Bertemu Bayu

Hampir 20 hari saya membantu seniman street art dan banyak sekali pelajaran selain tentang melukis atau menggambar atau memotong stencil atau segala hal mengenai seni street art dan atmosfernya di dunia persenian. Salah satu pandangan teman saya yang berkecimpung di dunia mural melihat ketertarikannya dengan street art dibanding seni rupa kanvas dan kontemporer adalah ikatan mereka dengan warga sekitar saat menggambar. Ya memang semenjak rutinitas menggambar di tembok ini saya lakukan, kami semua berkenalan dengan warga. Beberapa kali saya bekerja di depan tembok untuk mewarnai sendirian dan ketika sendirian ini lah masyarakat sekitar datang untuk sekedar bertegur sapa dan mengobrol.

Ada yang hanya sekedar berbasa basi menanyakan dalam rangka apa kami menggambar ada pula yang bersikeras ingin membantu bahkan sudah senang walau hanya memegang cup cat.

Namun pertemuan paling berkesan adalah ketika saya mewarnai logo dengan gambar tangan saling bertautan dan terdapat tulisan Asian African Solidarity di sampingnya. Saya ingat hari itu hari Jumat tanggal 17 April 2015.

Entah apa yang membuat dia tertarik sore itu saya ingat sekali ada seorang anak kecil kurus dengan mengenakan baju kaos seragam olahraga SD yang satu ukuran lebih besar dari yang seharusnya dia pakai. Lusuh, kulit tangannya terlihat banyak bekas gigitan nyamuk khas anak kecil kampung tapi wajahnya menunjukkan kepolosan dan keramahan. Dia mengajak saya mengobrol dan beberapa jam saya merasa senang ditemani anak itu. Namanya Bayu (saya tau namanya ketika di sela-sela pembicaraan kami saya bertanya namanya dan saya pun memperkenalkan diri).



"Ka kok hebat banget sih bisa gambar kaya gitu?"

"Bukan aku yang gambar, aku cuma bantu-bantu aja, ini lagi ngewarnain."

Wajahnya memperhatikan saya yang memang sedang asik, dia sepertinya ingin mencoba tapi saya juga tidak berani memberikan karena yang saya warnai letak gambarnya agak di atas dan sepertinya tidak terjangkau oleh anak umur 12 tahun itu.

"Kamu suka gambar?" tanya saya pada Bayu

"Suka ka."

"Cita-cita kamu emang pengen jadi apa?"

"Itu loh ka, kaligrafer." Saya pikir dia ingin menjadi seseorang yang jago menggambar kaligrafi, saya excited saja dengernya.

"Woo kamu pengen jadi penggambar kaligrafi!?"

Saat saya tanyakan seperti itu, Bayu nampak bingung dan tidak mengerti. Saya lebih bingung melihat ekspresi dia yang bingung.

"Hah? Bukan ka, aku pengen yang suka foto foto itu loh!"

"Wooooooh, fotografer!" Saya ngakak saat itu dengan pembicaraan kami. Walaupun Bayu tinggal di lingkungan dekat kampung bawah jembatan yang mayoritas anak-anaknya berbicara bahasa Sunda kasar tapi yang terlihat adalah dia sepertinya sudah sangat sering berbicara dengan orang lebih tua seperti saya. Memakai bahasa Indonesia dan terdengar seperti anak kota. Belakangan ternyata memang dia sering bergaul di lingkungan kampus untuk bekerja. Percakapan kami terus berlanjut dan dasar emang saya suka gatel banget menyuarakan gemar membaca saya punya maksud terselubung untuk kalau bahasa Sunda-nya mamatahan Bayu agar seneng baca buku. Tapi ternyata dia sudah suka baca buku dari awal.

"Kamu suka baca buku ngga?"

"Suka ka."

"Buku apa?"

"Buku Si Kancil dan Buaya"

Lalu Bayu bercerita tentang bagaimana isi bukunya dan ending mengenaskan dimana buaya harus ditimpa batu besar hingga mati. Buku macam apa ini yang dia baca!

"Sekolah gimana? Menyenangkan ngga?

"Senang ka, tapi aku mah suka liat ke temen." Saya pikir dia nyontek saat ulangan. Lalu saya tertarik dengan pembicaraan ini lebih lanjut. Ternyata maksudnya lihat teman saat pelajaran berlangsung di kelas.

"Loh kenapa?"

"Iya ka soalnya aku ga punya buku."

Saya lalu memepertanyakan ketidak adilan ini. (bahasanya heroistik banget). Karena yang saya tau anak SD bukunya sekarang dipinjamkan dari perpustakaan dan murid tak perlu membeli. Ketika saya tanyakan, Bayu memberi penjelasan bahwa itu buku LKS yang harganya 10rb dan dia harus membeli untuk 6 mata pelajaran. Saya tidak mau membahas lebih lanjut, karena pada saat itu jujur saya takut anak kecil kaya dia sudah dipengaruhi oleh orang-orang tua sesat untuk mengajarkan anaknya jadi peminta-minta dengan menjual kisah, walaupun begitu saya tetap mendengarkan dan akan berperan sebagai teman bercerita Bayu. Saya menyesal sudah terlalu berprasangka.

"Suka main ngga di sekolah?"

"Engga ka."

"Lah kalau lagi istirahat ngapain?"

"Diem aja di bangku."

"Kenapa ngga main?"

"Malu ka sama temen-temen soalnya nggak punya buku." Perlu ditekankan bahwa saat Bayu bercerita raut wajahnya tidak berubah menjadi ala ala sinetron dimana sang pemeran mengalami penderitaan atau seperti memelas minta pertolongan. Bayu tetap ceria dan cuek seperti anak kecil.

"Kamu kesini ngapain?" Saat itu saya sedang mewarnai di Taman Film Bandung.

"Nonton aja ka sambil liat-liat, soalnya di rumah kan ngga ada TV." karena saya pun bukan penikmat TV dan lebih mendukung anak-anak untuk tidak nonton TV saya bersyukur Bayu tidak punya TV di rumahnya.

"Iya bagus, aku juga ngga suka nonton TV kok. Mending kamu main aja atau baca buku. Hobi kamu ngapain?"

"Baca buku ka." Saya tersentuh mendengar hobinya, akhirnyaaa ada anak kecil suka baca buku.

"Kamu suka baca apalagi selain Si Kancil?"

"Si Kancil dan Buaya aja ka, cuma punya buku cerita itu."

"Lah terus?!"

"Iya aku baca itu aja berulang-ulang." Saya lalu tersulut emosi karena kenapa di sekolahnya tidak ada perpustakaan dan memang benar kata Bayu, di sekolah dia tidak ada perpustakaan, dia lalu menyebutkan perpustakaan terdekat dari rumahnya di sebuah jalan dan itu pun jauh juga. Bayu bercerita kesehariannya berjalan kaki ke sekolah dari pukul 5 subuh agar tidak terlambat karena sekolahnya cukup jauh, saya lupa detail nama sekolahnya. Saya mendengarkan dan menanggapi, di sela-sela cerita dia kami kadang membicarakan mengenai siapa presiden pertama, kedua hingga terakhir. Saya juga menjelaskan siapa itu Nelson Mandela (Kami menggambar Nelson Mandela dan Soekarno saat itu) dan menyuruh Bayu untuk menonton parade Asia Afrika.

"Kalau lagi ngga disini kamu ngapain?"

"Diem aja ka di rumah atau kerja."

"Di rumah sama siapa?"

"Sendirian."

"Emang kamu kerja apa?"

"Cuci piring ka sama buangin sampah di Unisba (sebuah Unviversitas di Bandung)." Darisini saya tau dimana dia bergaul dengan banyak mahasiswa atau pelajar dan darimana Bayu punya keberanian untuk mengajak mengobrol. Karena jujur banyak anak kecil memperhatikan saya saat mewarnai tapi ketika saya sapa mereka, biasanya mereka kabur.

Saya tertarik dengan baju seragam olah raga SD yang dia pakai sambil menyelidiki apa benar Bayu ingat SD nya dimana, takutnya dia bohong. Duh prasangka lagi :(

"Ini baju seragam olahraga SD kamu Bay?"

"Bukan ka, SD aku kan di SD (lupa nama SD nya)." Woh berarti Bayu konsisten menyebutkan dimana tempat dia bersekolah, Bayu nggak bohong.

"Oooh, terus ini punya siapa?"

"Dikasih orang ka, bajuku kan bolong-bolong di bagian ini ka." Bayu menunjukkan salah satu bagian tepi bawah baju untuk ilustrasi agar saya bisa membayangkan.

"Lah kenapa bisa bolong?"

"Iya ka, bajuku digigitin tikus, waktu aku lagi tidur kerasa ada yang getek, taunya tikus kecil. Hahaha" Dia cerita sambil senyum senyum. Saya yang denger uda nahan cirambay, ya ampun ni anak rumahnya kaya apa :'(

"Tikusnya nakal yah, masa gigitin baju kamu." Komentar saya cuma bisa kaya begini karena saya ngga mau bikin dia merasa sedih.

"Iya ka, dasar tikus."

Kami terdiam lagi dan Bayu terlihat terdistraksi dengan seorang ibu-ibu penjual makanan pisang keju coklat yang membawa yang kelihatannya seperti permainan anak.

"Kamu di rumah sendirian? Emang yang di rumah pada kemana?" Salah satu pertanyaan halus saya dengan maksud membahas orang tua Bayu.

"Bapak kan uda meninggal, terus habis gitu mamah juga meninggal." Denger ini saya langsung panik, please God ngga mungkin kan ini anak kecil tinggal sendirian?

"Terus kamu sama siapa di rumah?"

"Sama Teteh." Woh denger gitu saya agak lega.

"Teteh terus ngapain sekarang?" Maksud saya ingin tanya pekerjaan tetehnya Bayu.

"Diem aja di rumah, kemarin baru operasi usus buntu." Denger bahwa Tetehnya Bayu bisa dioperasi, asumsi saya mungkin berarti warga sekitar tempat tinggal Bayu atau ada sodara Bayu juga yang masih care sama mereka.

"Waduh, pasti teteh kamu sering makan pedes yah?"

"Iyah, sama minum arak. Teteh aku dulu anggota geng motor ka." Glek saya waktu denger ini langsung mati gaya bingung nanggepinnya gimana. Saya lalu khawatir Bayu juga diajarin ngga bener.

"Walah Geng Motor? Terus kamu suka ikutan ngga?"

"Nggak ka, aku gamau, sering disuruh ikut tapi serem ka, mereka suka bawa samurai yang ada darahnya. Kalau dipaksa aku biasanya lari." Saya antara ngga percaya juga, ni anak bener ngga sih? Tapi toh walaupun dia bohong mungkin dia butuh temen cerita. Saya dengarkan saja. Sementara itu saya sudah selesai mewarnai logo di sisi bagian tembok ini dan harus berkeliling memeriksa apakah ada tembok lain yang harus diwarnai. Bayu menemani saya dan membantu membawakan tempat cat. Lalu ketika kami melewati setumpukan botol-botol bekas minuman keras yang tergeletak di satu pojokan (di Taman Film memang kerap kali ditemukan botol-botol bekas minuman keras) , Bayu nyeletuk.

"Nah ini ka, si teteh minum yang dari botol kaya begini."

"Wow. Terus kamu pernah nyoba juga ngga?"

"Nggak ka, itu kan dosa!"

"Bay emang teteh kamu umurnya berapa?"

"18 ka." Saya langsung membayangkan umur segitu emang umur yang lagi labil-labilnya banget, yang lagi butuh perhatian, yang lagi butuh pengakuan khalayak. Tapi kenyataannya dia malah harus jadi yatim piatu dan ngurus adeknya, sialnya lagi dia terjebak pergaulan lingkungan yang salah.

"Tapi sekarang teteh aku uda bukan geng motor lagi ka."

"Terus sekarang ngapain?"

"Diem aja di rumah, aku terus yang harus kerja." Saya lalu bercerita pada Bayu bahwa saat SD juga saya sudah sering jualan macam-macam dari mulai es teh dan jajanan-jajanan kecil. Saya juga bilang waktu SMA saya suka jualan nasi kuning, maksud hati biar dia ga putus asa kalau mau lanjutin sekolah dan bisa sambil jualan juga.

"Bay jangan sampai berhenti sekolah sampai tamat SD ya, lanjutin ke SMP, kalau ngga ada biaya kamu bilang guru kamu di sekolah kalau kamu pengen dapet beasiswa. Nanti saat masuk SMP, lanjutin terus sampai SMA, sampai kuliah juga. Cari beasiswa terus, karena pasti ada. Kalau pihak sekolah gamau bantu, kamu bilang sama pak Walikota."

"Iya ka, alhamdulillah aku selalu rangking di sekolah, kemarin rangking 3, aku pernah rangking 1 juga waktu kelas 4. Hehehe iya ka siap bilang pak Walkot yah?" Bayu sambil cengar cengir.

Sebentar-sebentar Bayu ninggalin saya dan ngilang, terus balik lagi. Dia juga nawarin saya permen. Atau dia balik dengan berbagai informasi dari obrolannya sama mahasiswa sekitar. Saat itu ada beberapa pelajar yang sedang membangun kerangka bola raksasa dan menara untuk peringatan KAA di Taman Film. Bayu cerita sama saya hasil obrolannya. Kadang dia juga curhat.

"Ka kemarin waktu aku nonton Persib ada bapak-bapak yang nyuruh aku ngerokok."

"Waduh, terus kamu mau ngga?"

"Ngga lah ka! Aku kan masih kecil, rokok itu untuk orang di atas umur 20 tahun."

"Tau darimana?"

"Ada kan ka tulisannya, dilarang memberi rokok pada anak di bawah umur 18 tahun."

Saya sebenernya agak bingung, ni anak kenapa pertahanannya kuat terhadap hal hal macam begitu. Kenapa dia ngga ikutan kakanya jadi geng motor, atau minum alkohol atau nyobain ngerokok? Asumsi saya Bayu kayanya aktif TPA di masjid atau entah bagaimana lah yang membuat dia jadi seperti anak-anak pada umumnya. Selama kami mengobrol, Bayu nggak pernah sekalipun nunjukkin muka sedih, dia benar-benar seperti anak kecil yang cerita kesehariannya. Mungkin juga menurut Bayu kehidupannya yang kaya begitu yang memang normal. Bayu nggak tau kalau orang lain yang denger cerita dia dan memandang kebahagiaan dengan indikator masing-masing sebagian besar menilai kehidupan Bayu adalah sebuah penderitaan.

Saat saya ngobrol saya berpikir keras bagaimana caranya bantu Bayu, saya sudah berniat akan bawain dia buku untuk dia baca. Menjelang maghrib Bayu ngilang, saya uda celingukan cari dia untuk nanya alamat rumahnya dengan jelas, saya pikir dia akan nyamperin saya lagi karena sebelumnya juga dia kadang ngilang tapi balik lagi ngajak ngobrol. Namun hingga malam tiba Bayu ngga nyamperin saya lagi. Saya benar-benar menyesal tidak memperhatikan dan mengingat nama sekolah Bayu dan alamat rumahnya, yang saya ingat dia menyebutkan nama salah satu gang dan katanya terletak di belakang Vio Hotel.

Setelah hari itu 2 hari saya tidak bisa datang ke Taman Film karena pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan. 3 hari kemudian saya datang dan berharap bertemu Bayu namun sayangnya nihil. Bayu ngga ada. Saya tanya sama penjaga taman Film siapa tau beliau kenal, tapi beliau pun tidak tau.

Untuk sekarang saya baru bisa bantu lewat doa dan lewat cerita. Saya membayangkan mungkin anak kecil seperti Bayu masih sangat banyak. Yang membuat saya terhenyak adalah betapa cerita dari kehidupan satu orang bisa membuat kamu benar-benar terkejut dan kaget. Saya banyak belajar dari Bayu. Saat ini jika saya menemukan kesulitan, saya membayangkan Bayu yang hidupnya lebih sulit dari saya tapi dia ceria dan bahagia.

Terima kasih sudah ajak saya ngobrol dan menemani saya Bay.

Hingga tulisan ini dibuat saya masih mencari Bayu dan berharap bisa bertemu dengan dia lagi dan mengajaknya ke toko buku.

Bandung, 24 April 2015

Comments