Menuliskan yang Ditakutkan
Saya harus menulis ini sebagai langkah yang saya harap menjadi awal rekonsiliasi saya dengan diri saya sendiri.
Bertahun-tahun yang lalu mungkin sepuluh tahun silam saya jatuh cinta dan berpacaran dengan betul.
Jadi saat itu adalah saat di mana saya mengalami perasaan menyayangi orang lain yang bukan saya sendiri dan bukan keluarga saya. Rasanya menyenangkan, walaupun ibu saya selalu berpesan, "Janganlah terlalu menyayangi seseorang hingga memberikan segalanya dan mengenyampingkan harga dirimu".
Sambil terus membiarkan perasaan saya larut, sambil saya juga tetap menjaga diri saya sendiri agar tidak terlalu jatuh, berusaha mengingat pesan ibu. (Walaupun ujungnya jatuh juga). Dua tahun kami menjait kenangan satu sama lain, ada saja tentu di mana berselisih paham. Mungkin saya salah, tapi seingat saya, saya bukan perempuan yang menyebalkan. Jika saya mendengar bagaimana dinamika romansa teman-teman saya yang lain, saya bergidik karena tidak jarang pasangan-pasangan ini saling menyakiti satu sama lain, dipenuhi rasa curiga, cemburu dan posesif. Melarang ini itu, tidak saling mendukung, tidak saling bercerita.
Saya yang baru pertama kali pacaran dengan serius ini tidak tahu menahu memang, standarisasi pacaran sehat itu seperti apa. Namun saat itu saya merasa kami tidak saling menyakiti dengan sengaja. Pasangan saya pada saat itu mengatakan bahwa seharusnya pacar kawan-kawan lelakinya itu melihat saya sebagai contoh. Saya percaya, saya percaya bahwa kami baik-baik saja. Saya percaya bahwa saya cukup. Saya percaya bahwa hubungan kami selalu didasari akan kejujuran. Sampai akhirnya saya mengalami patah hati pertama kalinya.
Saya ingat selalu malam itu, pasangan saya datang ke rumah. Dia berkata dia menyukai perempuan lain. Dia mengaku, bahwa belum sampai pada tahap selingkuh karena dia menghargai saya. Alasan utama dia datang adalah untuk mengakhiri hubungan dengan saya, agar dia bisa mendekati perempuan yang dia suka tanpa harus menyakiti saya.
Saat itu rasanya saya seperti mati rasa, badan dan jiwa saya punya perlindungan diri untuk tidak merasakan apapun ketika saya benar-benar sakit hati. Saya merasa harga diri saya diinjak. Kesedihan berubah menjadi kemarahan dan dendam. Ternyata yang selama ini baik-baik saja itu asumsi saya sendiri. Dia tidak merasa cukup dengan saya, dia merasa perlu memperjuangkan perempuan lain. Dalam hubungan itu saya merasa keberadaan saya seperti tidak berarti apa-apa. Saya mempertanyakan value saya sebagai perempuan, kenapa saya kurang? Kenapa bukan saya yang diperjuangkan? Saya tidak pernah macam-macam dengan lelaki lain, saya tidak pernah menanggapi godaan dari lelaki lain. Saya menjunjung fairness dalam hubungan komitmen tersebut, tapi tetap saja saya tidak cukup.
Ini jarang saya bicarakan pada siapapun sebelumnya namun alasan ini juga menjadi sebuah luka yang begitu menggerogoti saya. Pasangan saya saat itu begitu penasaran dan menggebu untuk mendapatkan juga memperjuangkan perempuan lain yang sudah memiliki pacar.
Kenyataan itu semakin melukai saya begitu dalam. Lelaki ini meninggalkan saya untuk memenuhi rasa penasarannnya, memperjuangkan untuk mendapatkan perempuan yang sudah punya komitmen dengan orang lain... Padahal saya ada di hubungan itu sebagai seseorang yang menyayangi.
Saat itu saya begitu marah. Sedih sekali karena saya semakin bertanya-tanya, seburuk apa saya hingga pasangan saya ini harus mendekati perempuan lain yang sudah punya pacar?
Saya belum pernah merasakan perasaan sesakit itu seumur hidup saya. Saya begitu dendam yang saya salurkan untuk berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya ini cukup.
Singkat cerita pasangan saya saat itu mendekati saya kembali setelah 4 bulan. Dia berkata bahwa dia menyesali perbuatannya, dia menginginkan kesempatan ke dua. Saya menerimanya..
Sekarang setelah dipikir kembali alasan kenapa saya memberi kesempatan kedua cukup membingungkan. Seingat saya, saya belum pernah membicarakan kenapa dia mendekati perempuan itu, kenapa dia ingin kembali pada saya. Apakah karena dia tidak berhasil mendapatkan perempuan itu akhirnya dia kembali pada saya? Mencoba-coba apakah bisa saja saya masih sudi untuk memberi kesempatan. Yang ternyata memang betul diberi.
Saya hanya ingat bahwa rasanya saya memenangkan pertempuran, bahwa dia menyesali perbuatannya dan kembali pada saya. Saya tidak pernah menimbang bahwa kepercayaan yang dicederai akan berdampak hebat pada hubungannya. Saya belum tahu bahwa hubungan bukanlah mengenai kalah dan menang.
Dalam kesempatan ke dua saya berpacaran saya berubah menjadi sosok perempuan yang menyebalkan.
Saya menjauhi diri saya sendiri. Saya tidak memfavoritkan pribadi saya saat itu. Begitu posesif, pencemburu, attach, demanding, senang sekali marah dan kami mulai sering menyakiti satu sama lain. Lama kelamaan rasa sayang digerogoti oleh ketidak percayaan yang terus menerus. Singkat cerita saya memutuskan untuk menyudahi hubungan tersebut.
Saya yakin saya tidak benci dengan dia, bahkan saya begitu lega dan bahagia ketika dia menikah. Dengan orangnya saya tidak memiliki masalah yang mendendam, tapi dengan peristiwanya.. Kejadian itu mengendap menjadi pola di alam bawah sadar saya.
---------------
Perempuan dalam peristiwa pengalaman pertama saya dikejar dan diperjuangkan oleh pacarnya dan oleh pasangan saya saat itu.
---------------
Butuh waktu dan tenaga untuk mulai mencintai dirimu sendiri dengan segala kekurangan yang kau sadari. Butuh penerimaan yang mati matian ketika saya merasa bahwa saya tidak pernah sebegitu diperjuangkan oleh orang lain. Bahwa saya selalu belum dirasa cukup oleh pasangan saya.
---------------
Saya memandang komitmen adalah sesuatu yang penting, itu adalah janji. Itu seperti penerimaan dan pengorbanan. Jika saya mau, saya bisa saja melakukan hal yang sama. Tapi komitmen untuk saya sulit sekali untuk dicurangi, entah kenapa.
---------------
---------------
Peristiwa sepuluh tahun silam, saya sadari menjadi hal yang begitu traumatis ketika saya menemukan sedikit pola yang sama dengan saat itu.
---------------
Saya tidak takut jatuh cinta kembali, bahkan lebih daripada sebelumnya. Perkataan ibu saya tidak terlalu saya indahkan, biarlah saya menyayangi lelaki ini sepenuh-penuhnya saya sebagai perempuan. Mencintainya dengan tulus sekali. Saya percaya padanya, karena sepertinya dia tahu dan paham komitmen seperti apa yang ada dalam kepala saya. Dan dia mengamini itu, ada bersama saya.
Saya yang terseok-seok menumbuhkan kembali rasa bahwa saya adalah manusia yang cukup, kembali merasa terlukai begitu pedih ketika mengetahui keberadaan saya dalam sebuah hubungan terlihat tidak begitu berarti ketika pasangan saya mengikuti rasa penasarannya. Lagi, lagi rasa penasaran..
Seperti perjuangan saya dijatuhkan. Menjadi perempuan yang memegang komitmen penuh, mencintai penuh, selalu menjadi pihak yang mempertanyakan kembali nilainya. Apakah dengan ada saya dalam hidupnya ini kurang? Saya harus selebih apa lagi?
---------------
Lelaki ini pernah mempunyai pengalaman bahwa dia diselingkuhi. Dia dicurangi dalam hubungannya, saya begitu empati dan sedih, karena dia begitu baik. Begitu saya sayangi. Saya merasa terkoneksi karena perasaan dicurangi juga pernah saya rasakan. Maka saya percaya, dia akan tahu bagaimana rasanya dicurangi. Saya percaya bahwa dia memandang komitmen sama seperti saya.
Di kisahnya dulu, perempuan yang selingkuh dalam cerita lelaki ini membuatnya begitu hancur, tapi tetap saja pada saat itu dia diperjuangkan habis-habisan. Walaupun sudah jelas perempuan ini curang. Dia mengejarnya, hingga sebegitunya. Saya iri.
---------------
Perempuan dalam kisah kedua. Berselingkuh, tapi tetap saja diperjuangkan, seperti bisa memilih antara lelaki itu dan selingkuhannya.
---------------
Saya sering sekali merasa, bahwa saya tidak pernah diperjuangkan oleh siapapun.
Mendengar kisah bagaimana lelaki-lelaki ini memperjuangkan perempuan-perempuannya ternyata menimbulkan rasa yang semakin membuat saya seperti berada di pojokkan. Saya merasa menjadi manusia yang tidak cukup dan harus selalu berkompetisi untuk bisa diperjuangkan orang lain dengan sekeras itu. Rasanya sering sekali begitu pedih dan sendirian.
Saya menyadari trauma saya selain kepercayaan adalah bahwa asumsi di kepala saya bahwa saya tidak pernah bisa menjadi cukup untuk siapapun. Ini semakin tertrigger ketika saya mendengar curhatan dari seorang lelaki yang adalah selingkuhan seorang perempuan.
Kisah ini baru sekali. Saya menjadi tempat menumpahkan keluh kesah dari seorang lelaki yang baik, teman saya. Dia terjebak dalam sebuah hubungan perselingkuhan. Tidak bisa pergi karena ketika mencoba untuk pergi perempuan yang memang sudah punya pacar itu datang terus, selalu datang dan mencari. Perempuan itu seperti ingin mendapatkan keduanya.
Lelaki ini bercerita bahwa hidupnya begitu hancur dan membingungkan. Saya yang melihat dari luar, rasanya sudah ingin berkata untuk meninggalkan perempuan itu. Tapi dia tidak bisa, dia tidak mampu. Dalam perspektif saya perempuan ini jahat sekali. Namun tetap sang lelaki ingin memperjuangkannya hingga penghabisan.
---------------
Perempuan dalam kisah ketiga. Mencurangi komitmen, untuk bisa berada di antara dua lelaki. Tidak mau memberi ketegasan apapun. Menyiksa keduanya, tapi tetap, diperjuangkan oleh lelaki-lelakinya.
---------------
Sebagai perempuan saya sadar penuh kemampuan seorang perempuan untuk menggoda bahkan memperjuangkan lelaki (tidak peduli apakah lelaki tersebut sudah punya pacar atau bahkan punya istri). Sebagai perempuan saya juga tahu saya selalu punya celah, punya cara, punya kesempatan untuk mengikuti penasaran saya, untuk masuk ke dalam hubungan orang lain, bahkan untuk mencurangi komitmen yang saya buat. Sebagai perempuan saya tahu sebenarnya saya bisa saja iseng untuk medekati lelaki lain, atau bisa saja saya merasa nyaman dengan lelaki yang bukan pasangan saya pada saat itu. Perempuan selalu punya cara. Selalu. Sebesar itu sebenarnya kekuatannya, sehalus itu. Perempuan bisa memanfaatkan orang lain untuk kenyamanannya sendiri, bisa tidak mempedulikan perasaan orang lain untuk egonya sendiri, bisa mencari pembenaran untuk hal yang tidak bisa dia hadapi. Mungkin itu instingtif agar bisa bertahan hidup. Entahlah... Hanya tinggal pilihannya, untuk menjaga sebuah komitmen sebagai sesuatu yang penting. Saya dilindungi prinsip yang begitu mengakar, saya menaruh loyalitas dan janji pada sebuah komitmen. Alhasil ketika orang lain mengikuti rasa penasaran, mencoba-coba hal sepele untuk iseng. Entah kenapa saya merasa... seperti lagi dan lagi saya dikalahkan oleh perempuan lain..
Padahal mungkin tidak seperti itu...
---------------
Saya menyadari, perasaan bahwa saya bukan perempuan yang cukup berharga untuk diperjuangkan adalah yang menghantui saya.
---------------
Ketika tahu pasangan saya mengikuti rasa penasaran untuk mencoba menggoda perempuan yang pernah dia coba untuk dekati, saya begitu terluka. Karena lagi dan lagi saya yang sudah ada dalam hidupnya dengan kasih sayang dan janji seperti tidak berarti keberadaannya, seperti tidak cukup.
Selain kepercayaan saya dicederai, saya seperti mundur jauh sekali untuk kembali ke tahap di mana saya mempertanyakan kualitas saya sendiri sebagai perempuan yang cukup. Untuk diperjuangkan untuk diinginkan keberadaannya.
Itu yang lebih sakit. Mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu adalah manusia yang cukup seperti tidak sesuai dengan realitanya, karena saya lagi-lagi mempertanyakan apakah saya sekurang itu? Karena lagi-lagi saya berakhir sendirian.
Lagi-lagi dalam kisah ini saya kehilangan..
----------------
Rekonsiliasi saya akan berjalan panjang, karena saya beberapa kali menjadi saksi dari lelaki baik yang memperjuangkan perempuan yang prinsipnya tidak sama seperti saya. Dan saya harus menjadi saksi bagaimana sakitnya lelaki-lelaki ini karena perempuan tersebut, tapi yang saya akui saya begitu iri, boleh jadi saya salah, hanya saja keliatannya perempuan-perempuan ini diperjuangkan dan dicintai begitu hebat.
Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.