Ngelanturi Hidup (Judul Tak Sesuai KBBI)

Ibu pernah bercerita, waktu kecil saya sering sengaja ayah tinggal di tengah sawah, untuk melihat reaksi saya jika tiba-tiba sendirian tanpa orang tua. Mungkin umur saya sekitar 4 tahun. Ayah mengajak saya bermain di sawah lalu secara diam-diam beliau bersembunyi sambil memperhatikan saya, entah apa maksud beliau tersebut. Namun ketika saya tanya lebih lanjut pada ibu bagaimana reaksi saya ditinggal sendirian di tengah sawah, ibu menjawab saya lanjut asik bermain, seperti ada keyakinan bahwa saya tidak akan pernah ditinggalkan.

Begitu pula mungkin yang saya rasakan tanpa sadar, ingin pergi dari tanah kelahiran untuk lihat-lihat. Untuk belajar hidup. Tanpa takut ditinggal orang-orang tersayang.



Jika ada yang bertanya apa yang saya lakukan di Jerman, jawabannya menghabiskan waktu hidup. Dikira saya bercanda, tapi memang iya toh.

Jalan-jalan sendirian masih suka saya lakukan, bedanya sekarang dimana pun. Sendirian ke kota, ke desa, ke gunung, ke hutan. Tapi saya ini anak "sosial", waktu kecil jika keluar dari tempat bermain di restoran cepat saji saya pasti punya kenalan baru. Senang sama yang ramai-ramai, tapi harus juga beberapa kali sendirian. Jadi begitulah, mungkin sendirian itu baterai saya untuk sosialisasi dengan banyak orang, karena berinteraksi dengan manusia lain memang membutuhkan tenaga, semacam saling menyebarkan karisma dan aura. Kalau ngga kuat, lebih memilih di kamar.

Waktu kecil ingat sekali pernah bertemu beberapa teman yang senang memusuhi dan mengompori untuk memusuhi orang lain, seingat saya, saya ngga pernah, ngga ngerti itu gunanya apa, malahan saya yang dimusuhi, tapi dimusuhi juga saya cuek saja. Itu waktu di Sekolah Dasar, belakangan saya di Jerman sering bergaul dengan adik angkat yang masih bocah ini, mereka juga semua macam begitu, pergaulannya melelahkan, antara cari kambing hitam siapa yang dimusuhi dan penjilat sana sini. Untung masih kecil.

Eh tapi kenyataannya ternyata orang dewasa juga beberapa seperti itu, untung bukan teman saya.

Saya menghindari orang yang ngajak-ngajak musuhi orang lain, jadi mungkin kalau dikompori buat jelek-jelekkin atau jauhin orang yang punya "dosa" sana sini, situ mungkin yang akan saya jauhi karena nyebar-nyebarin benci. Banyak penderitaan di dunia yang berlapis-lapis, capek benci-benci orang.

Jikalau naik kelas atau ulang tahun ayah bawa saya seringnya ke toko buku, dulu namanya Gunung Agung, sekarang mungkin sudah tidak ada. Sebelum bisa baca saya tidak dibacakan buku oleh orang tua, saya dengar dongeng dan cerita rakyat, biasanya diceritakan oleh kaka sepupu yang menginap atau nenek dan kakek, atau ibu waktu adik-adik saya belum lahir, jadi secara tidak langsung seperti dibacakan buku, belakangan mungkin itu juga yang menyebabkan saya senang main imajinasi. Waktu bertemu buku, seperti berkenalan dengan kawan yang ajak pikiran saya jalan-jalan ketemu banyak orang dan tempat.

Akhirnya terlalu sering bertemu karakter warna warni macam rupa, lewat buku bahkan lewat perjalanan nyata. Jadi otak saya agak susah gitu kalau disuruh kotak-kotakkin orang, apalagi dipaksa-paksa bahwa ada itu kebenaran yang dibela-bela. Masalahnya disana sini banyak yang bela kebenaran juga, tapi itu caranya lebih kaya manusia. Ini saya suka gemes sama yang bela-bela berasa kenal banget sama yang dibelainnya. Superior banget, padahal yang dibelanya jauh ribuan kali lipat lebih superior, mungkin karena katanya makhluk yang kecil jadi ya hatinya juga mungkin ngikut kecil, pikirannya juga.

Terus kalau ada yang hina-hina identitas kebakarannya lebih panas dari api kebakaran hutan. Nah kalau begini kaya remaja yang bingung identitas gitu loh, sekali disentil itu remaja marah-marah butuh pengakuan. Itu identitas dan integritas kenyataannya ngga berlaku cuma diomong-omong, ya buktikan. Ada yang bilang jika kekayaan dan kecerdasan tak punya identitas agama itu diagung-agungkan. Makanya haruslah kita perlihatkan, itu siapa, agamanya apa. Saya kok kebalik, inginnya orang ngga perlu tau agama dan kepercayaan saya apa. Itu urusan terspesial, terintim yang saya bagikan secara mesra. Saya ngga nyaman urusan spesial saya diketahui khalayak ramai.
Tapi toh setiap orang ya beda-beda, sama seperti pakai baju, ya sakarepmu saja. Eh banyak juga sih apa yang dipakai jadi urusan khalayak ramai. Nanti menyebabkan ini itu katanya, coba yang neliti penyebab dan akibat bagus juga neliti bikin pembangkit listrik tenaga hujan, atau manfaat pisah-pisah sampah.

Ketika bicara pakaian yang kebanyakan ditujukan untuk perempuan saya malah kepikiran Perlindungan Emak Emak dan anak, biar emak wanita karir bisa dapat cuti dibayar minimal 1 tahun. Sama bapak-bapak juga boleh ambil cuti minimal 6 bulan, jadi kalau ada bayik lahir itu ngga kurang kasih sayang dan perawatan dari orang tua. Bayi jadi anak, lalu jadi manusia yang penuh cinta dan empati, tak kuasa menyakiti sesama. Atau persamaan gaji laki-laki dan perempuan seperti di Islandia, yang anggota parlemennya 50% perempuan. Mikirin nasib emak-emak walaupun sayanya juga belum minat. Ah cuti satu taun cuma mimpi, gaji guru saja wong ngga cukup buat apa-apa, jadi guru nampaknya murni amalan masuk surga. Ingat ibu saya dan sebagian besar saudara yang mengajar di sekolah atau TK.

Lah pikiranmu ya duniawi melulu, kadang malah ya tentang tanam bayam atau cabe di halaman. Punya sawah atau kebon yang diurusi sendiri. Sambil menulis kisah-kisah yang tak sempat dikenal dan diceritakan. Manusia yang tak ada di catatan sejarah. Kalau bicara doa, biarlah semua yang katanya amalan dan pahala manusia, kebaikan-kebaikan, yang orang sini lakukan atau saya perbuat semata mata memang karena begitu sepatutnya manusia, terkirim pahalanya pada orang tua.

Saya di Jerman bahagia akan berjuang, di tanah air nampaknya saya yang lari-lari di tempat, putar-putar. Di sini malah dunia sekeliling lari sprint, saya yang harus ngejar-ngejar. Karena ya dunia mereka larinya sudah dari puluhan atau ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka. Ini mungkin yang namanya belajar hidup, susah minta ampun tapi nikmat. Jadi saya memang sudah bermetamorfosis di tanah air, tapi ngga bisa terbang yang benar-benar. Di sini membentangkan sayap, walau itu badai di langit tak henti-henti.

Orang tua tak terlihat khawatir, tapi saya tahu karakter ibu saya yang diam tapi kepikiran atau ayah saya yang diam tapi mendoakan. Ingin sekali menyampaikan bahwa saya sangat betah di sini. Bukan karena bagaimana-bagaimana, saya menikmati kerinduan. Tapi Bandung jadi kampung halaman orang tua saya, tempat jika pulang ya untuk bertemu orang tua, kerabat, sahabat, kota kenangan saya, anehnya jika saya pulang dan menetap inginnya tidak di Bandung. Yang jauh saja dari pusatnya semesta Indonesia alias Jawa. Tak tahulah itu kepikirannya kenapa. Mungkin karena dari sini baca berita di media seringnya bahas seputar Jawa Barat dan Jakarta melulu. Pulau lain kok nampaknya adem ayem. Ah saya saja yang kurang pengetahuan, makanya cari tahu.

Ayah mengajari saya berkendara roda dua dan empat bukan semata-mata karena saya ingin bergaya-gaya. Lebih karena untuk bantu-bantu mereka. Saya tapi kepikirannya semoga di masa depan ya orang tua saya bisa seperti kakek nenek di sini, bertransportasi aman pakai kereta dalam kota atau bus. Biar tak perlu capai-capai menyetir sambil menikmati peradaban komunal sama-sama di kendaraan umum.

Saya tak nasionalis, tak koar-koar datang darimana jika bukan karena orang lain yang tanya. Tapi tak tahulah nasib saya satu bulan minimal satu kali ya main musik tradisional sambil mengajari para penduduk sini lihat alat musik angklung dari bambu dan cara mainkannya. Atau tidak sengaja mengenalkan "karakter" penduduk Indonesia ya dikiranya macam saya semua, yang kata mereka tak pernah lelah, senyum sana sini dari hati dan rajin sekali. Atau ya tertawa saja jika ada yang bilang saya datang dari Cina, atau Jepang, ya sudah toh sama sama Asia.

Masih belum resmi masuk Universitas tapi ketua Perhimpunan Pelajar telfon saya minta tolong agar ikut bantu ngurusi Organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Munich ini yang dahulu kala menurut sejarah organisasi PPI pertama didirikan di Belanda, dipelopori jaman sebelum merdeka oleh Bung Hatta, Soekarno dan kawan-kawan mereka, bapak pendiri negara. Dengan niat memikirkan solusi-solusi untuk tanah air yang dulu belum merdeka. Saya bantu dalam rangka kontribusi praxis terhadap masyarakat seperti kata Aristoteles, diminta bidang Seni dan Budaya. Selama tenaga dan pikiran saya bisa bantu manfaat, ya kenapa tidak. Walau tetap ingin menekankan bahwa janganlah Perhimpunan Pelajar Indonesia cuma jadi organisasi elitis yang tak mau rangkulan sama sama.

Satu hari di kereta saya pulang dengan teman-teman organisasi pelajar yang mukanya segala macam memang beda. Satu sipit, yang lain sawo matang, atau sedikit Mongol belum yang berkerudung campur-campuran satu bahasa. Ibu di kereta bingung, dia pikir kami ya dari negara beda-beda. Kami ya nyengir kuda sambil bilang: dari Indonesia.

Duuh, jadi seperti nasionalisme, padahal saya pada Indonesia ya ngga cinta-cinta amat, gitu ya biasa aja, tapi kok semakin lama baca buku pakai bahasa Jerman yang begitu melimpah tanpa terjemahan Indonesia rasanya makin ingin bagi ilmu, bagi rasa. Saya ya ingat orang-orang atau teman-teman yang lapar pengetahuan tapi karena jauh ya susah. Nanti saya pulang, tapi tak tahu kapan. Biar diri saya ini bisa dimanfaatkan, saya toh senang dimanfaatkan, jadi saya lahir ada gunanya di dunia, tak cuma menuh-menuhi bumi sahaja.


Comments

  1. Hello Runi, salam kenal . Saya merasa terberkati hari ini karena menemukan tulisanmu . Ringan, natural tapi dalem banget ..touch my soul. May send personal email kok tidak bisa ya ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.