Panjat Sosial dalam The Talented Mr Ripley

Tom Ripley (Matt Damon) berparas menarik, muda, bermain piano dengan baik, berbadan bagus, memiliki pengetahuan musik dan cakap mengamati orang-orang. Kemampuan mengamatinya berkembang menjadi sanggup menirukan berbagai karakter. Dia memiliki banyak pekerjaan dari mulai menggantikan seseorang di sebuah pesta untuk bermain piano hingga bekerja di kamar mandi sebuah gedung Orkestra untuk membersihkan jas-jas para bangsawan dari debu. Tatapannya dibalik tirai gedung orkestra menggambarkan keinginan terbesar Ripley untuk menjadi bagian dari para bangsawan yang menonton pertunjukkan, bukan di balik tirai.

Kehidupan Ripley berlangsung di tahun 1955 buah karya penulis Patricia Highsmith yang lalu diadaptasi menjadi film di tahun 1999 oleh Anthony Minghella. Tom Ripley tidak beruntung, dilahirkan menjadi miskin di jenjang kehidupan sosial yang tak mendukung bakat-bakatnya. Jika dia terlahir di sebuah keluarga kaya dengan akses mudah menuju pendidikan serta kesejahteraan maka cerita kehidupannya akan jauh berbeda (mungkin). Dia lalu bermain peran, mula mula saat menggantikan seseorang bermain piano di sebuah Restoran untuk para tamu kaya, dia memakai jas almamater Princeton dan mengaku bersekolah di sana. Seorang bangsawan bernama Greenleaf lalu menyadarinya dan berasumsi bahwa Tom Ripley pastilah mengenali anaknya yang juga pernah bersekolah di Princeton, Dickie Greenleaf (Jude Law).



The Greenleaf adalah keluarga kaya yang terkenal di tahun 1955 sebagai perusahaan ekspor impor. Mereka lalu menawarkan pekerjaan pada Ripley untuk pergi ke Italia menyusul anaknya Dickie dan membawanya pulang ke New York. Mengingat Tom Ripley bersekolah di Princeton dan begitu pula anaknya maka akan lebih mudah untuk membawa Dickie pulang, katanya, Ripley pun diimingi pembayaran 1000 $. (di sini jalan cerita terlihat cukup berangan-angan mengingat begitu mudahnya seseorang percaya pada orang asing, walaupun Ripley memang bukan benar-benar orang asing yang baru bertemu)

Perbedaan kelas dari pakaian mungkin cukup terlihat di tahun 1950-an, jika merujuk dari pemilihan latar juga kostum. Secara tidak langsung perbedaan kelas ini tersirat dalam adegan ketika Ripley turun dari kapal Amerika-Eropa, Ripley tidak sengaja bertemu dengan Meredith Logue (Cate Blanchett) dan Ripley mengaku sebagai Greenleaf (mungkin untuk membuat Meredith terkesan karena nama Greenleaf begitu terkenal seantero Amerika-Eropa). Tom Ripley seperti yakin bahwa Meredith merupakan salah satu bangsawan atau orang terkenal. Meredith memang representasi "golongan bangsawan" dari tampilan luar.



Di awal film, premis yang disuguhkan meyakinkan penonton bahwa Tom Ripley akan berhasil melaksanakan misi yang diamanatkan oleh tuan Greenleaf menjemput anaknya.
Mengingat ketika sampai ke kota Mongibello, Italia, Ripley dengan berbagai tata bahasa olah tubuh dan kemampuannya menarik perhatian Dickie dan kekasihnya, Marge.
Si charming Dickie Greenleaf bahkan sedari awal sudah diberi "petunjuk" talenta Ripley.




Charming Dickie Greenleaf tidak menyadari bahwa yang dihadapannya adalah seorang yang "luar biasa".
Tom Ripley dapat mengambil hati Dickie dan Marge, sepasang kekasih yang memilih pantai dan kehidupan orang kaya Amerika di kota kecil Italia yang biaya hidupnya tak mahal.

Dickie Greenleaf mencintai Jazz, Tom Ripley juga seorang pemain piano yang tak jelek. Greenleaf semakin melihat Ripley sebagai "bro" ketika Vinyl pemusik Chet Baker berjatuhan dari tas Ripley, juga ketika Ripley meng-amin-ni bahwa Bird dari Charlie Parker adalah musik sesungguhnya. Semacam adegan: nice bro, you have taste. Bolehlaah kita hang out bareng.

Greenleaf lalu mengajak Tom pergi ke sebuah klub Artsy jazz kecil di pinggiran Italia. And they really having fun there! Jude Law ternyata bisa nyanyi ya

Tom Ripley sebenarnya adalah seseorang yang menarik dan benar-benar bertalenta. Tapi tekanan akan kehidupannya yang tak sesuai harapan juga kapabilitas dia yang minim akan melihat kemampuan dirinya, mendorong Ripley selalu memandang Dickie adalah pujaannya. Dickie yang tampan, charming, begitu baik hati dan orang kaya yang bersosialisasi dengan dirinya yang tak dilahirkan beruntung. Namun Dickie Greenleaf memiliki kecenderungan cepat bosan juga ingin selalu berpindah. Semacam ingin mencari jati diri sambil menikmati dunia. Horang kayahh bebasss

Greenleaf yang kadang lupa janji saking hidupnya selow dan hura-hura ini lama kelamaan jarang mengajak Tom Ripley bermain a.k.a bersosialisasi bersama. Dickie merasa sudah cukup kenikmatan sosial yang dirasakan Tom Ripley. Tapi Tom sudah diatas angan, panjat sosial yang bisa dia nikmati bersama Dickie Greenleaf begitu memabukkan dan menyenangkan, tepat seperti apa yang dia angankan selama ini. Di sisi lain Dickie Greenleaf kadang emosinya memang susah terkontrol. Terjadilah adegan perkelahian di perahu di tengah laut yang cukup membuat terbayang-bayang. (Jangan sekali-kali naik perahu bareng orang yang punya potensi out of control, apalagi jauh ke tengah)



Singkat cerita Tom Ripley setelah adegan perahu di atas, benar-benar menggunakan kemampuannya berbohong, ber-akting, memanipulasi fakta dengan cermat, cerdas dan sulit untuk dijatuhkan. Dickie Greenleaf adalah kuncinya untuk panjat sosial.

Hampir mirip dengan Matty Walker di film Body Heat, bedanya Matty menggunakan sensualitas tubuh untuk juga bisa panjat sosial. Keduanya menciptakan skenario ampuh yang tidak disadari para tokoh bermain di dalam film. Plot-plot yang akan penonton cermati membuat gemas sekaligus kesal. Ingin sekali rahasia Tom terkuak, maupun melihat Matty Walker di film Body Heat gagal, tapi di sisi lain bagaimana akhir ujung cerita jika ternyata keduanya berhasil dan mendapatkan apa yang mereka inginkan juga menggelitik penasaran.

Film ini dapat dikategorikan sebagai suspense. Premis film suspense menarik, seperti apa yang diutarakan Master of Suspense, Alfred Hitchcock:
Suspense bukanlah tentang mengungkap misteri, suspense adalah untuk menggoda penonton. Suspense menawarkan sebuah kenyataan di awal yang dipegang oleh pemeran utama maupun antagonis tapi tidak diketahui oleh tokoh-tokoh lain di dalam film. Yang mengetahui fakta yaitu pemeran utama dan penonton.

Pernah melihat film di mana kita sudah tau siapa pembunuhnya? Atau di mana mayat tersimpan? atau di mana bahaya berada? Tapi tokoh-tokoh lain di dalam cerita atau film putar otak ke sana kemari mencari tahu, hampir menebak, kebingungan dalam misteri.
Kita sebagai penonton seperti dibuat belingsatan bahkan bicara atau teriak sendiri berusaha memberi tahu tokoh lain bahwa "ITU MAS ITU DISITU MAYATNYA" atau "ASTAGA PEMBUNUHNYA DEPAN ELO"

Yap! That's suspense.

Panjat sosial bisa jadi berbahaya dan manipulatif, harap tak perlu meniru Tom Ripley. Bagaimana akhir film silakan dinikmati sendiri jungkir balik gemas sekaligus kagum akan kehebatan Tom Ripley memanipulasi sekaligus berakting. Untuk yang tak begitu menikmati suspense setidaknya bisa mengagumi pemandangan kota-kota kecil di Italia tahun 90an yang disuguhkan begitu ciamik di film ini.


Panjat Sosial beda cara

Matt Damon memainkan film lain bertema yang sama, masih tentang panjat sosial. Yakni "Good Will Hunting". Andai saja Tom Ripley belajar dari Will Hunting, seorang janitor di sebuah Universitas yang ternyata seorang maestro Matematika. Dia ditemukan seorang Profesor ketika Will menjawab soal matematika tersulit di papan tulis lorong. Will juga berbakat, dan sama sama terlahir di kehidupan yang tak memiliki akses kehidupan nyaman, dia tinggal di lingkungan miskin dan besar akan kerasnya jalanan.



Will Hunting hidup sendirian ditemani buku (yang tentu teman-temang "geng" nya tak tahu bahwa dia senang matematika). Satu-satunya keberuntungan dan kunci nya untuk panjat sosial adalah Will bekerja membersihkan lorong di Universitas, namun belajar lebih banyak dibanding mahasiswa Universitas itu sendiri.
Bisa dibilang perbedaan Will dan Tom adalah, Will memiliki "support system" yang mumpuni. Caranya panjat sosial melalui pendidikan. Keberuntungan ada pada keduanya: Tom Ripley dan akses sosialnya bersama Dickie Greenleaf, juga Will Hunting bersama akses pendidikannya bersama dosen yang kebetulan menemukan kehebatannya.

Keduanya sama sama pribadi yang belum matang. Cenderung tak intelektual dalam hal emosi,  Namun Will Hunting ditemukan oleh Professor Gerald Lambeau lalu menjalani terapi bersama Maguire (Robin Williams). Keberuntungan lain yang dialami Will kemudian adalah dia dipertemukan oleh orang-orang baik.

Dickie Greenleaf pun juga merupakan pribadi yang tak buruk-buruk amat, namun Dickie adalah pribadi muda yang sama tak bijaksananya dengan Tom Ripley. Alhasil hasil panjat sosial yang diusahakan oleh Ripley tak berbuah manis seperti Will Hunting.



"Good Will Hunting" dan "The Talented Mr Ripley" menawarkan ujung cerita yang sama sama tak terduga.  Keduanya mengajarkan bagaimana panjat sosial dengan berbagai cara, juga sebuah kenyataan, bahwa kebahagiaan kadang datang bukan dari status sosial itu sendiri. Ada hal lain yang lebih penting, jauh daripada status sosial, misal: kualitas diri? Well, how do you think?

Comments