Asian-African Student Conference (last day)

Sabtu, 2 Mei 2015

Banyak bareng-bareng sama mereka ini bikin saya jadi bagian dari delegasi lain yang bukan orang Indonesia, saya yang asli orang Bandung dan hampir tiap Minggu seliweran sekitar Museum KAA dan Jl. Braga ngerasa kaya orang asing juga. Mungkin karena frekuensi orang-orang sekitar ngeliatin lebih edan dari biasanya, kadang kalau lewat juga saya sering disapa pake bahasa Inggris dan kemudian saya jawab pake bahasa Sunda. Baru orang sekitar berubah raut mukanya jadi lebih nyaman dan heureuy.



Mehdi yang mukanya ada Arab campur Eropa kemarin cerita, kenapa orang-orang kadang suka melongo kalau dia lewat, apa mereka mau ajak ngobrol? atau gimana? Padahal kalau mau ngobrol ya tinggal samperin saya aja dan kita ngobrol. Mehdi anaknya jail jadi kadang dia suka sengaja dadah-dadahin orang pake muka aneh. Hwkwkwk. Orang-orang juga kadang banyak yang minta foto sama temen temen delegasi asing, mereka mungkin ngga tau juga sama siapa mereka foto. Kenal kah? Terus kalau cuma foto doang sm orang asing buat apaan? Well, tapi mungkin tiap orang beda, nemu yang beda harus diabadikan kali ya.

Saya jadi berada di sudut pandang mereka yang orang asing disini dan jadi banyak belajar untuk ngga usah lebay kalau liat bule (tapi emang dulu juga ngga lebay sih). Kami uda deket banget sama beberapa delegasi seperti misalnya dengan Ahmed dari Somalia. Bercandaannya uda sampe bawa-bawa warna kulit tapi kita ketawa ketiwi. Ahmed kalau lagi foto sering bilang:

"Am I too black? Can you see me?
"Oow bro I'm sorry I can't see you."
"I will smile, you can see my teeth, there are so white." (emang giginya Ahmed ini terang dan bagus banget. hahaha)

Ahmed juga sering jailin saya. Gggrrr. Untuk catatan, ngga ada yang namanya bahasa Afrika, mungkin yang banyak orang maksud adalah Swahili, bahasa yang paling banyak digunakan warga negara di benua Afrika sana. Tapi kebanyakan mereka bisa 3 bahasa, mother language, French, Arab dan English.

Balik lagi ke perjalanan, hari ini waktunya kita jalan jalan. Kami delegasi ngga diberi tau bakal jalan-jalan kemana. Opuy temen saya bilang bakal seru kalau outbond atau kalau kata saya dengan dateng ke saung Udjo juga uda asik.

Yang paling item, paling cerah giginya dan paling centil = Ahmed 

Setelah perjalanan yang lancar sekitar setengah jam dan menahan buayan enaknya duduk di bis (kenapa kalau duduk di bis suka nundutan?) akhirnya kami sampai juga di sebuah perkampungan adat di Pasir Impun. Setelah turun dari bis kami disambut pawai bebegig, bapak-bapak angkat padi, ibu-ibu numbuk padi, orang pake topeng, gorila.

Banyak orang yang ngga tau itu siapa, delegasi bukan, panitia bukan


Serem banget liat ini 


Ini katanya Bebegig

Thanks untuk Miss Afifi atas 3 gambar di atas. Setelah melewati berbagai peragaan kami dikumpulkan di sebuah bale bale. Acara lalu dimulai dengan rajah (berdoa), yang berdoa adalah sesepuh Olot pakai bahasa Sunda lemes campur Arab saya yang dengernya enak karena uda lama juga ngga denger basa Sunda lemes macam begitu. Setelah berdoa prosesi dilanjutkan dengan sambutan tuan rumah. Selanjutnya adalah pemberian gelar untuk tokoh penting, hari itu ada Guruh Soekarno Putra datang, Menteri Kehutanan dan Lingkungan juga Kapolda Jabar serta ada satu orang Perancis yang katanya telah banyak membantu kampung Alam Sentosa ini menjadi kampung adat. Kita delegasi nonton prosesi itu, dan semuanya pakai bahasa Indonesia. Alhasil sepanjang prosesi saya mentranslate apa yang diomongin MC buat temen saya Kazkimov dari Uzbekistan.
Inti acaranya adalah jadi 4 orang penting ini diberi pakaian adat, gelar, kujang (senjata tradisional Sunda) dan semua-muanya ngasih sambutan. Kalau dihitung-hitung mungkin pagi itu ada 6 orang ngomong kasih sambutan yang isinya begitu begitu semua.
Temen-temen delegasi banyak yang melipir dan keluar dari bale bale karena memang mungkin mereka ngga merasa jadi bagian dari prosesi tersebut. Kita cuma penonton.

Depan kiri saya Fathin dari Malaysia, sebelah kiri saya Kazkimov dari Uzbekistan, sebelah kanan Opuy warga asli

Setelah sambutan yang sangat banyak itu akhirnya acara dibuka dengan dibunyikannya angklung. 

Akhirnya acara dibuka

Kami lalu digiring untuk datang ke bale yang lain. Disini kami duduk dan diperlihatkan prosesi pencampuran air keramat dari 7 mata air yang berbeda. Ternyata yang bawa air-air tersebut ada yang datang dari Sumedang, Pangandaran, dll. Lagi-lagi penjelasan bahasa Inggrisnya agak kurang, jadi banyak delegasi yang ngga terlalu merhatiin, buktinya Ahmed malah ngajakin foto mulu.

Orang-orang sibuk merhatiin prosesi


Sekelompok orang ini kerjanya foto

Berhenti translate-in Kazkimov sekarang jadi translatornya si Ahmed karena dia bener-bener ngga bisa bahasa Indonesia. Beres liat prosesi penyatuan air dilanjutkan dengan prosesi pelepasan burung dan penanaman tanaman. Perwakilan dari Asia dan Afrika diminta untuk nanem tanaman ini di gunung. Jadi dari bale ini kami harus jalan kaki ke gunung sambil pake iring-iringan macam pawai. Ahmed dan tmn-tmn yang ada di foto memilih untuk ngga ikut dan diem di bale karena mereka ngerasanya ngga jelas harus ngapain. Saya ngerasa juga terlalu banyak orang dan sumpek banget hari itu, saya apresiasi banget untuk orang-orang yang ingin ikut partisipasi tapi dampaknya ke temen-temen delegasi yang cape jadi ngga semangat.



Awalnya saya juga ngga akan ikut ke gunung tapi Noy temen saya dari Laos pengen liat dan dia pengen ditemenin. Oke deh demi persahabatan. (asseekk). Bujubuset menuju ke bukit untuk ditanami tanaman jalannya terjal mameeeenn. Sesampainya di puncak ada lapangan luas yang memang sangat tandus dan butuh pohon. Kami diperlihatkan kesenian tradisional Lai dan debus. Kami juga diminta untuk melakukan prosesi melepaskan burung dan menanda tangani batu.


Setelah turun bukit saya merasa sangat lapar dan kami memang dipersilakan untuk langsung makan. Ternyata temen-temen yang ngga ikut ke bukit uda pada makan duluan dan mereka lagi lenjeh lenjeh di atas tiker di bale bale dalem. Waktu saya sampe ada panitia teriak-teriak meminta delegasi-delegasi yang departure time-nya jam 3 sore berkumpul.
Sedihnya adalah temen-temen deket saya yang dari Afrika termasuk roomate saya Anja departure jam 3 dan saya ngga tau karena saya lagi makan. Saya baru sadar ketika di bis pulang, isi bis berkurang setengahnya. Sedih banget karena ngga sempet pamitan apa apa. Saya kira juga ketika sampai Gedung Merdeka kami bisa kumpul untuk say Good Bye taunya engga. Yang bikin kesel hari itu adalah ketidak kondusifan waktu pulang hingga mengakibatkan saya banyak ngga pamitan sm temen-temen lain.

Hari terakhir saya merasa anti klimaks karena banyak kegiatan yang menurut saya kurang kondusif akibat banyak sekali orang dan tempat yang kecil serta terpisah-pisah, akibatnya kita ngga bisa kumpul dan kurang merasakan suasana kekeluargaan. Namun ketika perjalanan pulang saya dibahagiakan Vei dan Ahmed yang cerita macam-macam kejadian lucu mostly tentang kejailan-kejailan mereka. Thank God I met them.

Seminggu setelah AASC atmosfernya masih kami rasakan atau bisa dibilang saya rasakan. Bersama dengan mereka selama 4 hari menumbuhkan rasa persatuan yang tinggi. Masing-masing delegasi dengan antusias mengundang kami datang ke negaranya bahkan ke kota tempat mereka belajar di Indonesia seperti misal Surabaya, Jogja, Jember, Bogor. Noy sohib saya dari Laos bilang saya bisa datang ke kosan nya kapan aja dan dia bakal masakin saya masakan khas Laos. Sanju dari Nepal mengundang saya datang ke Nepal, Sanju bilang someday kalau kamu datang ke Nepal kamu ngga usah mengeluarkan uang buat apapun, cukup tiket pesawat, semua keperluan kamu akan saya tanggung Runi. Kamu ngga perlu khawatir soal makan atau soal tidur atau jalan jalan.
Temen-temen geng Bandung uda ngebet aja pengen kumpul dan seru-seruan bareng. Vei yang keturunan Finlandia bilang untuk party di rumahnya dan mamanya akan buat masakan khas Finlandia dia juga ngajarin saya bahasa Finlandia. Opuy jadi sohib saya sekarang dan komplek rumah kita deketan (siap siap kamu aku telfon buat jalan jalan ya) hwkwkwk.

Kami juga patungan buat bantu korban-korban di Nepal. Sampai sekarang komunikasi kami terus berlanjut lewat group yang dibuat disana sini. Dengan melihat anak-anak muda ini saya percaya persatuan dan perdamaian dunia bisa jadi masa depan kami. Semoga aja semangat yang kami bawa dari Konferensi ini akan sampai ke orang-orang di sekitar.

 Thank you for everything my brothers and sisters from Asia-Africa. Until we meet again.

Love from Bandung, your home.
Runi Rachmalina Utari


Ps: Foto foto akan saya komplitkan kemudian karena masih banyak yang ada di temen-temen lain, ada video juga yang akan saya upload tapi sinyal di rumah jelek, jadi untuk sementara cerita dulu deh yah. Hihi


Baca juga pengalaman hari-hari saya yang lain saat AASC
asia-africa-student-conference-day-3
asia-africa-student-conference-day-2
asia-africa-student-conference-day-1


Comments