan khusus untuk Raja Marques de Pombal, konon sang Raja pergi berperang di Afrika Utara saat musim panas dan mayatnya tak pernah ditemukan, warga Portugal meyakini bahwa sang Raja suatu hari nanti akan pulang maka dibangunlah gerbang indah di stasiun kereta yang saat ini menjadi pintu gerbang menuju Sintra (salah satu daerah di selatan Portugal).
Stasiun Metro Rossio
Berbicara mengenai kejayaan Portugal maka tak akan bisa lepas dari Viriato dan Nuno Alvares Pereira. Viriato adalah seorang Lusitaner yang berperang atas nama Portugal untuk melawan Roma hingga akhirnya Portugal menang, fyi dahulu Lusitania adalah bagian dari kerajaan Romawi. Lalu Nuno Pereira sendiri adalah panglima perang Portugal yang memenangkan perang dalam waktu singkat karena strategi perang menggali tanah dan menutupnya sebagai kamuflase.
Sejarah sebelum masa diktator Portugal kurang lebih terpusat pada empat orang tersebut. Maka dari itu Monumen maupun Patung-Patung mereka dapat terlihat di sedikit banyak sisi kota Lisabon.
Liburan Yang Murah Tapi Mahal
Harga yang dijadikan patokan tentu saja kota tempat tinggal super mahal Munich a.k.a MΓΌnchen. Yang mahalnya biasa dibandingkan dengan Paris atau negara Perancis lain, sama-sama mahal. Atau kota-kota sekitar di Swiss dan Austria seperti Salzburg atau Jenewa, mahal juga.
Tapi Portugal ini tidak kawan, makan Kebab plus kentang dan minum bisa hanya 3 Euro saja, atau memakan satu porsi Churrasquinho, makanan khas Portugal dengan porsi banyak dipadu rasa mediterania. Dengan harga sekitar 5 Euro lidah yang merindukan rempah sedikit terobati. Untuk sarapan, alangkah cermat jika memesan sarapan yang sudah satu paket di Hotel. Kadang sarapan prasmanan yang melimpah kami bekal untuk dijadikan makan siang di Terreiro de Paco.
Kurang lebih pemandangan makan siang di Terreiro de Paco
Harga transportasinya terbilang relatif, tergantung sejauh mana tempat menginap dari pusat kota. Hotel kami di Santa Iria, bisa dikatakan daerah pinggir kota Lisabon. Maka tiket transportasi yang efektif untuk kami adalah dengan sistem Zapping saldo, tapping setiap memasukki stasiun, mirip seperti di Paris atau mungkin untuk gambaran lebih lumrah, seperti di Singapura (mengingat patokan Metro / LRT/ MRT dari Asia Tenggara ya biasanya negara tersebut). Isi kartu Tap juga seperti saldo, yang bisa diisi 3-40 Euro, tergantung kebutuhan. Setiap Tap harga yang harus dibayar untuk menaiki Metro 1,31 Euro dan menaiki Kereta sekitar 2 Euro.
Yang menjadi mahal adalah ketika kami ingin membayar pengalaman-pengalaman yang lebih, contohnya mencoba Sea Food paling terkenal di Lisabon, yang dikelola oleh dua orang asli Portugal tak bisa berbahasa Inggris dengan Restoran yang hanya cukup untuk sekitar 20 orang saja.
Restoran baru buka sekitar jam 7 malam, dan kami sudah nongkrong untuk mengantri dari pukul 6, tepat di depan pintu. Lalu menjelang pukul 7 antrian semakin panjang. Ketika pintu Restoran dibuka sang empunya membatasi pelanggan yang datang, jika seluruh meja sudah terisi maka mereka akan menghentikan antrian yang masuk bahkan beberapa mereka suruh pulang. Sebenarnya Restoran ini menerima reservasi lewat telfon tapi tentu saja orang berbahasa Portugal yang hanya bisa melakukan ini.
Penampakan Sea Food
Penampilan Seafood terbilang bukan penampilan ala Resto Bintang Lima, lebih seperti Seafood kaki lima. Rasanya lumayan mengobati rindu Seafood di tenda -tenda pinggir jalan di Bandung.
Kemahalan lain adalah masih tentang makanan, ketika malam tahun baru kami ingin makan di dekat Terreiro de Paco karena disitulah kembang api berasal. Namun tentu, restoran di dekat lingkungan ini memanfaatkan momen tersebut dengan bermahal-mahal ria. Kami makan di jalanan-jalanan berbatu tua Portugal di dekat Terreiro de Paco, makanan yang dipesan dua nasi goreng porsi besar yang kami bagi bertiga. Harganya selangit, seketika kami merindukan nasi goreng jibot tengah malam. (Nasi goreng jibot adalah nasi goreng tengah malam di Bandung)
Atau pengalaman mengenai ketidak jelasan nasib pulang setelah malam tahun baru karena Metro tidak beroperasi pada pukul 3 pagi, kami menunggu bus di sebuah Halte berharap ada Bus Malam seperti di Jerman (terlalu polos), bus tak datang selama hampir dua jam di tengah malam yang dinginnya mulai menusuk. Hingga sudah tak tahan lagi lebih baik menunggu di stasiun Metro menghindari angin, ternyata Metro beroperasi secara spesial untuk para penikmat tahun baru kala itu. Hanya saja stasiun terakhir Oriente, dari situ kami harus naik taksi pulang yang mahal.
Santa Iria dan Samudera
Stasiun Oriente
Hotel tempat kami menginap terletak di Santa Iria, satu daerah di pinggir kota yang dekat Samudera. Kami tak pernah tahu ternyata stasiun di dekat Santa Iria, antara lain Gare de Oriente adalah stasiun yang artistik. Stasiun ini terletak tepat di Parque das Nacoes, tempat dengan arsitektur modern di Lisabon, isinya adalah pusat perbelanjaan lalu taman-taman tematik modern. Di taman ini juga terpampang Flags of Nation dari berbagai negara di dunia yang suka tidak suka bendera Indonesia tidak ada. Kami lalu menyusuri jalan setapak di pinggir Samudera sambil membicarakan mengapa bendera Indonesia tidak diterbangkan.
Flags Of Nation, Oriente
Keterbatasan ilmu sejarah dunia tentang Flags Of Nation di daerah Oriente membawa pada kebuntuan. Pada kenyataannya bendera Indonesia tetap tidak di terbangkan di tiang-tiang. Namun menyusuri Samudera di Santa Iria seperti menyusuri daerah Suburban yang tak begitu "touristy" seperti pantai Belem.
Kawasan pinggir Samudera yang terkenal selain daerah Oriente adalah Belem. Tempat di mana Padrao des Descobrimentos berdiri, sebuah monumen ikonik Portugal untuk meningkatkan kepercayaan diri nasional, sambil menghormati para penjelajah asal Portugis yang hebat. Di sisi barat monumen adalah penggambaran para penjelajah, sedangkan di sisi timur adalah pemodal utama, dengan kedua belah pihak mendukung patung Infante D. Henrique, penghasut utama dari abad ke-15 "Golden Age of Discovery" di Portugal. Monumen ini dirancang dengan cerdik sehingga memberikan tampilan haluan kapal yang menghadap ke muara, dengan bagian belakang mewakili Salib Latin.
Padrao des Descobrimentos
Saat itu musim dingin di Belem tapi manusia-manusia di pantai Belem menikmati matahari terbenam sambil menikmati sejuknya udara. Kami bertiga berjalan dari Padrao des Descobrimentos menuju Torre de Belem, yang dibangun untuk benteng kecil pertahanan Lisabon dahulu dihiasi ukiran rumit nan indah.
Di pinggirnya deburan ombak terdengar, matahari terbenam di kejauhan sebelah barat.
Hari itu tanggal 1 Januari, satu hari setelah kami merayakan tahun baru di Terreiro de Paco. Seperti mengerti akan kebutuhan damai jiwa masing-masing, tanpa sebelumnya saling berbicara kami diam menghadap surya yang tenggelam.
Tiga manusia ini berdiri di sudut-sudut kecil pantai Belem, di sebelah benteng dalam sunyi yang cukup lama, memejamkan mata mendengar ombak, mendengar dunia, mendengar orang-orang di kejauhan, mendengar diri sendiri, mendengar semesta, mendengar Tuhan. Dengan warna oranye dari surya yang tenggelam sulit untuk tidak diam dan menjelajahkan pikiran ke tahun-tahun sebelumnya, terutama satu tahun ke belakang.
Torre de Belem
Belem
"Siapa mengira kamu ada di belahan dunia yang begitu jauh dari rumah, tapi merasa begitu bahagia. Selamat menerbangkan jiwa di tahun berikutnya."
Tahun Baru dan Kembang Api
Berbekal video dari Youtube dan bertanya ke sana kemari mengenai pertunjukkan kembang api terbaik di Lisabon maka Terreiro de Paco adalah jawabannya. Di tengah-tengah bangunan tua berlatar "U" panggung megah dan besar didirikan. Beberapa musisi tampil dua jam sebelum tengah malam. Kami bernyanyi dan menari bersama di tempat yang ditimbang paling baik melihat kembang api. Tentu ucapan selamat tahun baru dan postingan tahun baru dari tanah air sudah lebih dulu kami lihat, karena saat itu perbedaan waktu Lisabon dengan Indonesia sekitar 6 jam.
Kembang api terbaik yang pernah saya saksikan, semua orang terkagum-kagum berteriak tanpa henti sambil mengucapkan "ANO NOVO" yang artinya Selamat Tahun Baru. Kami berpelukan dan saling mengucapkan selamat, dengan wajah penuh pengharapan, semoga tahun 2018 menjadi tahun pembelajaran kembali untuk hidup yang sebentar dan cepat ini.
Setelah kembang api selesai perayaan dilanjut di distrik Alto Bairro, kawasan yang jumlah Bar nya mencapai 400. Jalanan-jalanan sempit Alto Bairro lah tempat pesta itu sendiri. Di gang-gang ini berbagai manusia tumpah ruah, bahkan para perempuan penikmat sepatu tinggi di jalanan berbatu menanjak Lisabon.
Alto Bairro di siang hari seperti rumah penduduk biasa, akan berubah saat malam datang
Claudia dan Sejarah
Kami mendaftar free tour kota Lisabon, karena ingin mengenal kota ini lebih dalam, bagaimana sejarah Portugal dan apa cerita dibalik monumen-monumen serta bangunan indah kota yang mengagumkan ini. Kami mengenal Claudia, yang menyukai bir Superbock dibanding Sagres, lalu menyuarakan kampanye melindungi tembok-tembok keramik Portugal yang menjadi cagar sejarah budaya mereka. (Ornamen keramik yang terukir adalah salah satu ciri khas Portugal, keramik-keramik ini menempel pada bangunan-bangunan rumah di Portugal yang tak jarang berumur 150 tahun atau lebih, disinyalir banyak dijual di pasar gelap hasil pencurian secara paksa di tembok-tembok rumah tua di Alto Bairro)
Claudia menjelaskan sejarah kota tempat tinggalnya, menolak mengunjungi sebuah kastil di atas bukit kota Lisabon karena kastil tersebut dibangun oleh pemimpin diktator mereka. Betul, Portugal pernah bertahun-tahun dikuasai oleh seorang diktator, hingga penduduknya harus pontang panting melarikan diri ke berbagai negara tetangga. Melahirkan generasi yang mampu berbahasa Perancis atau Spanyol, sampai pada puncak revolusi. Dengan berapi-api Claudia menjelaskan bahwa di Terreiro de Paco berkumpul seluruh penduduk kota Lisabon, menuntut sebuah revolusi, menuntut demokrasi. Penduduk bertumpah ruah dikelilingi penjagaan militer. Bahkan ada seorang penjual bunga di dekat Terreiro de Paco yang membawa banyak sekali bunga dan menyisipkan sekuntum demi sekuntum pada senjata-senjata tentara militer tersebut. Pada akhirnya penduduk menang.
Portugal mendapatkan demokrasi yang diinginkan. Namun setelahnya mereka mengalami krisis dua kali dan hingga saat ini pun masih berlomba menjadi lebih baik dari ke hari bersama negara Uni Eropa lain.
Tapi Claudia dan banyak anak muda lain optimis, mereka menaruh harapan besar pada negaranya.
Lisabon tak lepas dengan Elevatornya
Claudia menyukai puisi, masyarakat Portugal yang lain pun, mereka jatuh hati dengan kata-kata indah. Jika bukan pegiat literasi atau penulis teredukasi maka dapat dipastikan orang tak akan mengenal Fernando Pessoa, penulis yang menciptakan 200 karakter. Manuskrip karakter-karakter tersebut bahkan malah ditemukan setelah sang penulis meninggal, para peneliti literatur menyusunnya satu persatu hingga saat ini.
Monumen Pessoa
Membaca beberapa puisinya memberi petunjuk bahwa sang penulis memang adalah seorang pemikir cerdas, namun Pessoa adalah seorang yang pemalu. Dia tak menerbitkan atau tak berani mempublikasikan apa yang ditulis, seperti apa yang dia katakan pada puisinya "Discontinuous Poems" bahwa yang berharga adalah bukan dirinya tapi syair itu sendiri:
Once they called me a materialist poet
And I admired myself because I never thought
That I might be called by any name at all.
I am not even a poet: I see.
If what I write has any value, it is not I who am
valuable.
The value is there, in my verses.
All this has nothing whatever to do with any will
of mine.
Claudia mengenalkan beliau pada kami, juga pada toko buku tertua di dunia. Mengingat bau kertas tercampur kopi (karena di dalam toko buku ada sebuah sudut Cafe kecil tempat untuk membaca) ketika memasukki pintu Toko Buku menanamkan tekad bahwa kami atau setidaknya saya, tak akan pernah melupakan apa yang terjadi selama hampir satu Minggu di Lisabon.
Toko Buku Tertua
Tercatat, terjamin legitimasinya
Kota ini begitu spesial, negaranya pun, karena ketertarikan tak hanya pada Lisabon, masih ada Sintra atau Porto yang bisa dijelajahi. Tak pernah menyangka, Lisabon membuat hati dan jiwa kami sebegitu terpesona, bukan karena kesempurnaan tempat, kemajuan teknologi yang luar biasa, atau kebersihan yang selalu dibanding-bandingkan dengan Jerman. Lisabon pun penuh kekurangan, tapi itulah yang membuatnya semakin berbeda. Kota ini memiliki keunikan dan kebijaksanaan, atau jatuh bangunnya mengingatkan pada tanah kelahiran. Yang pasti terima kasih untuk akhir dan awal tahun penjelajahan ini.













Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.