Generasi 00 Pertama Kali Nonton Wayang

Komplek tempat saya tinggal masuk ke dalam kawasan suburban, tidak di tengah kota Bandung namun terlalu modern jika dikatakan sebagai pedesaan. Malam ini panitia perayaan kemerdekaan menyelenggarakan pertunjukkan wayang golek. Saya tidak punya kampung, hidup selalu di Bandung dan tidak pernah sama sekali menonton wayang golek secara langsung. Lalu saya melihat anak-anak, kebanyakan kisaran umur 6-15 tahun really excited about the show. Rasanya ada sedikit rasa iri tapi bahagia. Mereka diperkenalkan mengenai wayang golek di kala masih kecil dan semoga saja dapat membuat mereka jatuh cinta dengan kebudayaan Indonesia.
Ketika panggung disiapkan, wayang diberdirikan, saya melihat ukiran, warna, bentuk kemegahan dan kecantikan melebur jadi satu. Suara pengiring dari alat alat musik tradisional yang saya tidak terlalu tau satu persatu namanya menambah suasana begitu sarat budaya.

Suasana menunggu pertunjukkan dimulai



Wayang golek adalah salah satu kebudayaan yang akan sangat jarang ditemui di kota-kota besar apalagi di Jawa Barat. Malah kebanyakan orang-orang sebaya saya mungkin hanya mengetahui wayang golek berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang tentu saja asal muasalnya dari kebudayaan Hindu. Selain karena kesenian, jaman dahulu kala Sunan Kudus menyebarkan agama Islam melalui wayang. Wayang berkembang di tanah Priangan pada masa Kesultanan Mataram mengikuti pakem dan jalan cerita wayang Kulit Jawa terutama kisah wayang Purwa (Ramayana dan Mahabharata). Salah satu perbedaan paling mencolok adalah penamaan tokoh punakawan Sunda.

Wayang pertama yang ditampilkan seorang wanita, dia menari. Jika kamu pikir wayang akan begitu kaku kamu salah, wayang wanita ini menari dengan gemulai, dia bernapas. Dalang membuat wayang wanita ini bernapas, dadanya naik turun seperti hidup.

Wayang Wanita dengan nama yang dirahasiakan

Selama kurang lebih setengah jam dalang belum bernarasi, diisi dengan nyanyian dari sinden dan tabuhan gamelan.
Narasi dimulai menggunakan bahasa Sunda tingkatan paling tinggi (Basa Sunda lemes pisan). Saya merasa seperti orang asing di tanah sendiri, mengerti apa yang dalang bicarakan dengan menyimpulkan satu kalimat dari beberapa kata bahasa Sunda yang cukup familiar.

Team Sinden dan Gamelan



Narasi yang diperdengarkan sebagian besar berisi ceramah. Sekelibat pembicaraan mengenai asal mula agama Islam teringat. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dahulu ajaran Islam masuk melalui kebudayaan, salah satunya wayang.

Satu jam menonton wayang saya ingin sekali jikalau tiba-tiba di sebelah saya muncul ahli Bahasa Sunda dan ahli cerita wayang. Karena begitu banyak pertanyaan mengenai cerita, mengenai tokoh, mengenai arti kata. Beruntung papah saya muncul, alhasil kenikmatan beliau nonton wayang saya ganggu dengan banyak pertanyaan.
Seperti: 1. Itu siapa pap? (menunjuk salah satu tokoh)
2. "-----" artinya apa pap? (saya biasanya menyebutkan satu kata bahasa Sunda yang saya tidak mengerti)



Pertunjukkan wayang diambil dari kisah Mahabharata yang kebetulan saya belum pernah menonton atau membaca buku mengenai Mahabharata. Namun saya cukup dikatakan beruntung karena membaca kisah Ramayana. Dulu saya sama sekali tidak mengerti apa perbedaan-perbedaan wayang, saya tidak tau siapa itu Rahwana, Ramawijaya, Batara Guru, Hanoman dan saya pikir sama saja. Setelah saya membaca buku mengenai Ramayana saya mengenal wayang. Dan terdapat perbedaan-perbedaan cukup signifikan antara Ramayana dan Mahabharata. Dan apa saja perbedaannya? Alangkah lebih baik jika kita berbiacara secara langsung mengenai ini. Hehehe (Jika ingin mengenal kisah wayang Ramayana cukup dalam saya rekomendasikan buku sastra karya Shindunata "Anak Bajang Menggiring Angin" dan karya Seno Gumira Ajidarma "Kitab Omong Kosong")
Kisah yang diangkat pada pertunjukkan wayang golek yang saya tonton kali ini sepenggal dari kisah Mahabharata.

Gatotkaca dan Suteja diberi tahu Kresna jika ingin mendapatkan ilmu maha Sakti dari Kresna mereka harus memperebutkan satu wanita dengan cara berkelahi. Itu sepenggal kisahnya. (Kisah purwa sangatlah panjang dan rumit jadi dalang hanya mengambil potongan kecil agar penonton tidak bingung)

Gatotkaca - Kresna - Semar

Anak-anak yang semula senang, lama kelamaan mulai menyebar. Penyebabnya kemungkinan besar karena bahasa, mereka tidak terlalu mengerti basa Sunda lemes. Sepanjang pertunjukkan tidak sama sekali dalang berbicara meggunakan bahasa Indonesia, namun ada pengecualian ketika Punakawan yang berperan, kebanyakan Punakawan menggunakan basa Sunda kasar agar lawakan lebih dimengerti dan lebih mengena. Isi narasi kadang juga bersifat ajaran leluhur, berisi makna kehidupan dan hal-hal yang sebaiknya tidak kita lakukan antar sesama manusia.

Setelah Gatotkaca dan Suteja keluar, masuk Cepot dan Dawala, berempat dengan Kresna dan Semar percakapan yang disuguhkan dalang adalah banyolan banyolan yang membuat kami terbahak.
Nah untuk yang bingung, kenapa ada wayang yang begitu tampan, gagah, anggun, serius tapi juga ada yang tidak mengambil bagian heroik dari sebuah kisah Purwa. Mereka ini para pendukung tokoh utama dan membuat pertunjukkan wayang lebih ceria dengan kejahilannya, dengan muka mereka yang aneh-aneh, dengan celetukan, dengan komentar sarkastik atau saling menjelekkan junjungan masing-masing. Mereka ini yang disebut Punakawan.

Punakawan pewayangan Jawa Tengah menampilkan Semar dengan ketiga anaknya yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Selain itu terdapat pula Punakawan golongan raksasa yaitu Togog dan Bilung.
Punakawan pewayangan Jawa Barat menampilkan Semar, Cepot, Dawala dan Gareng.



Dari semua pewayangan dapat dikatakan Cepot adalah tokoh punakawan yang paling diidolakan warga Jawa Barat, oleh sebab itu cepot diberi waktu bercerita sendirian selama kurang lebih satu setengah jam. Bentuknya seperti stand up comedy lah kalau ditarik ke jaman sekarang.

Ini super ngakak, naik kuda pake helm biar aman

Wayang menyesuaikan diri dengan jaman, masuk ke lingkungan perumahan dibuatnya agar tidak terlalu kaku dan terlalu menjunjung cerita Mahabarata, walhasil di tengah pertunjukkan ada wayang ustad datang menyanyi berujung dengan sesi sawer. Si wayang ustad menyebutkan satu satu nama orang-orang yang datang sambil bernyanyi. Dalang tau siapa saja yang datang karena dalang masih tetangga kami. Mau tidak mau orang-orang yang dipanggil wayang ustad menghampiri untuk memberi uang.
Ada saat dimana wayang ustad mencontohkan kumandang adzan dan bertaudz (asli suara dalang bagus banget semua penonton langsung diam).

Wayang pak Ustadz

Saya sudah sedikit ungkit sebelumnya bahwa sang dalang adalah tetangga kami. Benar sekali! Beliau datang menempati sebuah rumah besar di ujung jalan yang konon katanya berhantuuuuu (padahal isu ini teh jaman saya kecil, masih wae percaya) hahaha. Itulah asal muasal mengapa kami masyarakat bukan kota bukan desa ini bisa bikin pertunjukkan wayang, Dalang Apep live in the neighbourhood. Dan merupakan sebuah keberuntungan serta kehormatan dalang yang sudah melanglangbuana hingga ke Eropa dan Amerika ini mengadakan pertunjukkan untuk kami. Beliau sudah cukup terkenal di dunia per-Dalang-an, and yes he's awesome. Sebelumnya saya membayangkan bahwa dalang itu kurus, tua, tidak terawat dan pandangan-pandangan generalisasi sotoy lainnya. Tapi sodara sodara! Dalang Apep masih muda, umurnya mungkin sekitar 30an.. :)

Dalang Apep (tengah)

Adegan luar biasa dari pertunjukkan wayang salah satunya adalah perkelahian antara dua wayang yang berseteru. Perkelahiannya tidak asal, memakai koreo yang dikuasai tangan lihai dalang. Untuk sesaat saya terlalu terkesima hingga tiba-tiba sadar sekaligus terheran heran, bagaimana bisa dalang menggunakan satu tangan untuk menggerakan tangan, kepala, badan berikut menunjukkan perkelahian yang akrobatik.

Gatotkaca - Suteja

Pertunjukkan dilaksanakan dibarengi dangan pasar malam rakyat yang saya tidak menyangka sama sekali akan seramai kemarin. (Tau gitu ikut jualan). Wayang Golek ini menarik banyak minat masyarakat sekitar terutama kalangan orang tua yang merindukan pertunjukkan budaya semacam ini yang hanya bisa ditemui saat mereka pulang kampung. Saya tinggal di komplek ini sekitar kurang lebih 20 taun dan belum pernah melihat keramain perayaan 17an seheboh kemarin. Cool!





Saya kuat menahan kantuk tapi menyerah dengan nyeri di punggung (ingin tiduran banget atau nyender), akhirnya pukul 2 malam saya pulang ke rumah, menyesal karena ternyata pukul 2.30 dini hari pertunjukkan wayang selesai. Tau gitu ditungguin sampai beres. Maklum saya penonton wayang kelas paling awam jadi saya pikir pertunjukkan akan selesai ketika adzan Subuh. Saya duduk dekat panggung jadi ketika mengarah pulang saya harus melewati kelompok orang-orang yang duduk hingga belakang. 

Para penonton yang luar biasa! 

 Sampai pakai screen untuk memuaskan penonton yang di belakang

Perayaan 17 Agustus 2015 kemarin salah satu perayaan yang saya favoritkan setelah umur segini tidak pernah lagi ikut campur dengan kepanitiaan lingkungan rumah. Antusiasme masyarakat juga mencengangkan. Saya dapat pengalaman baru menonton wayang. 
Dampaknya? Saya ingin lagi nonton wayang, bahkan esok harinya saya banyak tanya papap kira-kira di Bandung saya bisa liat pertunjukkan wayang dimana. Alangkah serunya jika dalam satu bulan di satu tempat pertunjukkan atau aula atau ruang publik lain ada pertunjukkan wayang secara reguler. Saya harap suatu hari dapat terwujud, cc @ridwankamil (banyak permintaan pisan Run)

Dampak lain adalah saya jadi ingin belajar lebih dalam mengenai kebudayaan suku saya yang lain, sejarahnya hingga sampai ke makna filosofisnya karena saya percaya dahulu kala nenek moyang kita membuat sebuah kebudayaan karena sebuah dorongan spiritualitas tinggi antara manusia dan alamnya.
Saya anak 90an yang baru benar-benar belajar sejarah di umur saya yang menginjak 20an. (Kenapa dulu sejarah itu ga seru sih? KENAPA baru sadar bahwa sejarah itu penting?).
Saya harap sekarang atau di masa depan kita mengetahui untuk apa adat istiadat dibuat dan dapat mengambil kebaikan dari yang diajarkan leluhur. Atau..
Setidaknya saya, kamu, dapat menjelaskan identitas kita masing-masing.







Ps: Maaf atas keterlambatan penulisan, semoga bermanfaat.
All photos credit to Amalia Nurbayti, you can find her Instagram @amliart

Comments