Asian-African Student Conference day-2

Kamis, 30 April 2015

Delegasi diminta untuk berkumpul di gedung Merdeka pukul setengah 8 pagi, tadi malam saya sempet bincang-bincang sama Anja sampai tengah malam alhasil subuh tiba muka saya masih sepet, mata pengen ditutup, badan butuh selimut. tetapi gejolak perut harus diturut. Panggilan alam membuat saya bangun subuh-subuh. Mau tidur lagi kagok banget takut bablas. Alhasil lanjut mandi dan solat.
Anja masih tidur sampai menjelang pukul setengah 7, ternyata doi ini tipe cewe yang dandannya ngga lama. Bangun, mandi cepat, pake baju cepat, dandan cepat, jadi cuss deh kita sarapan bareng.

Saat sarapan kembali ritual bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dilakukan. Saya biasanya ingat nama yang diucapkan sekali sebut macam Noy atau Rong atau Vei atau Sif untuk nama-nama lain, saya harus ketemu lebih dari 2 kali dan lebih banyak ngobrol buat bikin saya inget.

Habis sarapan, saya bareng-bareng rombongan dari hotel jalan kaki ke Gedung Merdeka. Sepanjang jalan diliatin banyak orang, karena mungkin orang lain liat banyak wajah-wajah asing yang tidak biasanya, kalau bukan terlalu putih ya terlalu hitam atau mata sipit.

Konferensi dibuka dengan speech, salah satunya Pak Emil Salim yang merupakan presiden Konferensi mahasiswa pertama tahun 1956. Asia Africa Student Conference atau Konferensi Mahasiswa Asia Afrika baru diadakan 2 kali, yang saya ikuti sekarang adalah yang kedua kalinya setelah 59 tahun tak pernah diadakan lagi. Dahsyat ngga?
Negara yang berpartisipasi hingga mencapai 48 negara dengan total delegasi lebih dari 200 orang.
Ngga heran tiap pindah ruangan berasa kenalan dengan orang baru terus.
Saya duduk di sebelah Alie dari Sierra Leone, dia banyak cerita tentang negaranya yang kaya akan sumber daya alam dan mimpinya buat bantu masyarakat di kampung halamannya membangun masa depan yang lebih baik. Dia dapet beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk nerusin kuliah master disini. Kebanyakan delegasi dari Afrika memang pelajar S2 yang berkuliah dengan bantuan beasiswa dari pemerintah Indonesia. Untuk negara-negara yang tidak terlalu jauh semacam Hongkong atau China baru didatangkan langsung dari sana.

Pak Emil Salim; Presiden Konferensi Mahasiswa tahun 1956



Suasana Main Hall di hari pertama
(pic by AASC official Facebook page)


Setelah speech di main hall Gedung Merdeka selesai, kami semua dipisah berdasarkan Komite dan masuk ke ruangan masing-masing. Disinilah diskusi sebenarnya berlangsung. Sebelum membuat draft communique ada Pak Arya dosen yang didatangkan oleh panitia untuk memberi perkuliahan mengenai kebudayaan. Setelah itu barulah kita memberi solusi untuk setiap scope of problem yang diajukan oleh Comitte independent.
Komitte saya Comitte 1: Leadership to promote the Asian-African cultural values
Permasalahan yang harus diselesaikan adalah:
1. How do we build a repository for Asian and African local culture values?
2. How do we reinvigorate the Asian and African cultural values in the society?
3. How do we develop the local cultural values in the global context?
4. How do we develop the local cultural values to create a strategic plan on the issue of climate change?

Komite saya berkolaborasi dengan baik, pada saat saat seperti ini biasanya muncul orang-orang keren yang tanpa disuruh dan tanpa babibu langsung inisiatif jadi leader dan mengkordinir. Kami akhirnya dibagi-bagi menjadi 4 kelompok untuk masing-masing berdiskusi dan memberi solusi tiap poin masalah. Saya sendiri berdiskusi membahas scope of problem number 1. Hari pertama diharapkan kami sudah menyelesaikan draft untuk besok dipresentasikan, syarat draft adalah ditanda tangani oleh minimal 20 delegasi. Jika pada saat konferensi draft belum selesai, harus dikerjakan di luar waktu konferensi, artinya di waktu istirahat kami. Belakangan komite lain ada yang sampai tengah malam berdiskusi membahas solusi. Wuih. Hari pertama komite kami paling terakhir pulang ke hotel karena kami semua keukeuh ingin menyelesaikan draft hingga tak perlu mengganggu waktu istirahat.

Group discussion scope problem no. 1


Mr. Chicoca lagi ngasih saran

Ruangan Komite 1

Malam harinya kami makan malam (lebih tepatnya ngemil cantik makanan tradisional semacam mendoan, kue ape, awug dll) ujungnya adalah teu wareg. Delegasi-delegasi mulai menyebar kemana-mana, saya bareng-bareng sama Noy terus, Noy datang dari Laos. Saya dan Noy akhirnya memutuskan untuk melipir ke Wiki Koffie, lagi jalan kaki saya ketemu sama Alan dari Nigeria, saya ajakin dia buat gabung dan kami bertiga akhirnya nongkrong di Wiki sambil ngobrol. Alan ngobrolin pengalaman-pengalaman dia selama di Indonesia, dia juga ngobrolin kenangan buruknya soal muslim di negara asalnya, konon disana menurut Alan muslim kebanyakan rasis dan ga fleksibel. Well sebagai utusan dan sebagai anak muda yang menjunjung tinggi ajaran agama (lebay asli ngga gitu banget sebenernya) kita diskusi tentang bagaimana muslim di sini dan menurutku mau apapun agama, suku, ideologi sikap seseorang adalah tergantung kepribadiannya. Saya berharap dengan jadi temen muslimnya yang fleksibel, menyenangkan dan pintar menyebrang (apasih), akan merubah pandangan Alan tentang muslim. 

Semakin malam kami meninggalkan Wiki dan saya gabung dengan Alan dan temen-temen dari benua Afrika lain di salah satu tempat di Braga, ada kaka kaka dari Lesotho, dari Burundi, dari Zimbabwe, semuanya rata-rata mahasiswa S2, saya anak bawang. Mereka ngobrol-ngobrol sambil ketawa ketiwi dan jatuh cinta sama Bandung, sampai beberapa kali bilang "This is Bandung Spirit! BANDUNG MERDEKA!" Hahahaha.
Saya juga diajarin joget ala ala Afrika sana, ternyata kunci goyangan mereka terletak di pinggul dan pantat, mirip mirip dangdut lah, tapi lebih geunaheun dan lebih kocak. Kaka dari Zimbabwe sampe goyang itik ala ala Zaskia Gotik tapi doi tidak sadar bahwa itu juga dipakai pedangdut tanah air.

Jam 11 saya pamit duluan karena uda ngantuk banget, ketika sampai lobi hotel masih banyak delegasi yang lagi berkutat dengan laptop, kertas sambil diskusi. Woalah mereka masih bikin draft communique. Luar biasa. Anja ternyata sudah ada di kamar duluan, kami lalu cakap-cakap sebentar dan tidur.

Ngga sabar buat hari ke tiga...

to be continued

Untuk yang belum baca pengalaman saya di hari pertama, silakan klik link ini : asia-africa-student-conference-day-1

Dan ini kelanjutannya : asia-africa-student-conference-day-3

Comments