Au Pair dan Pandangan terhadap Pendidikan Anak di Jerman

Au Pair adalah tentang pengalaman dan ketahanan berada bersama anak kecil usia di bawah 10 tahun dan menjadi pemimpin (untuk kasus Au Pair yang menjaga anak di atas umur 10 tahun maka hasil pengalamannya tentu akan jauh berbeda). Menjadi Au Pair juga mengerti ada fase-fase Psikologi anak yang harus dihadapi seseorang yang sama sekali tak punya pengalaman mengenai mempunyai anak dan tak tahu menahu soal perkembangan anak namun ikut membantu orang tua sang anak dengan berperan serta sebagai "orang tua". Ketika saya ditanya apa pengalaman menjadi Au Pair, maka jawabannya adalah: saya sedikit banyak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan atau orang tua yang sama sekali tak siap memiliki anak, tapi tetap harus secara terpaksa bertanggung jawab, mendidik, menemani, dan mengatur anak usia dini.
Atas hal tersebut, saya cukup mengerti mengapa beberapa pasangan di Jerman benar-benar tak sembarangan jika masuk ke dalam ranah "punya anak".





Anak laki-laki dalam Fase usia 3 tahun menuju 4 tahun.

Saya mengetahui beberapa informasi dari teman yang dahulu menjadi Au Pair di keluarga yang saya tinggali, bahwa balita lelaki ini manis, mengerti jika dilarang, tak pernah rewel, begitu baik dan gampang diatur. Yang teman saya alami adalah balita lelaki di umur 2 tahun awal, yaitu fase di mana sang balita masih seperti bayi manis yang baru belajar berdiri dan berjalan, lebih banyak menggunakan stroller dan pacifier untuk membuatnya sibuk. Lalu saya datang dan umurnya 3 tahun, di mana fase perubahan terjadi bertubi-tubi. Di umur 3 tahun salah satunya balita harus diajari buang air besar dan kecil di toilet yang di mana prosesnya pun tak semuanya dia suka, bahkan di umur 3 tahun anak cenderung menahan pipis jika sedang asik bermain namun lalu berujung dia tak bisa lagi menahan pipisnya hingga mengompol. Proses didikan di toilet harus saya lakukan seiring dengan apa yang orang tuanya lakukan, karena ketika sang orang tua tak ada, saya lah yang bertanggung jawab atas keberlanjutan proses tersebut. Well, untuk para orang tua, terutama mungkin teman-teman saya yang sedang akan menjalani proses tersebut, hormat saya untuk kesabarannya. Di umur 3 tahun juga proses melepas diapers di malam hari di lakukan, (sebagai Au Pair sudah bukan hal aneh saya beberapa kali ikut mencuci seprai juga selimut sang anak yang hari sebelumnya diompoli).

Di umur 3 tahun balita lelaki mulai mencoba berbagai hal sambil menguji sang orang tua akibat apa yang akan dia terima jika dia melakukan berbagai hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, bertepatan dengan organnya yang mulai tumbuh, berkembang lebih kuat. Dia berjalan lebih kokoh, kaki lebih bertenaga, kemampuan berbicara meningkat, keinginan-keinginan pun tumbuh dengan emosi-emosi tambahan yang dia pun tidak mengerti.
Misalnya, dia sudah paham kegembiraan bermain tapi tak paham bahwa badannya pun butuh istirahat, dorongan kelelahan ini tak dikenalinya dengan baik, berujung luapan-luapan tantrum yang penyebabnya begitu sepele, (ibu-ibu dan bapak yang pernah mengalami proses tantrum anak).
TOSS!
Saya mengalami proses tersebut beberapa kali, kadang bersama ibunya, kadang saya sendirian yang harus menghadapi bocah umur 3 tahun yang mengamuk tantrum di tempat umum. (Saya pikir beberapa Au Pair lain mungkin juga pernah mengalami).
Saya sadar, untuk menghadapi anak tantrum dibutuhkan kecerdasan emosi dari sang orang tua, kesabaran tingkat tinggi dan penanganan yang tepat. (Saya sampai harus googling cara menghadapi tantrum anak), karena di proses ini, di dalam puncak tantrum, anak tak akan mendengar apapun yang dikatakan dunia luar.
Dari pengalaman itu, saya membayangkan nasib Au Pair yang masih belum terlalu dewasa dengan kecerdasan emosi yang tak bisa disamakan dengan orang tua di Jerman berumur 35 tahun misal. (Walau bahkan di sini, kebanyakan orang tua berumur di atas 40 tahun, namun mereka pun masih kewalahan dengan prilaku anak-anaknya).

Di umur 3 tahun menuju 4 anak juga sudah mulai senang berlarian ke sana kemari, melompat-lompat, mencoba berbagai sesuatu hal yang baru sebagai proses perkembangannya. Dan sudah mulai merasakan berbagai emosi dan keegoisan pribadi, hasilnya, anak akan susah berbagi, ingin menang sendiri, cepat terkonfrontasi, lalu berakhir tantrum.



Namun akibatnya saya sadar, justru di umur 3 menuju 4 inilah dibutuhkan pendidikan dari orang tua penentu proses perkembangan anak selanjutnya. Orang tua dituntut lebih tegas dan lebih disiplin terhadap aturan serta konsekuensi jika anak melanggar. Dulu orang tua Gastfamilie (keluarga angkat yang menerima Au Pair) saya selalu mengirim anaknya ke lantai paling atas which is kamar mereka jika mereka berbuat kesalahan maupun membangkang terhadap larangan atau menangis tidak berhenti saat menginginkan sesuatu yang tidak mungkin mereka dapatkan.
Contoh nyata:

Adik angkat saya yang berumur 3 menuju 4 ini mendapat lolipop (saya lupa dari siapa dan bagaimana tapi itu juga tak penting), dia memakan lolipop dengan asyik lalu berujung menangis tak karuan karena gagang pada lolipop lepas (bisa terjadi). Dia tantrum sangat hebat, dan menuntut saya mengembalikan gagang lolipop seperti keadaan semula yang tentu saja saya tak sanggup, karena bulatan permen pada lolipop setengahnya sudah tidak utuh, dan itulah yg menyebabkan gagang lolipopnya lepas. Saya menjelaskan dengan panjang lebar dan sabar bahwa apa yang dia minta tidak mungkin terlaksana, karena lolipopnya pun sudah setengah termakan dan tak bisa menahan gagangnya. Dia tidak terima alasan saya dan mulai menyalahkan saya, sambil kalau tidak salah memukul saking dia emosi dan tantrum. Untuk prilaku ini tidak bisa saya toleransi, maka saya menghukum dia dengan mengirimnya ke lantai atas (ke kamarnya), seperti yang dilakukan orang tuanya. Dia beberapa kali turun dan saya beberapa kali dengan diam tanpa marah-marah namun berusaha mengeluarkan aura tegas mengangkatnya kembali ke kamar, begitu terus hingga dia pun mengerti dan diam di kamarnya hingga tangisan berhenti lalu turun dan meminta maaf atas apa yang sebelumnya terjadi.
Di proses rekonsiliasi ini juga kami saling berbicara bahwa apa yang saya lakukan adalah konsekuensi atas perlakukannya dia memukul dan itu adalah hal yang tidak baik.
(Saya ingat Nanny 911 di dalam proses hukuman ini)



Pengamatan hubungan antara kakak dan adik

Saya anak pertama dan perempuan, dengan adik yang sifatnya hampir mirip dengan adik angkat saya ini, tapi dulu ketika menjadi anak, ibu dan ayah saya yang mengalami berbagai kesulitan mendidik dan bersabar, tak jarang saya sangat mengerti ketika ibu saya pun sempat betul-betul lelah menghadapi tantrum.
Saya sendiri tak pernah tantrum. Namun adik saya, ya.
Dalam pendidikan di Indonesia secara tidak langsung ada sebuah tuntutan bahwa sebagai anak pertama saya harus mengalah dan bersikap lebih dewasa dibanding adik-adik saya ini. Alhasil ketika adik saya menginginkan sesuatu biasanya saya yang mundur dan membiarkan adik saya mengambil alih.

Ini tidak berlaku di pendidikan anak keluarga Jerman.

Anak pertama tidak harus mengalah pada adiknya, atau setidaknya tidak diajarkan seperti itu. Alhasil sang kakak yang sifatnya memang sedikit keras juga belum terbiasa berbagi karena dahulu dia anak tunggal dengan perhatian penuh sering sekali berkelahi dan berebut dengan adiknya. Tidak ada yang mau mengalah, akhirnya berujung saya yang mengambil alih, dan keduanya tak mendapat apapun. Orang tua di Jerman menuntut kakak beradik ini menyelesaikan masalah di antara mereka secara mandiri, misal jika mereka terlibat perebutan makanan atau mainan, mereka dibiarkan berunding dan mencari solusi agar keduanya mendapat bagian masing-masing. Sang kakak, perempuan berumur 6 tahun yang pintar.
Bahkan cenderung sering berlaku curang terhadap adiknya agar dia mendapat keuntungan lebih banyak. Karena dia tahu, bahwa adiknya belum sampai pada tahap secerdas dirinya.

Sang adik dalam beberapa kasus sudah mulai belajar dan ikut pintar, belakangan sang kakak cukup kesulitan untuk memutar balikkan logika, karena si adik sudah banyak mengerti.

Adik dan kakak ini memiliki kesenangan yang jauh berbeda, si adik layaknya boys. senang bercanda, agak sedikit berantakan dan tak suka princess. Sang kakak, senang hal yang indah, manis, teratur. Mereka sering berbenturan, terutama jika sang adik secara tak sengaja merusak barang kakaknya, atau ketika sang kakak mengejek bahwa Ritter (prajurit jaman dulu dalam sejarah kerajaan Jerman) itu tak bagus bagus amat. Kesamaan mereka hanya satu:
senang menonton, melalui televisi maupun Ipad.



Menonton Televisi adalah Hadiah

Ini permasalahannya dengan peraturan keluarga angkat saya. Anak-anak mereka tidak dibiarkan secara bebas menonton melalui media apapun, tidak Televisi, tidak Ipad, ataupun Handphone. Pemandangan balita-balita Indonesia yang anteng menonton televisi tidak menjadi bagian dari perkembangan anak-anak di Jerman. Tentu, aturan berapa lama anak boleh menonton setiap keluarga berbeda. Adik-adik angkat saya, hanya diperbolehkan 30 menit saja menonton. Itu pun tidak setiap hari, mungkin satu Minggu 2 - 3 kali. Biasanya sebagai hadiah jika mereka melakukan segala hal yang diminta orang tua, contohnya ketika mereka seharian tidak berkelahi dan saling mengalah, maka keduanya bisa menonton sebelum tidur. Ada pengecualian-pengecualian lain, misal saat natal mereka diperbolehkan menonton film panjang, seperti Frozen atau The Lion King.
Intinya menonton bukanlah kebiasaan yang diterapkan keluarga ini.

Alhasil sebagai Au Pair untuk menjaga dua bocah tetap sibuk adalah jungkir balik putar otak mencari berbagai kesibukan selain hanya bermain. Tak heran rumah-rumah keluarga Jerman dilengkapi berbagai perkakas prakarya anak, atau board game. Menjadi Au Pair bisa dibilang latihan untuk menjadi orang tua serba bisa yang mengikuti idealisme tanpa TV.
Orang tua di Jerman juga mengharuskan anak-anaknya bermain di luar, bahkan ketika bersalju pun tidak menjadi halangan. Frische Luft atau dalam bahasa Indonesia udara segar adalah hal yang penting, dan belakangan menjadi hal yang juga sangat penting untuk pendatang-pendatang yang dulunya tak begitu ngeh dengan kebutuhan menghirup udara segar.

Tidak berbohong jika anak bertanya

Sang kakak yang berada di taman kanak kanak pernah bertanya Jerman itu letaknya di mana, München itu apakah bukan Jerman, dan bumi itu ada di mana?
Sang ibu menjelaskannya dengan panjang lebar, sesuai dengan fakta sains yang ada tanpa diberi "penjelasan mudah asal terjawab". Sang ibu sampai mengilustrasikannya dengan balon sebagai bumi, lalu Matahari, tata surya dan lainnya.



Ibu dan Bapak adik-adik angkat saya selalu menjelaskan apapun dengan apa adanya. Alhasil anak-anak Jerman ini begitu cerdas dan kritis. Saya bahkan berbincang dengan sang kakak seperti layaknya dia sudah Sekolah Dasar kelas 5 (walau saya yakin berbincang dengan anak kelas 5 pun akan lebih sulit, bisa jadi seperti anak SMP atau SMA di Indonesia). Ibu dan bapak mereka tak pernah lelah dan tidak boleh lelah menjawab semua pertanyaan apa dan kenapa dari anak-anaknya.

Sebagai Au Pair, saya merasa harus membekali diri saya dengan pengetahuan juga, sebisa mungkin saya membaca semua buku-buku mereka. Atau agar setidaknya ketika mengobrol saat makan malam saya sedikit mengerti apa yang diperbincangkan.
Dan betul kawan, kemampuan Bahasa Jerman memang menjadi hal yang cukup vital menghadapi adik-adik angkat saya ini, yang penyayang tapi juga kadang menyebalkan layaknya anak kecil.
Saya harus tetap menjadi pemimpin ketika orang tuanya tak ada, karena jika tidak begitu, adik-adik saya ini tidak akan bisa diatur. Dengan kemampuan bahasa Jerman yang pas-pasan akan cukup sulit menolak, bernegosiasi atau memarahi adik-adik jika sudah kelewatan.

Benar, untuk menjadi Au Pair aturan tertulis adalah hanya kemampuan A1 bahasa Jerman, tapi kawan..

Itu jika anak yang diasuh adalah bukan anak super aktif macam adik-adik saya yang berada di dalam masa-masa perkembangan dan pertumbuhan pesat. Maka untuk Au Pair di masa depan, belajar bahasa Jerman dengan sungguh sungguh, karena hidup tak bisa tergantung dengan keberuntungan.

Saya dan Orang Tua bocah saling bekerja sama

Orang Tua angkat saya mengerti sulitnya menjaga anak-anak mereka, maka mereka tak pernah mengganggu Weekend saya (pernah sesekali tapi itu pun saya mendapat uang saku tambahan). Jadi setiap Sabtu dan Minggu, saya bisa lepas dari urusan anak per-anak-an dan per-masak-kan juga per-urusan rumah tangga-an.
Akhir pekan adalah yang membuat saya tetap sane.
Saya tak begitu menyukai anak-anak tapi saya bisa menghandle mereka dengan baik juga menyayangi dengan tulus. Analogikannya seperti, I can be really good with children and children really love me. Tapi, kegiatan ini bukan minat saya saat ini. I'm not ready if I have to share my weekend with again, kids. Pemikiran ini juga mungkin akumulasi dari berbagai pengetahuan selama menempuh satu tahun jadi "orang tua" untuk anak usia dini yang aktif.
Dengan berbekal pengalaman Au Pair, saya bisa menerima tantangan misal dari tante atau sepupu atau teman yang sudah memiliki anak untuk mengasuh anaknya satu hari misal.
But not in a long time, apalagi tanpa libur seperti para orang tua, setidaknya belum...

Ketika menjadi Au Pair saya merasakan tanggung jawab terhadap anak yang dibebankan pada yang tak pernah punya rencana maupun siap punya anak. Kadang saya berpikir, mungkin begini rasanya yang tak siap punya anak, tapi tetap harus melakukan berbagai kewajiban sebagai pemimpin dalam keluarga kecil, mendidik, membesarkan sekaligus menyayangi sambil menjunjung idealisme pendidikan demi membentuk manusia yang berguna. It was so hard!

Apalagi misal yang "urusannya" sendiri belum selesai. Atau yang memberi makan untuk badannya sendiri saja belum mahir.

Orang tua di Jerman walaupun bertanggung jawab tinggi tetap saja memiliki kehidupan sosial yang untuk mereka absolut tak bisa diganggu. Saya sudah terbiasa, beberapa kali ditinggal ibu dan ayahnya hanya bertiga selama dua hari misal, karena ibu ayahnya menghadiri pernikahan di luar kota dan tak bisa membawa anak. Atau beberapa malam harus mengantar anak tidur karena orang tuanya pergi menonton teater dan lain lain.

Prioritas mereka memang tetap anak-anak tapi setiap orang tua patut diberikan hal yang membuat mereka tetap sadar bahwa keduanya manusia yang butuh istirahat dan mencoba mengurangi kelelahan membesarkan dua anak kecil.
Saya mengerti, ketika banyak ibu di Indonesia yang mengeluh karena lelah, tak punya waktu, atau ingin sekali me time apalagi dengan pembagian tugas domestik dan membesarkan anak yang tidak selalu seimbang seperti di Jerman.

Ketika saya menjadi Au Pair, kedua orang tua angkat bekerja full time, datang hanya ketika makan malam, tapi tentu mengantar anak tidur, membacakan cerita, dan selalu berakhir pekan dengan keluarga. Setiap mereka ada waktu, maka dihabiskan untuk anak-anak.

Selanjutnya ketika kontrak saya selesai, sang ibu berhenti bekerja full time karena dia merasa waktunya lebih banyak dibutuhkan anak-anaknya dibanding mencari uang. Satu tahun ibunya bekerja paruh waktu. Lebih banyak di rumah, mencari hobi baru, bersama anak. Namun sang ibu tetap memiliki dorongan menjadi wanita karir (dia memang terlihat lebih bahagia ketika tetap mempunyai rutinitas kantor). Ketika sang ibu kembali bekerja full time, sang ayah memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Sang ayah ingin menghabiskan lebih banyak waktunya bersama anak-anak. Bergantian mereka berbagi tugas membesarkan anak.

Pembagian tugas domestik antara suami dan istri

Saya pernah melihat sebuah video campaign di Indonesia tentang bagaimana seharusnya suami banyak membantu istri atau tugas domestik di rumah agar istri tak banyak terbebani. Di sini pembagian tugas domestik sudah menjadi hal yang lumrah, tidak ada pakem pakem tertentu apa yang harus dikerjakan suami atau istri, ketika salah satunya bisa dan ada waktu, ya dilakukan.

Sang ayah tak jarang, saat pulang bekerja memasak untuk kami, membersihkan rumah di akhir pekan atau mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Sang Ibu sering memotong rumput di taman belakang atau menyetir mobil Karavan. Ketika selesai makan, ibu dan bapak bekerja sama membereskan piring dan bekas makan (di masa depan anak-anak mereka pun membantu ketika sudah lebih besar). Pembagian tugas domestik dengan titik berat mana tugas perempuan atau laki laki implisit sekali di sini.

Begitu pula dengan perlakuan pada anak, contohnya:
Adik angkat lelaki sering sekali menangis, entah karena terjatuh atau mengantuk atau simply crunky. Orang tua tak pernah sama sekali memberi komentar
"Sudah berhenti, anak laki laki tak boleh menangis"
Logika tersebut sama sekali tidak masuk akal.

Memangnya kenapa dengan anak laki laki yang menangis, anak kecil ya anak kecil, jika terjatuh atau terluka tak ada hubungannya dengan gender apakah anak boleh menangis atau tidak.


Tapi mungkin orang tua milenial Indonesia sudah memiliki paham revolusioner yang adil. Siapa yang tahu?

Apa yang dimakan anak adalah tanggung jawab orang tuanya

Beberapa peraturan yang cukup lumrah adalah ketika anak dibagikan permen atau makanan manis oleh orang dekat misal tetangga, sang tetangga akan menyuruh sang anak meminta izin orang tuanya dahulu sebelum memberi makanan manis. Jika orang tuanya mengizinkan, maka boleh. Karena ada aturan tidak tertulis antara keluarga di Jerman bahwa asupan anaknya tergantung dari peraturan orang tuanya.

Adik angkat saya hanya boleh memakan maksimal 5 Gummibärchen atau satu coklat kecil dalam satu hari. Bahkan untuk kue ulang tahun, anak tak boleh memakan terlalu banyak. Orang tua angkat saya membatasi asupan gula pada anak mereka. Anak juga dalam satu hari harus minimal memakan buah atau sayur.

Ini Gummibärchen

Adik-adik angkat saya, hingga waktu tulisan ini dilempar ke publik tidak pernah sama sekali mengenal restoran cepat saji. Mereka belum pernah menginjakkan kaki ke McDonalds, KFC, Burger King dan Restoran sejenis. Dalam hal ini, bapak dan ibu mereka tidak memberi toleransi sama sekali. Fast food adalah larangan tingkat paling tinggi.

Yang sulit adalah ketika saya ditugaskan memasak, adik bocah tak suka sayur tapi orang tuanya mengharuskan mereka memakan makanan sehat. Sayuran di Jerman juga itu itu saja. Paling banter, saya akan mengiris wortel untuk dijadikan panganan ringan mereka. Dan adik-adik angkat saya senang wortel. Untung saja..


Konsistensi

Anak membutuhkan konsistensi terhadap segala aturan serta akibat jika melanggar yang diberikan orang tuanya. Tanpa konsistensi semua idelisme pendidikan yang diterapkan akan gagal. Karena ditengah idealisme pendidikan anak dibawah umur 10 tahun, ada saat-saat di mana sang anak mencoba berbagai hal untuk "menguji" konsistensi orang tuanya. Jika orang tua mengalah dengan dalih sayang dan kasihan, maka disiplin yang diajarkan akan gagal.

Kesannya mungkin akan sedikit kejam dan "Raja Tega" tapi hasil dari pendidikan anak usia di bawah 10 tahun ini yang sedikit banyak menciptakan mental orang-orang Jerman yang mandiri, cerdas, taat aturan dan bermoral. Semuanya berawal dari pendidikan di ruang lingkup keluarga.



Tentu pengamatan saya bukan merupakan pengamatan ilmiah dengan penelitian mendalam setingkat Universitas di Jerman. Tapi apa yang saya utarakan setidaknya memberi pandangan lain dan mungkin bahkan baru untuk warga Indonesia.


Catatan: Tulisan merupakan opini dan masing-masing prilaku anak serta kebiasaan keluarga di Jerman tak bisa digeneralisasikan.
Untuk yang tidak mengetahui dan merasa asing apakah itu Au Pair, silakan googling terlebih dahulu. Program ini dibatasi kontrak hanya satu tahun. Ketika tulisan ini dirilis saya bukan lagi seorang Au Pair.

All pics from: freeimage.com dan bukan wajah asli adik-adik angkat saya. Beberapa orang tua tak ingin wajah anak-anaknya tersebar di internet atau sosial media, termasuk Gastfamilie saya.

Comments

  1. halo kak, perkenalkan saya hesti. salah satu mahasiswa jurusan sastra jerman di univeritas negeri di jatim. saya tertarik sekali dengan tulisan kakak :). kalau boleh saya minta email atau kontaknya karena saya ingin sekali menulis skripi seputar aupair di jerman. terimakasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Hesti, boleh kirim ke runirachmalina@gmail.com yaa. Semoga lancar skripsinya!

      Delete
  2. Thank you buat sharing pengalamannya kak! Luar biasa pengamatannya, kelihatan kalau kakak mencintai dan menghargai peran kakak sebagai Au-Pair. Semua yang kakak tuliskan diatas hampir 80% persis dengan yang saya alami dan saya rasakan. Sekarang saya sudah hampir 1 bulan Au Pair di Jerman, saya tinggal di dlm satu keluarga yang tipe orangtua nya seperti kakak. Misal, Anak dibatasi makan coklat, di batasi menonton TV/Youtube dari Ipad, Wajib makan malam bareng, dan orangtua nya selalu menjelaskan apa adanya kalau anak nya bertanya. Mereka punya 2 anak. Anak pertama laki-laki dan kedua permpuan, beda usia 3 tahun. Ya, kelakuan si kakak hampir persis seperti yg kakak tuliskan di atas, suka merebut mainan adik nya, tidak mau mengalah ke adiknya, mungkin karna anak pertama waktu masih tunggal masih banyak perhatian penuh kepadanya. Yaaa pokoknya hampir persis deh sama yg kakak alami. Ehm... Jadi makin percaya diri nih jalani peran sebagai Au Pair setelah baca tulisan kakak. Sekali lagi Thank you ya kak 😊👍

    ReplyDelete

Post a Comment

Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.