Romantisme nostalgia setiap individu tidak serupa. Dinamika kehidupan saya berubah, berpindah, berbeda dan terasa begitu jauh, hingga ketika pulang mengalami sensasi perasaan yang unik.
Tempat-tempat tertentu berdiri seperti biasanya. Sama seperti saya yang jarang mengunjungi, mungkin beberapa orang hanya tidak punya waktu saja untuk datang, tapi mereka tetap bisa melampaui jarak. Masih dapat diraih atau diusahakan. Saya pun bisa, tapi sulit dan mahal sekali.
Saya menyadari hal lain: tidak tahu pasti kapan akan pulang kembali.
Mungkin dalam satu tahun ke depan, atau 6 bulan? atau 2 tahun?
Beberapa orang tetap sama, beberapa tempat berdiri di situ saja. Waktu tanpa lengah berlari merangkul semesta. Dia berlari dengan kencang, saya berusaha menyusul dan ikut berlari.
Tapi untuk satu bulan, saya mencoba berhenti sebentar. Ini memang waktu istirahat yang saya rindukan, I need to shut down. Saya butuh energi dari negeri tempat matahari bersinar.
Saya pulang ke rumah, Indonesia.
Ah orang-orang ini, seberat apapun permasalahan yang dihadapi, se-semrawut apapun kehidupan, ada gairah positif yang tak saya temukan di Jerman. Saya merasakan perbedaannya, kehangatan yang eksklusif.
Saya butuh menyerap energi-energi ini, melihat karya, mendengar cerita, berbagi kesedihan ataupun kebahagiaan dari keluarga, teman-teman dan orang-orang. Mencari inspirasi, bersinergi.
Sebuah artikel mengatakan, di tiap-tiap kala kehidupan kita. Ada bagian-bagian dari diri yang akan menempel pada elemen di sekitar, molukel serta partikel tubuh dan lingkungan saling berkelindan. Maka tidak heran, sebuah kota / tempat / manusia atau apapun menyimpan perasaan, dan kita merayakannya.
Saya memasukki kamar yang selama 24 tahun menyaksikan saya bertumbuh, ada bersitan bayangan saya di sudut satu dan lainnya, saya yang bocah kecil dan mendengarkan dongeng, yang remaja dan membaca majalah mode busana, yang dewasa dan mendalami filsafat, sastra.
Dahulu keputusan-keputusan besar saya buat di kamar itu, tangisan dan kekecewaan saya limpahkan di tempat yang sama. Kamar yang sempit sekaligus luas, membimbing imajinasi saya begitu jauh lewat buku dan film sekaligus menghimpit saya dengan kenyamanan yang menggelisahkan. Waktu itu secara mengejutkan kamar tercinta saya mendesak dengan begitu kencang. Saya merasakan sesak, tak nyaman, seperti berada di peti mati, saya depresi, saya ingin pergi. Ruangan kecil itu seperti memahami jiwa saya dan mengusir saya pergi. Kamar mungil di sebelah pohon Mangga seperti berteriak: "SUDAH SAATNYA KAMU PERGI KELUAR DARI SINI", tanpa kamar yang menghimpit secara tiba-tiba mungkin saya akan terus menunda-nunda kepergian ke Jerman hingga tidak terasa sudah terlambat.
Ketika datang ke gedung kampus tempat saya berkuliah S1, ada rasa yang saya bingung sekali padanan katanya. Tapi biarlah, tak perlu didefinisikan dengan sempit.
Tangga kampus menyaksikan pengharapan dan pembicaraan di masa lalu, yang begitu optimis (Tingkat optimistis saya saat ini tidak sebesar dulu). Lorong-lorong menggaungkan perbincangan, merekam kejadian dan candaan. Hampir jarang sekali saya sendirian di kampus ini, selalu diliputi manusia dan pertemanan atau pacar.
Saya tidak terlalu ingat, apakah dulu saya punya waktu sendirian dan bertanya atau menangkap banyak hal?
Sepertinya tidak, karena waktu berkontemplasi saya jalani di akhir masa perkuliahan, cukup terlambat.
Ah menyesal sekali, ketika yang dipikirkan saat kuliah semester awal dulu adalah IPK yang tinggi, IPK saya tidak terlalu membawa saya ke titik ini sebenarnya, karena saya bukan mahasiswa yang pintar-pintar amat. Dan ternyata sekarang juga saya tidak peduli dengan nilai-nilai yang hanya jadi tulisan di ijazah. Tips: jika tahu kalau anda bukan manusia yang cerdas dan calon mendapatkan IPK tinggi, cari kegiatan lain dan berkarya di situ.
Kampus saya tidak sempurna dan kurang di sana sini, yang saya sadari alangkah banyak hal-hal yang dapat diperbaiki, tapi kampus tersebut mau tidak mau membentuk saya jadi seperti ini.
Mengunjungi tempat dan bangunan lebih mudah daripada bertemu seseorang. Ternyata tidak cukup dengan saya yang datang jauh sekali dari Jerman. Ini usaha dari dua individu, orang lain pun ditenggelamkan rutinitas pekerjaannya. Apalagi yang sudah seumur saya..
Saya hanya punya waktu sebentar, mereka punya waktu singkat.
Generasi kami harus mengisi perut dengan hasil kerja keras upaya sendiri atau mengurusi buah hati yang masih balita dan bayi. Rasanya memang egois, mengerucutkan 2 tahun setengah tanpa pertemuan dengan beberapa jam obrolan. Menyambung relasi membutuhkan waktu lebih dari itu. Tapi saya senang, dengan semua perbincangan yang saya temui.
Sudah lama sekali saya tak berbincang panjang lebar. Dari yang santai-santai soal makanan atau gaya hidup hingga mengenai sejarah dan konsep-konsep Indonesia. Atau perbincangan langlangbuana soal keresahan kaum milenial menengah yang hanya di permukaan saja, resah akan kemiskinan yang sebenarnya tak pernah tau-tau amat soal itu. Politik tentu saja, atau energi terbarukan dan ekonomi. Geliat-geliat kopi, musik dan start up di Bandung. Budaya - budaya dan masyarakat di Bali. Penelitian-penelitian dan orang-orang hebat yang belum punya kesempatan untuk melihat negara-negara Eropa.
Saya semakin meyakinkan orang-orang luar biasa yang saya temui: "Kurang-kurangi mengglorifikasi negara maju". Hidup di Jerman bukan untuk pelarian atas kekecewaan yang terjadi di negara sendiri, lakukan karena alasan-alasan pengetahuan serta ilmu, juga tumbuh sebagai pribadi sendiri yang ingin tahu lebih banyak. Negara maju pun punya kekurangan, dan hidup di mana pun tak pernah mudah.
Terbiasa dengan gedung-gedung arsitektur khas benua biru, rel Tram di tengah kota, melihat banyak sekali manusia dengan warna kulit lebih terang, rutinitas Jerman. Tabrakan perbedaan karakter manusia yang konstan, hingga karakter saya yang tanpa saya sadari ikut berubah mengikuti bahasa apa yang saya pakai. Membuat saya begitu mengagumi manusia-manusia Indonesia, menikmati matahari dan panas. Mencoba beradaptasi dengan keriuhan padatnya manusia.
Kadang saya ingin mengucapkan
"Schönen Tag noch"
Atau
"Ich wünsche Ihnen"
pada pegawai kasir, pelayan di Restoran dan bapak yang membantu parkir, tapi bingung sekali dengan padanan kalimat yang tidak biasa diucapkan di sini:
"Semoga Hari Anda Menyenangkan"?
Suatu waktu paman di warung pecel lele tertawa mendengar perkataan saya yang begitu kaku.
Ketika itu saya memesan air jeruk hangat, namun ketika jeruk datang tetiba terbersit pikiran untuk menambahkan es.
Saya berdiri dan kembali ke Aa penjual sambil berkata tanpa sadar:
"A aku berubah pikiran, air jeruknya boleh ditambah es?"
Paman yang duduk di dekat kami dan menyaksikan tertawa terpingkal, karena mendengar kata "berubah pikiran" yang terasa begitu kaku. Ah saya kadang tidak sadar.
Saya menyapa semua orang pertama di Restoran, kedai atau kasir Alfamart, karena tanpa sadar terbiasa, dan tanpa sadar itu bukan hal yang lumrah di Indonesia.
Setiap hendak membayar barang di kasir, saya menyapa pegawai penjaga lebih dulu dengan "Hallo, atau Hai teh/A"
Saya menyapa barista di Coffee Shop dengan senyum dan "Hallo" (yang dibalas dengan tatapan kaget plus aneh). Saya masuk ke sebuah toko pakaian dan menyapa "Hai A" pada penjaganya.
Saya menyapa semua orang, karena hey saya sedang pulang ke rumah. Saya bertemu orang-orang Indonesia!
Membayangkan kuliner apa saja yang dicoba dan menikmatinya ternyata tidak selezat kesederhanaan pecel lele di tenda pinggir jalan yang tanpa direncanakan atau Warung Bu Imas di saat hari terik karena sedang kebetulan berada di daerah pasar baru (tanpa rencana). Tentu tetap saja kelezatan tertinggi adalah masakan mama di rumah, ah makanan yang dibuat dengan cinta memang tak pernah ada tandingannya.
Pembicaraan pertama saya dengan apap dan mamah ketika menginjakkan kaki di Indonesia adalah ketika bermacet ria di puncak menuju Bandung. Bukan tentang pertanyaan kapan saya menikah, atau lulus atau hal-hal begitu viral yang jadi bahan pergunjingan di internet atau pada group keluarga.
Tentang kebaikan.
Hukum lintas kepercayaan dan agama, memproduksi kebaikan. Saya sudah bersiap membantah jika ayah dan ibu mengafiliasikannya dengan pahala (karena saya keberatan dengan orang-orang yang berbuat baik demi balasan pahala di akhir nanti), demi niat yang lain, tidak ikhlas sekali. Tapi kala itu mereka tak berbicara soal pahala. Berbuat baik adalah hukum dasar sebagai manusia yang dampaknya bukan lagi soal balasan di hari akhir, dampaknya untuk jiwa. Kebaikan tanpa diminta memancar dan seperti magnet, menarik kebaikan-kebaikan lain mendekat.
Itu kenyataan yang saya dapat hingga hari ini, hingga tulisan ini dibuat.
Saya teringat Immanuel Kant yang menegaskan, bahwa moralitas, yakni pemahaman tentang baik dan buruk, sudah selalu tertanam di dalam akal budi kita sebagai manusia (Vernunft). Menjadi baik itu rasional, karena sesuai dengan kodrat alamiah akal budi kita. Hukum moral sudah selalu tertanam di dalam sanubari manusia, dan mewujud secara konkret di dalam kewajiban (Pflicht) hidup sehari-hari yang dijalankan dengan setia.
Tapi kenapa masih ada yang tidak baik? Jika difilsafati maka jawabannya mungkin dasar paling kokoh dari kebaikan adalah kesadaran sepenuhnya akan jati diri sejati kita (awareness of our true self). Artinya, kita paham, siapa kita sebenarnya, sebelum segala identitas sosial ditempelkan pada kita.
Dengan menyadari jati diri sejati kita sebagai manusia, kita lalu juga sadar, bahwa jati diri sejati kita sama dengan jati diri sejati seluruh alam semesta. Kita semua adalah satu. Tidak ada perbedaan. Perbedaan hanya dibuat oleh bahasa, konsep dan pikiran yang kita rumuskan sendiri.
Rumah
Bandung adalah kota kelahiran, tempat saya dibesarkan dan bahkan tempat ayah dan ibu saya lahir juga dibesarkan, kakek nenek pun orang Bandung. Riwayat keluarga saya tak terlalu multibudaya. Alhasil saya memang mengakar di kota tersebut, saya tak pernah pindah rumah barang satu atau dua tahun, selalu di Bandung hingga hari keberangkatan saya ke negara perantauan, Jerman.
Terlalu banyak partikel dan molekul yang terambil di setiap tahun saya bertumbuh menjadi manusia, di setiap sudut kotanya. Saya tak berbangga diri, karena bingung apa yang dibanggakan, lahir di Bandung bukan suatu hal yang saya minta, itu memang takdirnya.
Saya menyukai kompleks rumah saya yang dekat sawah, atau menyusuri jalan hingga naik ke utara melewati pohon-pohon besar di Cipaganti. Berjalan kaki di sudut-sudut jalan Trunojoya yang mungil dan becek setelah hujan. Tak pernah menyukai ramainya pasar baru tapi jatuh cinta dengan Warung Kopi Purnama.
Merasa bahwa Ujung Berung itu jauh tapi sadar bahwa saya menghabiskan masa SMA di sekitar sana.
Selalu terbersit ingatan masa kecil di Gatot Subroto melihat pembangungan Trans Studio Mall karena SD saya di depannya, kami bermain ke sebrang untuk melihat Barongsay ketika pembukaan Mall tersebut (namanya masih Bandung Super Mall). Masih menganggap SKJ adalah kegiatan paling menyenangkan di pagi hari dan tak pernah menyesal belajar sedikit pencak silat.
Menghabiskan 3 tahun di daerah Buahbatu karena SMP saya di Solontongan. Ah ternyata saya ini tak pernah selalu melulu di kawasan yang sama. Bertahun-tahun selalu mudik ke Kopo karena rumah nenek saya di sana, belum lagi kawasan-kawasan sodara dan teman-teman yang saya kunjungi untuk bermain.
Perjalanan istirahat ini tak cukup sebulan saja, ternyata saya tak keberatan jika melanjutkan perjuangan berlari ini di Indonesia. Di Warung Kopi Purnama pada sebuah perbincangan saya berkata tentang bagaimana kesejahteraan dan keamanan di Jerman yang akan terus saya dapat jika terus melanjutkan apa yang saya mulai di negara tersebut dan terus berada di sana. Tetapi saya jadi sekrup bagian dari peradaban yang memang sudah maju dengan sistem yang baik. Saya gelisah ketika hanya bermanfaat untuk saya sendiri, untuk orang-orang di Jerman ini yang tanpa saya pun ya mereka tetap maju-maju saja. Apa ilmu saya tidak bisa digunakan oleh lebih banyak orang? Ah saya tidak tahu, apakah ini cuma omong kosong idealisme muda?
Namun saya yakin, semoga ilmu saya ini bisa bermanfaat bukan untuk saya sendiri saja.
Inget jaman dulu kerja ngerantau rolling travelling terus, sendirian. Sampai ada di titik muak travelling, balik Bandung dan ramah sama semua orang karena senengnya bisa denger bahasa Sunda. Makan masakan Sunda, masakan ga enak di warnas aja masih tetep bikin galau ketika inget harus balik ngerantau 😢 Dan balik kampung bukan jadi jawaban untuk memulihkan energi, yang ada malah jatuh di titik nol harus ngerangkai mental kembali.
ReplyDeletePemulihan energi masing-masing orang sepertinya beda-beda. Ada yang pulang kampung malah jatuh di titik nol dan ada yang merayakkan titik nol tersebut juga. Masing-masing punya perjalanan dan pembelajarannya sendiri-sendiri. Terima kasih sudah berbagi loh :)
Delete