Kejarlah Daku Kau Kutangkap (fun review)
Biasanya saya nggak pernah tulis review film tapi kali ini saya mau coba buat review salah satu film Indonesia yang keren dan baru aja saya tonton Selasa kemarin. Saya baru pertama kali nulis review film dan akan saya coba tulis berdasarkan apa yang saya rasakan sebelum menonton, saat menonton dan setelah menonton. Here we go
Film produksi tahun 1986 ini disutradarai oleh Chaerul Umam dan penulis skenarionya tak lain tak bukan adalah Asrul Sani. Pemainnya? Well kamu bisa liat di poster: Lidya Kandouw dan Deddy Mizwar.
Sebelum Menonton
Partner saya di komunitas bilang film ini lucu dan bikin ketawa. Awalnya saya hanya nilai lewat posternya dan pemain, Deddy Mizwar? Oke saya anak 90an dan saya taunya beliau waktu uda tua apalagi jamannya bulan puasa beliau makin terkenal lewat sinetron relijinya dan iklan sosis. Lalu sekarang jadi wakil gubernur Jabar --"
Karena mind set saya uda penuh sama sinetron relijinya yang sampe bertaon taon selalu ada tiap Ramadhan ekspektasi saya waktu awal nggak ngarep-ngarep banget ini film bakal saya suka. Pemain perempuan: Lidya Kandouw, jujur saya belum pernah nonton sama sekali filmnya bu Lidya (berasa akrab panggil ibu) yang saya tahu lewat acara gosip aja kalau beliau Ibunya dua bersaudara pemain sinetron Mirdad dan istrinya Jamal Mirdad atau kalaupun saya pernah nonton filmnya mungkin saya lupa, kalau saya lupa berarti filmnya nggak terlalu mengena di hati. Tapiiii penulis skenarionya Asrul Sani, nah dari situ ekspektasi saya naik dan yakin kalau filmnya pasti bagus.
Skrip itu bagaikan bahan utama sebuah film, film dengan skrip bagus pasti hasilnya juga film berkualitas.
Saya sengaja nggak cari-cari review dulu atau cari sinopsis filmnya tentang apa, let them surprise me. Lebih suka gitu kadang kalau nonton film, soalnya kalau baca sinopsisnya dulu jadi ngebayangin kaya gimana dan kalau nggak sesuai bayangan jadinya agak kecewa.
Saat Menonton
Perlu diketahui bahwa Indonesia tidak memelihara artefak apalagi artefak film. Film-film jaman dahulu itu susaaaaaahhh banget dicarinya, mau film asli mau film bajakan, dua duanya susah. Film pertama yang dibuat oleh bangsa kita itu tahun 1926 dengan judul Loetoeng Kasaroeng tapi sekarang filmnya uda meninggal. Seriously nggak ada, uda punah, nggak tau ada dimana, nggak tau siapa yang simpan. Jadi kita cuma bisa denger katanya aja, nggak bisa liat filmnya kaya apa. Beda banget sama film-film buatan Amerika atau Eropa, film-film taun 20an mereka itu masih ada dan bagus, resolusinya nggak remek serta gampang diakses.
Intinya, ketika mendapatkan film ini untuk niat tontonan edukasi budaya walaupun resolusinya kecil dan di awal muka-muka pemainnya nggak jelas disebabkan resolusi kecil tapi ditonton lewat projektor kita uda bahagia.
Saya terhanyut dengan skrip bahasa Indonesia yang baku tapi entah kenapa saya menikmati seluruh bahasa-bahasa baku dan kadang aneh itu. Dialog yang ditampilkan pun cerdas dan komedi-komedi satir berseliweran. Saat menonton saya banyak setuju dan tersentil dengan apa yang dikatakan oleh pemain. Sentuhan dan pemikiran Asrul Sani sangat terasa di film ini.
Premis yang ditampilkan film ini padahal cukup simpel, tentang dua orang sejoli yang terlibat cinta dan berujung di pernikahan. Namun bagaimana menjalani pernikahan dan bagaimana ilmu tentang dua manusia khususnya laki-laki dan perempuan dengan dua pemikiran dan dua kebiasaan berbeda ditunjukkan disini.
Karakter dari tiap pemain sangat kuat, bagaimana Ramadhan (Deddy Mizwar) yang periang awalnya mengejar-ngejar Mona namun belakangan jadi takut dia tidak bisa memimpin keluarga saat di pernikahan, bagaimana Mona (Lidya Kandouw) yang anggun tetapi pengatur layaknya perempuan pada umumnya dan tidak menyadari insekuritas suaminya, lalu ada juga Markum paman Ramadhan yang dingin dan pemikir tapi lucu serta Marni sahabat Mona yang pemarah dan tegas. Mereka semua memberi sentuhan pelajaran dan tindakan pada setiap adegan di film.
Terpingkal? Ya, beberapa kali saya terbahak karena adegan-adegan komedi serta dialog-dialog yang disuguhkan. Rindu saya terhadap film komedi yang seru terobati.
Setelah Menonton
Buat saya indikator sebuah film menggugah atau tidak penonton adalah apakah setelah menonton ini kami akan membicarakannya. Menggugah disini bukan hanya berarti filmnya bagus tapi juga bisa berarti filmnya sangat jelek. Well, orang-orang yang datang nonton bareng LayarKita terlihat sumringah dan membicarakan adegan-adegan favorit mereka setelah credit title beres. Dapat disimpulkan bahwa film ini menggugah karena bagus. Saya merasa tidak membuang waktu kurang lebih satu setengah jam saya untuk menonton film ini. Menyenangkan, menghibur, menyentil dan menampar.
Saya berharap film ini bisa lebih banyak ditonton oleh orang-orang, walaupun sekarang ini banyak sekali teman-teman saya yang sama sekali tidak punya minat untuk menonton film Indonesia apalagi film jaman dulu.
Kejarlah Daku Kau Kutangkap saya rekomendasikan untuk kalian semua tonton, tahanlah dengan visual film Jadul yang memang tidak sejernih film sekarang karena memang film sekarang yang dijual adalah kejernihan visual dan kedahsyatan audio.
Film jaman dulu seperti membaca sebuah kebudayaan bangsa sendiri, selain itu memperhatikan dialog bagus seperti mengasah logika berpikir dan memberi kesadaran baru untuk teori-teori yang awalnya kita yakini.
Regards,
Film produksi tahun 1986 ini disutradarai oleh Chaerul Umam dan penulis skenarionya tak lain tak bukan adalah Asrul Sani. Pemainnya? Well kamu bisa liat di poster: Lidya Kandouw dan Deddy Mizwar.
Sebelum Menonton
Partner saya di komunitas bilang film ini lucu dan bikin ketawa. Awalnya saya hanya nilai lewat posternya dan pemain, Deddy Mizwar? Oke saya anak 90an dan saya taunya beliau waktu uda tua apalagi jamannya bulan puasa beliau makin terkenal lewat sinetron relijinya dan iklan sosis. Lalu sekarang jadi wakil gubernur Jabar --"
Karena mind set saya uda penuh sama sinetron relijinya yang sampe bertaon taon selalu ada tiap Ramadhan ekspektasi saya waktu awal nggak ngarep-ngarep banget ini film bakal saya suka. Pemain perempuan: Lidya Kandouw, jujur saya belum pernah nonton sama sekali filmnya bu Lidya (berasa akrab panggil ibu) yang saya tahu lewat acara gosip aja kalau beliau Ibunya dua bersaudara pemain sinetron Mirdad dan istrinya Jamal Mirdad atau kalaupun saya pernah nonton filmnya mungkin saya lupa, kalau saya lupa berarti filmnya nggak terlalu mengena di hati. Tapiiii penulis skenarionya Asrul Sani, nah dari situ ekspektasi saya naik dan yakin kalau filmnya pasti bagus.
Skrip itu bagaikan bahan utama sebuah film, film dengan skrip bagus pasti hasilnya juga film berkualitas.
Saya sengaja nggak cari-cari review dulu atau cari sinopsis filmnya tentang apa, let them surprise me. Lebih suka gitu kadang kalau nonton film, soalnya kalau baca sinopsisnya dulu jadi ngebayangin kaya gimana dan kalau nggak sesuai bayangan jadinya agak kecewa.
Saat Menonton
Perlu diketahui bahwa Indonesia tidak memelihara artefak apalagi artefak film. Film-film jaman dahulu itu susaaaaaahhh banget dicarinya, mau film asli mau film bajakan, dua duanya susah. Film pertama yang dibuat oleh bangsa kita itu tahun 1926 dengan judul Loetoeng Kasaroeng tapi sekarang filmnya uda meninggal. Seriously nggak ada, uda punah, nggak tau ada dimana, nggak tau siapa yang simpan. Jadi kita cuma bisa denger katanya aja, nggak bisa liat filmnya kaya apa. Beda banget sama film-film buatan Amerika atau Eropa, film-film taun 20an mereka itu masih ada dan bagus, resolusinya nggak remek serta gampang diakses.
Intinya, ketika mendapatkan film ini untuk niat tontonan edukasi budaya walaupun resolusinya kecil dan di awal muka-muka pemainnya nggak jelas disebabkan resolusi kecil tapi ditonton lewat projektor kita uda bahagia.
Saya terhanyut dengan skrip bahasa Indonesia yang baku tapi entah kenapa saya menikmati seluruh bahasa-bahasa baku dan kadang aneh itu. Dialog yang ditampilkan pun cerdas dan komedi-komedi satir berseliweran. Saat menonton saya banyak setuju dan tersentil dengan apa yang dikatakan oleh pemain. Sentuhan dan pemikiran Asrul Sani sangat terasa di film ini.
Premis yang ditampilkan film ini padahal cukup simpel, tentang dua orang sejoli yang terlibat cinta dan berujung di pernikahan. Namun bagaimana menjalani pernikahan dan bagaimana ilmu tentang dua manusia khususnya laki-laki dan perempuan dengan dua pemikiran dan dua kebiasaan berbeda ditunjukkan disini.
Karakter dari tiap pemain sangat kuat, bagaimana Ramadhan (Deddy Mizwar) yang periang awalnya mengejar-ngejar Mona namun belakangan jadi takut dia tidak bisa memimpin keluarga saat di pernikahan, bagaimana Mona (Lidya Kandouw) yang anggun tetapi pengatur layaknya perempuan pada umumnya dan tidak menyadari insekuritas suaminya, lalu ada juga Markum paman Ramadhan yang dingin dan pemikir tapi lucu serta Marni sahabat Mona yang pemarah dan tegas. Mereka semua memberi sentuhan pelajaran dan tindakan pada setiap adegan di film.
Terpingkal? Ya, beberapa kali saya terbahak karena adegan-adegan komedi serta dialog-dialog yang disuguhkan. Rindu saya terhadap film komedi yang seru terobati.
Setelah Menonton
Buat saya indikator sebuah film menggugah atau tidak penonton adalah apakah setelah menonton ini kami akan membicarakannya. Menggugah disini bukan hanya berarti filmnya bagus tapi juga bisa berarti filmnya sangat jelek. Well, orang-orang yang datang nonton bareng LayarKita terlihat sumringah dan membicarakan adegan-adegan favorit mereka setelah credit title beres. Dapat disimpulkan bahwa film ini menggugah karena bagus. Saya merasa tidak membuang waktu kurang lebih satu setengah jam saya untuk menonton film ini. Menyenangkan, menghibur, menyentil dan menampar.
Saya berharap film ini bisa lebih banyak ditonton oleh orang-orang, walaupun sekarang ini banyak sekali teman-teman saya yang sama sekali tidak punya minat untuk menonton film Indonesia apalagi film jaman dulu.
Kejarlah Daku Kau Kutangkap saya rekomendasikan untuk kalian semua tonton, tahanlah dengan visual film Jadul yang memang tidak sejernih film sekarang karena memang film sekarang yang dijual adalah kejernihan visual dan kedahsyatan audio.
Film jaman dulu seperti membaca sebuah kebudayaan bangsa sendiri, selain itu memperhatikan dialog bagus seperti mengasah logika berpikir dan memberi kesadaran baru untuk teori-teori yang awalnya kita yakini.
Regards,

Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.