Film Dokumenter, Smart Fashion People

Ini film dokumenter, tentang realita dibalik pakaian yang kita pakai.
The True Cost (2015)



People actually die because of our clothes :(
Saya menyukai fashion, mengagumi bagaimana sebuah warna, bentuk dipadukan jadi satu dan nampak menarik dipakai oleh manusia. Fashion seperti media seni, karena saya tidak bisa melukis untuk menyalurkan kekaguman akan warna dan bentuk, saya "bermain" dengan pakaian.


Saya menyukai fashion setelah lulus SMA, secara tidak sadar saya tertarik memadukan berbagai bahan, bentuk, warna di tubuh manusia dan tidak disangka saya cukup mahir dalam hal tersebut. Saya lalu mempelajari lebih dalam bahwa fashion bukan hanya soal baju dan penampilan yang kamu pakai namun juga maksud dan cerita dibaliknya, lebih menarik lagi adalah sejarah mengenai era-era Mode serta kepribadian dibalik penampilan yang kita pilih.

Di film ini bidang yang saya suka, yang saya kagumi, dikritik dan dikupas habis habisan. Terkait dengan dekatnya fashion dan perilaku konsumsi berlebihan. Lalu saya seperti dibawa ke dalam sebuah kenyataan dimana di luar sana manusia meninggal demi membuat pakaian yang kita pakai.

Saya diberitahu bahwa limbah tekstil adalah limbah terbesar kedua yang mengotori bumi setelah minyak. Merek-merek pakaian terkenal Amerika (yang sangat hits, hyped dan diagung-agungkan para remaja) membuat pakaian mereka di negara-negara berkembang seperti Bangladesh dan Kamboja agar dapat membayar upah murah. Mereka dipaksa tinggal di sebuah rusun pekerja yang tidak layak hingga gedung tersebut runtuh dan menewaskan ratusan pekerja. 
Belum lagi ada kasus dimana Ibu yang terpaksa berpisah dari anaknya karena sang ibu harus bekerja di Pabrik namun lingkungan pabrik tidak memungkinkan untuk seorang anak kecil tumbuh. Di India, di pinggir sungai Gangga terdapat pabrik kulit yang klorium dari pabrik kulit mencemari satu-satunya sumber mata air di daerah tersebut. Akibatnya warga kampung yang tinggal di sekitar tempat pembuangan limbah pabrik sebagian besar memiliki penyakit kulit karena lingkungan yang tidak sehat.

Film memperlihatkan secara gamblang kontradiksi antara buruh pabrik miskin yang bekerja siang malam dengan bagaimana prilaku orang-orang yang secara berlebihan berbelanja karena diskon untuk mungkin sesuatu yang tidak mereka pakai. Hal-hal mencengangkan dan membuat saya langsung berpikir tentang semua pakaian saya. Siapa yang membuat? Apakah hidupnya layak?

Pakaian dari merek terkenal untuk era ini harganya tidak terlalu mahal dan secara tidak sadar menekan buruh-buruh agar membuat produk yang lebih dan lebih lagi. Semata-mata demi kepuasan konsumen. Sebagai penyuka mode saya memang butuh berbelanja pakaian yang baru agar hobi saya tersalurkan, namun saya bersyukur saya bukan shopaholic. Tanpa menjadi shopaholic kamu tetap bisa berkreasi dan "bermain" dengan penampilan. Caranya:

1. Belilah Fashion Essential Items, apa saja Fashion Essential Items tersebut? Sebagai gambaran, kamu bisa cek di post saya yang ini Top Must Fashion Items Woman Should Own
Essential Items bisa kamu padukan dengan berbagai macam kreatifitas dan saya jamin kamu tetep stylish. Kamu boleh menghabiskan dana pengeluaran untuk Items ini karena saya sarankan Essential Items haruslah yang terbaik. Jangan buang Essential Items mu karena kamu bisa pakai ini dalam waktu yang sangat lama bahkan item dasar ini dapat kamu pakai berkali-kali tanpa orang menyadari itu adalah item yang sama, kuncinya, MIX IT!

2. Jahit Bajumu Sendiri.
Sudah saatnya kita belajar menjahit, setidaknya tingkatan dasar. Atau jika masih belum bisa jahit sendiri, minta Tailor untuk menjahitkan, setidaknya tukang jahit adalah orang yang kamu kenal dan kamu bisa membayarnya dengan upah yang sesuai.

3. Pakai Semua Bajumu
Ini hal yang paling saya gemas dengan para perempuan, merasa tidak mempunyai pakaian yang bagus padahal jika dilihat ke dalam lemarinya lebih dalam, banyak sekali pakaian yang bisa dipadu padankan. Merasa kurang percaya diri jika memakai pakaian yang sama? Kuncinya adalah kreatif. Untuk ukuran perempuan yang menyukai fashion, pakaian saya termasuk tidak banyak. Saya mengoptimalkan berbagai pakaian hingga benar-benar tidak bisa dipadukan lagi.

4. Jika Membeli Pakaian, Sumbangkan Juga Sebagian
Saya selalu melakukan ini, ketika saya mengisi lemari saya dengan pakaian yang baru, saya akan menyumbangkan sejumlah pakaian yang saya beli. Seperti sistem pertukaran, dengan begitu saya memenimilasir jumlah pakaian yang tidak pernah saya pakai. Tapi saya sarankan essential items tetap harus ada di lemari kamu karena itu akan terpakai terus.

5. Perbanyak Warna Netral, Tidak Perlu Ikuti Trend, Jangan Beli Yang Pasaran
Saya belajar, baju yang nge-trend hanya akan kamu pakai paling lama 2 bulan. Ketika trendnya selesai, baju itu pun nasibnya selesai. Dia akan teronggok di pojokan lemari sambil showeran. Alhasil terbuang percuma. Baju yang sedang nge-trend juga biasanya diproduksi secara masal, gak mau kan tiba-tiba ketemu orang yang bajunya persis banget sama kita? Kebanyakan perempuan suka "kabitaan" melihat di Instagram atau di Medsos atau di Online Shop baju yang nampaknya keren, lucu, cucok sekali dan menggebu untuk beli eh taunya pas hangout atau ke kantor atau ke kampus ada orang pakai baju yang sama. What a disaster.

6. Support Local Brand
Apalagi yang pembuatannya memang dilakukan di negeri sendiri, atau lebih baik lagi karena memang membantu kesejahteraan masyarakat dari suatu daerah. Saya anak Bandung dan saya yakin kalau kamu pembaca yang tinggal di Bandung, dapat dipastikan kamu punya teman atau sahabat atau saudara yang jualan barang-barang penunjang penampilan (Pakaian, Celana, Jaket, Sepatu dll). Setidaknya dari mereka kita bisa yakin bahwa orang yang membuat barang itu tidak dieksploitasi dan diperlakukan dengan baik serta diberi upah layak. Mendukung produk setempat juga mendukung perekonomian.

7. Lebih Smart Menghadapi Diskon
Godaaan diskon itu kaya godaan cowo ganteng lagi dadahin minta disamperin (apasih). Iyaaa diskon memang godaan terberat dan saya bukan melarang kamu untuk tidak tergiur. Intinya smart memilih barang diskon apa yang akan kamu beli dan PASTIKAN DIPAKAI. Jangan sampai cuma bikin ruang di lemari sempit.

Untuk catatan saya ingin menghilangkan stigma dimana penyuka fashion adalah orang yang mempunyai hasrat belanja secara berlebih. Well selain saya, saya mengenal orang-orang yang stylish di luar sana yang memandang Mode lebih daripada itu semua.
Cobalah pandang fashion sebagai sebuah art, karena saya dan teman-teman penyuka fashion tidak hanya membicarakan tentang brand yang sedang ngetrend atau harga pakaian di sebuah mall.
Kami melihat bagaimana kelihaian seorang desainer dalam membuat sebuah desain baju, apa ciri khas dari tiap desainer dan makna apa yang diusung dalam karyanya. Kami membicarakan bentuk peninggalan kebudayaan dari sebuah corak, bahkan gerakan-gerakan sosial dari kaum Mods, Hippies. Hubungan antara pakaian yang dipakai dengan sebuah peradaban pada masanya, lalu hubungan antara musik tahun tertentu dengan gaya hidup dan pakaian yang mereka pakai pada masa tersebut. Asal mula Levi's, bagaimana sejarah Little Black Dress. Asal muasal Nehru Jacket yang terkenal dan usut punya usut ternyata berasal dari kebiasaan perdana Menteri India Nehru yang sering memakai bentuk jaket tersebut. Dan masih banyaaakkkk pembicaraan mengenai fashion yang tidak hanya soal haha hihi biar keren.
Saya melihat fashion lebih daripada hanya sebuah penunjang penampilan.
Saya mengaguminya seperti mengagumi sebuah karya Seni.


The True Cost akan merubah pandangan kalian mengenai hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dan semoga tulisan saya juga sedikit banyak merubah pandangan mengenai hal anggapan tertentu dan memandang sesuatu lebih dari kelihatannya.


Comments