Memaknai Hari Film Nasional

65 tahun yang lalu Usmar Ismail syuting hari pertama film "Darah dan Doa". Pada zaman itu Darah dan Doa merupakan film pertama yang dibuat oleh seorang sineas asal tanah air dan pada saat negara kita bernama Indonesia, bukan Hindia Belanda. Hari itu tanggal 30 Maret yang saya kenal sekarang sebagai Hari Film Nasional.

30 Maret tahun 2015 jatuh pada hari Senin, orang-orang yang "peduli" pada film mulai banyak mendoakan perfilman negeri ini melalui sosial media. Lalu saya menemukan sebuah tweet yang menurut saya sangat mengena.






Well setuju banget sih, mau didoain segimana juga percuma kalau nggak ditonton di bioskop.
"Tapi Run, film Indonesia kan kebanyakan nggak rame dan asal?"
Itu mungkin salah satu pertanyaan sekaligus pernyataan yang banyak dilontarkan para penonton bioskop. Namun saya sendiri paling males sama orang yang suka menggeneralisasikan sesuatu. Jawaban saya untuk hal yang dilontarkan di atas cuma 1.
"Nggak semua film Indonesia asal dan jelek"
Untuk rame atau seru menurut saya itu tergantung dari selera masing-masing penonton, begini, film bagus seperti art house atau film-film pemenang Oscar dan film ber-rating tinggi serta banyak dipuji kritikus, atau film-film festival itu banyak yang dibilang nggak rame menurut penonton awam. Kesimpulannya gini, tingkat rame seseorang bisa dilihat dari referensi film-film sebelumnya yang sudah dia tonton.
Harapan saya sekarang adalah penonton Indonesia untuk mencoba setidaknya menonton film Indonesia yang BAGUS walaupun menurut para penonton film tersebut tidak seru atau tidak rame. Sehingga harapan jangka panjangnya para sineas "asal komersil" mulai merubah haluan dan mencoba membuat film berkualitas, jangka lebih panjangnya adalah pencipta film muda sejak awal meniti karir dan mencoba mencipta dengan tidak asal jadi, jangka ke depannya lagi adalah penonton Indonesia mempunyai hasrat selera yang lebih tinggi.
Mengutip apa yang dikatakan Garin Nugroho: Sebuah bangsa sangatlah bodoh jika tidak menimbulkan hasrat selera.

Bagaimana cara menentukkan film yang diputar di bioskop itu bagus atau tidak, saya akan coba menjawab sesuai pengalaman saya dan yang saya lakukan jika ingin mengetahui sebuah film layak ditonton atau tidak:
1. Lihat siapa sutradara dan penulis skenario nya, lihat pula rekam jejak karya mereka di internet
2. Lihat apakah film ini masuk festival di luar negeri atau tidak
3. Bertanya pada pemerhati film yang jam terbang dan pengetahuan tentang filmnya tinggi
4. Googling (pada dasarnya hampir semua pertanyaan kamu bisa dijawab google atau setidaknya dikasih gambaran sedikit sehingga nggak gelap-gelap banget)

Bagaimana memaknai 30 Maret di kota kelahiran saya? Akan saya coba ceritakan.
Insan pecinta film Bandung banyak yang peduli, mendukung dan terus menggali ilmu perfilman mereka. Semangat bersinergi kami pun sangat tinggi dan beruntungnya adalah Bandung mempunyai ruang untuk perfilman yaitu Taman Film.

29 Maret 2015

Setelah kurang lebih sebulan mengadakan pertemuan kumpulan komunitas-komunitas film sepakat untuk membuat sebuah acara perayaan Hari Film Nasional yang akhirnya diberi nama "1000 Wajah Bandung"


Lihat ada banyak acara sekali disana bukan? Dan secara garis besar semua lancar, bahkan semua pembicara bincang film hadir sampe walikota kami pun. Semua merayakan hari Film Nasional bahkan ketika saya jadi moderator acara Pemutaran Film-Film Bandung hujan badai mendera tetapi semangat antusias penonton tetap menyala. Saya terharu.
Ide tim Bandung Film Council untuk menghadirkan teman-teman tuna netra menonton film juga banyak dipuji orang. Namun yang saya lihat adalah harapan kami semua untuk industri film bisa menjadi industri dimana orang bisa hidup. Industri kreatif menjadi sumber penghasilan, which is saat ini masih cukup sulit karena film dianggap sebagai media hiburan saja, padahal film bagus bermakna lebih dari itu.




30 Maret 2015

Selamat Hari Film Nasional!
Tepat di hari ini komunitas LayarKita ingin memutarkan satu film Indonesia yang berkualitas tapi di bioskop hanya bertahan beberapa hari saja. Film besutan rumah produksi Kepompong Gendut: "Selamat Pagi, Malam"
Film ini mengisahkan tentang kehidupan di Jakarta setelah malam tiba. Sang sutradara Lucky Kuswandi mengatakan bahwa orang-orang di saat malam itu lebih terbuka tentang jati dirinya. Film in sendiri hanya bersetting 1 malam saja tapi dialognya menarik. Saya suka sekali dengan dialog-dialog dalam film karena menurut saya sumber pemikiran sang penulis skenario tertuang dalam dialognya. Saya senang menangkap maksud-maksud dari percakapan masing-masing tokoh. Film dengan dialog bagus sangat jarang saat ini karena itu dia, kadang penonton bosan dengan hal-hal seperti itu. Walaupun menyukai film dengan dialog skenario bagus saya juga masih menikmati film jaman sekarang yang menjual audio menggelegar dan visual keren. Untuk hiburan.

Seperti biasa setelah menonton kami berdiskusi dan mengapresiasi karya film tersebut dengan pemikiran-pemikiran kami. Beberapa kali saya melakukan sebuah diskusi setelah menonton film membuat saya mengambil kesimpulan bahwa setiap orang menangkap dan memaknai sebuah film berbeda-beda.


Ariani Darmawan sebagai narasumber diskusi

Dari mba Ariani kami juga diberi informasi bahwa film ini sama sekali tidak menguntungkan pihak rumah produksi. Film bagus tapi merugi :(

31 Maret 2015

Konsistensi dan apresiasi kami terhadap film tidak surut. Hari berikutnya selain dalam rangka hari perfilman kami pun membuat sebuah event menonton dan berdiskusi dalam rangka menyambut 60 tahun Konferensi Asia Afrika.
"Tanah Mama" diputar pukul 6 sore dan ternyata penonton banyak berdatangan.
Salut untuk Kalyana Shira (rumah produksi Tanah Mama) dalam membuat sebuah film dokumenter di tanah Papua sana, lebih tepatnya di Desa Anjelma, Wamena. 
Membicarakan tentang Papua identik dengan alamnya yang memukau dan adat istiadat yang melekat. Tanah Mama menggamblangkan sisi Papua yang belum pernah kita lihat dimana perjuangan seorang perempuan yang juga seorang ibu ditonjolkan.
Namun, lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan pendidikan yang kurang, akses tranportasi buruk serta pelayanan kesehatan yang tak memadai. Bertahun-tahun masalah di Papua masih lah itu. Saat berdialog secara pribadi dengan senior saya di komunitas kami sempat berpikir apakah kami "meracuni" tanah Papua dengan modernitas?
Bahkan pernyataan sang sutradara mengatakan bahwa, kebanyakan orang di luar Papua merasa sangat tahu solusi untuk Papua dan tidak pernah mendengar apa yang masyarakat Papua inginkan. Mendikbud pun menambahkan sudah saatnya masyarakat Papua sendiri yang membuat solusi untuk setiap permasalahan di Papua.




Setiap komunitas LayarKita memutarkan film dan berdiskusi, kami berharap orang-orang yang datang mendapat sesuatu ketika pulang. Setidaknya mendapat tahu setelah sebelumnya tidak tahu.

Saya berharap banyak penikmat film yang asalnya hanya untuk hiburan mengambil inisiatif lain untuk mencoba menikmati film sebagai sisi pembelajaran, mengingat budaya baca bangsa kita yang rendah setidaknya orang-orang bisa mengambil ilmu dari film. Karena menurut saya, menonton film bagus adalah salah satu cara efektif serap ilmu pengetahuan untuk orang yang tidak suka membaca.

All photo credit by Nadia Priatno. Thanks Teh Nads :)

Comments