Summer and Rain Music Camping Festival 2015
Pertama kali dengar acara ini adalah saat aktifitas menikmati suara-suara di radio saya lakukan. Salah satu radio di Bandung mempublikasikannya, dan kata yang benar-benar menancap adalah Music Camping Festival. Mengingat kerjaan saya adalah baru bisa nontonin after movie beberapa acara Summer Music Festival di Eropa dan Amerika sana, konsep kemping dan musik yang dipadukan menarik untuk dicoba. Saya lalu cari tau seperti apa acaranya lebih detail dan salah satu pencerahannya adalah pamflet ini.
Waw ternyata tiketnya lumayan juga untuk acara kemping 2 hari dengan barisan musisi yang siap menghibur kamu saat di hutan. Tapi kala itu saya sedang berhemat dan merasa bahwa nonton pertunjukkan musik ini bukan sebuah prioritas. Tiba-tiba 2 hari sebelum hari H, teman saya me-whatsapp dan meminta saya menolong dia untuk meliput acara tersebut untuk kepentingan sebuah majalah online. Tentu saja saya datang sebagai pers dan tidak perlu membeli tiket. I decide to come.
Hari 1, pukul 7 AM
Kami diminta untuk berkumpul di pool bus pakar wisata (Jl. Gudang Utara No. 27 Benghar), saat saya sampai ternyata sudah ada beberapa orang yang lebih dulu datang memang mengingat instruksi panitia adalah untuk datang pukul 6. Banyak orang dengan stelan kemping dan membawa ransel atau carrier berkeliaran, bahkan ada beberapa bule. Mereka nampaknya sepenasaran saya mengenai konsep acara ini, berarti publikasi acara ini cukup luas dan menarik, belakangan ternyata penikmat musik yang mengikuti Summer and Rain juga berdatangan dari luar kota (Jakarta, Surabaya, Medan).
Bus tidak berangkat berbarengan, siapa yang registrasi duluan akan mendapat tempat di Bus A, selanjutnya setelah penuh tanpa babibu langsung berangkat ke tempat perkemahan Rahong di Pangalengan. Begitu selanjutnya tiap bus penuh akan langsung berangkat, total bus yang menuju Rahong 5 buah. Saya bergabung di bus D which is bus ke 4 yang berangkat karena kami sudah benar-benar bosan menunggu.
Perjalanan sekitar 3 jam menuju Rahong, bus saya juga sempat mogok dulu di Bandung. What a trip! Sepanjang jalan kebanyakan saya habiskan untuk tidur, hehe. Maklum saya visioner, takutnya nanti malam saya tidak akan bisa tidur (padahal tidur-tidur aja walaupun kaki basah kedinginan).
Sampai Rahong sekitar pukul setengah 1 siang, saya bareng teman memutuskan untuk mencari tempat menyimpan ransel kami sebelum berkeliaran untuk makan. Ternyata kami dari tim media tidak disediakan tempat secara khusus alhasil kami titip ransel di tenda putih yang katanya tenda panitia. Setelah bebas dari beban punggung saya leluasa melihat pemandangan sekitar. Sebelum sampai Rahong kami memang melewati jalan dimana kanan kiri kami kebun teh berbukit, venue juga di kelilingi pohon pinus dan di lembah terlihat aliran sungai berbatu yang cukup deras dan sesekali ada perahu karet dari orang-orang yang rafting lewat. Venue panggung ada di bawah maka dari itu dari venue menuju parkiran atau jalan masuk kendaraan harus menanjak cukup terjal. In the first, I was impressed by the view.
Saya sendiri sudah menyiapkan bekal makan siang dari rumah walaupun tersebar isu bahwa kami akan diberi makan tapi I prepared for the worst. Dan ternyata memang kita ga dikasih makan, untung saja ada mang baso dan mang cilok berdagang, panitia juga menyiapkan booth-booth dagang makanan yang dibawa dari Bandung (tapi tetep harus beli).
Setelah berpuas makan, ternyata kita dari media memang tidak disediakan tempat khusus akhirnya saya dan 2 teman inisiatif untuk menempati tenda peserta yang masih kosong, tentu saja tenda kecil yang berkapasitas hanya 3 orang. Tapi ternyata kami menempati tenda yang ternyata rembes ketika hujan turun dan ternyata juga ngga cuma tenda kami aja yang rembes, ternyata sampai ada yang roboh (ternyata aja terus Run!)
Pertunjukkan musik dibuka oleh penampilan Little Lute yang membangkitkan mood untuk menonton. Saya nonton pertunjukkan hari itu dengan sentausa dan musiknya memang enak-enak. Tapi menjelang sore hujan deras tiba-tiba turun dan kami berlindung di tenda. Di tenda inilah semua ketidak menyenangkan dari kemping terasa, tenda rembes hingga seperti kubangan, untung saja carrier saya waterproof walaupun malam hari ketika mau tidur sleeping bag kebasahan juga karena tersimpan di paling bawah carrier, kaos kaki juga, sepatu sudah tidak perlu ditanya, bahkan celana dan baju basah karena saya bantuin tenda tetangga yang roboh. Mau ganti baju kagok, mending nanti sajalah setelah mau tidur, ketika hujan reda kami kembali menikmati pertunjukkan. Asli deh ini sepatu saya uda berubah warna jadi coklat, dengan pantat basah kami tetap istiqamah nonton.
Salut dengan lighting panggung yang ca'em banget. Kereeen. Secara keseluruhan live music yang ditampilkan di Summer and Rain ngga ada yang asal-asalan. Semua bagus dan pas banget dengan suasana di tengah hutan pinus. Ada yang bikin saya goyang kepala, ada yang bikin peserta ampe joget ke depan panggung, ada yang bikin ngakak, ada yang bikin saya tergugah dan nulis puisi (gaya ngga nulis puisi?) hehehe
Pertunjukkan musik malam itu ditutup oleh Tiga Pagi, kaya nganter tidur kita di tengah malam. Kalau penelitian bilang musik akan membuat zat dophamine di tubuh kita naik setuju banget, ngga heran kalau lagi denger musik kaya diselamatkan. Saya sering bilang musik keren itu penyelamat jiwa.
Hari ke 2, pukul 9 AM
Waw ternyata tiketnya lumayan juga untuk acara kemping 2 hari dengan barisan musisi yang siap menghibur kamu saat di hutan. Tapi kala itu saya sedang berhemat dan merasa bahwa nonton pertunjukkan musik ini bukan sebuah prioritas. Tiba-tiba 2 hari sebelum hari H, teman saya me-whatsapp dan meminta saya menolong dia untuk meliput acara tersebut untuk kepentingan sebuah majalah online. Tentu saja saya datang sebagai pers dan tidak perlu membeli tiket. I decide to come.
Hari 1, pukul 7 AM
Kami diminta untuk berkumpul di pool bus pakar wisata (Jl. Gudang Utara No. 27 Benghar), saat saya sampai ternyata sudah ada beberapa orang yang lebih dulu datang memang mengingat instruksi panitia adalah untuk datang pukul 6. Banyak orang dengan stelan kemping dan membawa ransel atau carrier berkeliaran, bahkan ada beberapa bule. Mereka nampaknya sepenasaran saya mengenai konsep acara ini, berarti publikasi acara ini cukup luas dan menarik, belakangan ternyata penikmat musik yang mengikuti Summer and Rain juga berdatangan dari luar kota (Jakarta, Surabaya, Medan).
Bus tidak berangkat berbarengan, siapa yang registrasi duluan akan mendapat tempat di Bus A, selanjutnya setelah penuh tanpa babibu langsung berangkat ke tempat perkemahan Rahong di Pangalengan. Begitu selanjutnya tiap bus penuh akan langsung berangkat, total bus yang menuju Rahong 5 buah. Saya bergabung di bus D which is bus ke 4 yang berangkat karena kami sudah benar-benar bosan menunggu.
Perjalanan sekitar 3 jam menuju Rahong, bus saya juga sempat mogok dulu di Bandung. What a trip! Sepanjang jalan kebanyakan saya habiskan untuk tidur, hehe. Maklum saya visioner, takutnya nanti malam saya tidak akan bisa tidur (padahal tidur-tidur aja walaupun kaki basah kedinginan).
Sampai Rahong sekitar pukul setengah 1 siang, saya bareng teman memutuskan untuk mencari tempat menyimpan ransel kami sebelum berkeliaran untuk makan. Ternyata kami dari tim media tidak disediakan tempat secara khusus alhasil kami titip ransel di tenda putih yang katanya tenda panitia. Setelah bebas dari beban punggung saya leluasa melihat pemandangan sekitar. Sebelum sampai Rahong kami memang melewati jalan dimana kanan kiri kami kebun teh berbukit, venue juga di kelilingi pohon pinus dan di lembah terlihat aliran sungai berbatu yang cukup deras dan sesekali ada perahu karet dari orang-orang yang rafting lewat. Venue panggung ada di bawah maka dari itu dari venue menuju parkiran atau jalan masuk kendaraan harus menanjak cukup terjal. In the first, I was impressed by the view.
Saya sendiri sudah menyiapkan bekal makan siang dari rumah walaupun tersebar isu bahwa kami akan diberi makan tapi I prepared for the worst. Dan ternyata memang kita ga dikasih makan, untung saja ada mang baso dan mang cilok berdagang, panitia juga menyiapkan booth-booth dagang makanan yang dibawa dari Bandung (tapi tetep harus beli).
Setelah berpuas makan, ternyata kita dari media memang tidak disediakan tempat khusus akhirnya saya dan 2 teman inisiatif untuk menempati tenda peserta yang masih kosong, tentu saja tenda kecil yang berkapasitas hanya 3 orang. Tapi ternyata kami menempati tenda yang ternyata rembes ketika hujan turun dan ternyata juga ngga cuma tenda kami aja yang rembes, ternyata sampai ada yang roboh (ternyata aja terus Run!)
Pertunjukkan musik dibuka oleh penampilan Little Lute yang membangkitkan mood untuk menonton. Saya nonton pertunjukkan hari itu dengan sentausa dan musiknya memang enak-enak. Tapi menjelang sore hujan deras tiba-tiba turun dan kami berlindung di tenda. Di tenda inilah semua ketidak menyenangkan dari kemping terasa, tenda rembes hingga seperti kubangan, untung saja carrier saya waterproof walaupun malam hari ketika mau tidur sleeping bag kebasahan juga karena tersimpan di paling bawah carrier, kaos kaki juga, sepatu sudah tidak perlu ditanya, bahkan celana dan baju basah karena saya bantuin tenda tetangga yang roboh. Mau ganti baju kagok, mending nanti sajalah setelah mau tidur, ketika hujan reda kami kembali menikmati pertunjukkan. Asli deh ini sepatu saya uda berubah warna jadi coklat, dengan pantat basah kami tetap istiqamah nonton.
Salut dengan lighting panggung yang ca'em banget. Kereeen. Secara keseluruhan live music yang ditampilkan di Summer and Rain ngga ada yang asal-asalan. Semua bagus dan pas banget dengan suasana di tengah hutan pinus. Ada yang bikin saya goyang kepala, ada yang bikin peserta ampe joget ke depan panggung, ada yang bikin ngakak, ada yang bikin saya tergugah dan nulis puisi (gaya ngga nulis puisi?) hehehe
Paling gokil sih ini Anjing Balada
Yang menyenangkan dari live music kaya gini, musisi bebas berekspresi macam macam dan peserta ikut nikmatin. Contohnya penampilan Anjing Balada yang bener-bener bikin ketawa karena vokalis mereka yang interaktif dan ceplas ceplos. Mereka bahkan membawa kehangatan pada kami yang menonton, sang vokalis saking semangatnya ampe lepas baju satu persatu sampe tinggal kolor doang, hahahaha rame
Selain itu ada juga penampilan keren seniman Wanggi yang menari menafsirkan lirik-lirik lagu dari musisi Nada Fiksi. Bikin saya melongo dan larut dalam suasana. Keren banget.
Malem itu dingin banget dan beruntung sebelum balik ke tenda salah satu teman dari teman saya memanggil kami untuk bergabung dengan mereka yang telah berhasil membuat api unggun. Huaah rasanya peaceful banget dapat kehangatan. Ilmu baru hari itu: getah pohon pinus ternyata bisa dialih fungsikan menjadi seperti minyak tanah. Info ini diketahui dari Aa Aa sound man yang ikut kita ngurilingan api.
Well kita ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa ketiwi sampai jam 3 subuh.
Keadaan saat tidur.
-alas tenda lembab
-kaos kaki basah
-sleeping bag bagian kaki basah
-tapi saya ngantuk dan tetap tidur (kebluk banget)
Hari ke 2, pukul 9 AM
Pagi hari tiba kami terbangun oleh suara musik dari arah venue, ternyata ada latian yoga bareng cuma saya ngga tau. Padahal kayanya enak banget badan digerakkin setelah berkaku-kaku tidur di alas keras. Sepatu saya uda ngga bisa dipake lagi karena masih jibrug, kemarin malem sempet jatuh kepeleset juga karena jalan setapak super licin. Oke hari ini saya bersendal jepit. Lokasi toilet cuma ada 3 dan saya takut airnya terbatas (karena memang iya) well pagi itu saya sengaja ngga minum susu karena takut mules. Mawas diri karena anaknya beser dan gampang mulesan.
Live music diawali penampilan Tetangga Pak Gesang yang memilih untuk bernyanyi di atas gundukan bukit kecil dan membuat kami mendekat. Lagu pertama mereka ini:
Memandang alam dari atas bukiiiit~
Sejauh Pandang Ku Lepaskaannn~
Spontan semua nyanyi bareng dan kangen sama masa kecil yang menyenangkan.
Spontan semua nyanyi bareng dan kangen sama masa kecil yang menyenangkan.
Selain itu yang terasa adalah kami seperti sedang bernyanyi bersama sahabat saat berkemah, bukan menonton pertunjukkan musik. Cool!
Pertunjukkan musik utama kembali berpusat di panggung. Kami pun duduk-duduk cantik lagi. Here's the thing about indie musician in Bandung. In my personal opinion, anak muda Bandung memandang musisi-musisi Indie mereka sebagai teman biasa bukan sebagai artis atau selebritis, walaupun talent musisi-musisi ini tidak main-main, suara bagus dengan musikalitas oke. Tapi kami ngga merasa canggung ngobrol sama musisi-musisi ini, mereka pun berbaur layaknya penonton dan menonton bersama acara pertunjukkan. Saya benar-benar kagum dengan atmosfer kaya gini, akibatnya adalah anak muda Bandung memandang artis ibukota yang diagung-agungkan lewat televisi ya biasa aja. Wong musisi Indie yang keren musikalitasnya itu temen kok. Beberapa kali saya ngobrol sama temen-temen tentang fenomena ini dan mereka setuju. Anak muda Bandung kalau ketemu selebritis yang seliweran di TV biasa aja, kaya ketemu orang biasa, tidak lantas merasa rugi ngga minta foto bareng. That's cool.
Lihat orang-orang itu duduk bersahaja menikmati alunan musik. Indah bukan? Lalu lihat gambar di bawah ini ketika mereka semua tidak tahan untuk maju ke depan dan berjoget bersama. Seru bukan? hehehe
Favorit saya banyak tapi dari semua musisi, Deugalih and Folks dan Parahyena yang bikin saya ngga tahan pengen goyang, saya suka banget folk swing. Instrumen flute dari Deugalih and Folks pas banget sama alam, biola dari Parahyena indah pula. Hari Minggu acara Summer and Rain di bumi perkemahan Rahong Pangalengan ditutup penampilan dari band L'Alphalpha yang walaupun hujan turun penonton tetap antusias nonton sambil payungan atau pake jas ujan. Di tengah pertunjukkan sang gitarisnya tiba-tiba turun menghampiri seorang cewe yang berdiri sambil pake payung di depan panggung dan apa yang terjadi?
He proposed his girlfriend guys!
Sambil kneel down gitarisnya ngeluarin cincin terus ngga kedengeran dia ngmng apa dan tiba-tiba doi teriak SHE SAID YES! Kita semua antusias sambil bengong tepuk tangan. Komplit banget deh hari itu. Panitia nyediain bandrek dan bajigur serta cemilan tradisional gratis buat kita makan, tapi hujan ini tetap tak kunjung berhenti hingga saat-saat dimana kami menunggu bus datang. Bus nya datang telat banget dan kami dulu-duluan buat naik. Semua orang ingin cepat pulang karena kebanyakan dari mereka kebasahan.
Beberapa bule dan traveler lain ada yang memilih untuk pulang duluan dan melanjutkan perjalanan untuk sekalian melihat tempat-tempat wisata di Pangalengan. Beberapa ada yang full perlengkapan kemping berjalan ke aarah bukit-bukit kebun teh sepertinya mencari tempat lain untuk melanjutkan tidur di alam. Saya juga jadi mikir kalau saya yang visit ke kota atau negara orang dan ikut Summer Camp kaya gitu pulangnya emang mending misah dan jalan-jalan eksplor sendiri ga sih? Seru kayanya.
Untuk pertunjukkan musiknya keren-keren banget hanya sayang ada beberapa hal yang harus lebih banyak diperbaiki. But, dengan ikut acara kaya gini jadi pembelajaran banget kalau alam dan cuaca ekstrem kaya kemarin ngga bisa diremehkan.
Beberapa hal yang disayangkan:
-Kualitas tenda yang disiapkan panitia jelek, sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada hujan, tapi ini hujan gede banget dan air merembes ke dalam sampai jadi kubangan bahkan beberapa tenda juga roboh (kasian kalau yang ngga kuat dingin)
-Air di Toilet yang disediakan sering habis (iya belajar bebersih pake daun atau tisu)
-Booth makanan berat sangat kurang (banyak yang kelaparan karena peserta pada ngga prepare untuk masak sendiri)
-Panitia kurang banyak dan kurang koordinasi (well masalah kaya gini tiap acara biasanya ada sih yah)
-Tidak ada tim PP atau P3K (harusnya sih di alam antah berantah panitia juga prepare for the worst)
Overall saya anaknya enjoy-enjoy aja di segala suasana alam. Tapi di musim hujan kaya gini emang pantai lebih better dari gunung (setidaknya pantai tidak sedingin menggigil gunung). Acara ini menginspirasi anak muda lain buat bikin promo brand dengan menjual keunikan pengalaman. Semoga aja misi kembali ke alam yang diusungkan nyampe ke insan muda. Thank you for two days experienced Summer and Rain Music Camping Festival
PS:
Saya rindu musim panas.
Ini tulisan review saya di sebuah majalah online, klik klik:
review-summer-and-rain-2015
Lihat orang-orang itu duduk bersahaja menikmati alunan musik. Indah bukan? Lalu lihat gambar di bawah ini ketika mereka semua tidak tahan untuk maju ke depan dan berjoget bersama. Seru bukan? hehehe
Favorit saya banyak tapi dari semua musisi, Deugalih and Folks dan Parahyena yang bikin saya ngga tahan pengen goyang, saya suka banget folk swing. Instrumen flute dari Deugalih and Folks pas banget sama alam, biola dari Parahyena indah pula. Hari Minggu acara Summer and Rain di bumi perkemahan Rahong Pangalengan ditutup penampilan dari band L'Alphalpha yang walaupun hujan turun penonton tetap antusias nonton sambil payungan atau pake jas ujan. Di tengah pertunjukkan sang gitarisnya tiba-tiba turun menghampiri seorang cewe yang berdiri sambil pake payung di depan panggung dan apa yang terjadi?
He proposed his girlfriend guys!
Sambil kneel down gitarisnya ngeluarin cincin terus ngga kedengeran dia ngmng apa dan tiba-tiba doi teriak SHE SAID YES! Kita semua antusias sambil bengong tepuk tangan. Komplit banget deh hari itu. Panitia nyediain bandrek dan bajigur serta cemilan tradisional gratis buat kita makan, tapi hujan ini tetap tak kunjung berhenti hingga saat-saat dimana kami menunggu bus datang. Bus nya datang telat banget dan kami dulu-duluan buat naik. Semua orang ingin cepat pulang karena kebanyakan dari mereka kebasahan.
Beberapa bule dan traveler lain ada yang memilih untuk pulang duluan dan melanjutkan perjalanan untuk sekalian melihat tempat-tempat wisata di Pangalengan. Beberapa ada yang full perlengkapan kemping berjalan ke aarah bukit-bukit kebun teh sepertinya mencari tempat lain untuk melanjutkan tidur di alam. Saya juga jadi mikir kalau saya yang visit ke kota atau negara orang dan ikut Summer Camp kaya gitu pulangnya emang mending misah dan jalan-jalan eksplor sendiri ga sih? Seru kayanya.
Untuk pertunjukkan musiknya keren-keren banget hanya sayang ada beberapa hal yang harus lebih banyak diperbaiki. But, dengan ikut acara kaya gini jadi pembelajaran banget kalau alam dan cuaca ekstrem kaya kemarin ngga bisa diremehkan.
Beberapa hal yang disayangkan:
-Kualitas tenda yang disiapkan panitia jelek, sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada hujan, tapi ini hujan gede banget dan air merembes ke dalam sampai jadi kubangan bahkan beberapa tenda juga roboh (kasian kalau yang ngga kuat dingin)
-Air di Toilet yang disediakan sering habis (iya belajar bebersih pake daun atau tisu)
-Booth makanan berat sangat kurang (banyak yang kelaparan karena peserta pada ngga prepare untuk masak sendiri)
-Panitia kurang banyak dan kurang koordinasi (well masalah kaya gini tiap acara biasanya ada sih yah)
-Tidak ada tim PP atau P3K (harusnya sih di alam antah berantah panitia juga prepare for the worst)
Overall saya anaknya enjoy-enjoy aja di segala suasana alam. Tapi di musim hujan kaya gini emang pantai lebih better dari gunung (setidaknya pantai tidak sedingin menggigil gunung). Acara ini menginspirasi anak muda lain buat bikin promo brand dengan menjual keunikan pengalaman. Semoga aja misi kembali ke alam yang diusungkan nyampe ke insan muda. Thank you for two days experienced Summer and Rain Music Camping Festival
PS:
Saya rindu musim panas.
Ini tulisan review saya di sebuah majalah online, klik klik:
review-summer-and-rain-2015














Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.