BFD (Tulisan Pengalaman yang Santai)
Ketika saya lulus SMA, ada pertanyaan cukup mendalam mengenai apa yang akan saya lakukan kemudian. Haruskah mengikuti alur yang lumrah, di mana setelah SMA saya memasuki bangku kuliah, jika ya jurusan apa yang harus saya ambil? Atau saya memilih jalur lain yaitu bekerja saja? Apakah saya harus mendaftar ke Universitas atau Politeknik? Atau Sekolah Tinggi Akuntansi? Atau mendaftar pegawai negeri?
Pertanyaan-pertanyaan rencana masa depan ternyata dialami tidak hanya remaja beranjak dewasa di Indonesia, namun juga di Jerman. Bedanya, Jerman menawarkan banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan sambil menunjang pencarian jati diri maupun masa depan akademis. Salah satunya akan saya coba gambarkan.
Kebetulan, saya mengikuti program ini tidak dengan niat pencarian jati diri di umur 18 atau 19, fase itu mungkin sudah pernah saya lewati, Namun tetap saja, saya ini pelajar seumur hidup. Niat saya mengikuti program karena ingin belajar, tentang kehidupan, tentang dunia, tentang kebaikan, tentang perbedaan, tentang spiritualitas dan tentang menjadi manusia.
Dan dalam kisah ini, saya akan menjabarkan bagaimana rasanya menjadi seorang relawan.
Bundesfreiwilligendienst (BFD) / Freiwilligen Soziales Jahres (FSJ)
Tak perlu mencoba berpusing ria cara membacanya, akan saya coba beri contoh jika suatu hari kita berjumpa, atau..
google siap membantu kapan saja.
Program di atas yang akan saya singkat menjadi BFD atau FSJ adalah program menjadi seorang sukarelawan di berbagai ranah bidang pekerjaan.
Singkat penjelasan BFD atau FSJ adalah program yang diperuntukkan untuk penduduk yang sedang atau akan tinggal di Jerman (tidak melulu harus warga negara Jerman), di mana relawan selama satu tahun atau lebih menjalani program di sebuah Organisasi maupun Yayasan sosial. Lebih singkat lagi, kami kerja sosial.
Bagaimana cara dan ketentuannya tidak akan saya ceritakan lebih banyak, karena teman-teman dari komunitas AFA (Au-Pair, FSJ, Ausbildung Indonesia) di Jerman sudah cukup banyak berbagi tentang hal tersebut. Bisa dilihat di tautan ini:
Link Seputar FSJ (by AFA)
Saya sendiri berada di bawah asuhan Träger Bayersiches Rotes Kreuz disingkat BRK. Sebuah lembaga palang merah Bayern yang berafiliasi dengan Palang Merah Dunia temuan Henry Dunant. Palang Merah sendiri sudah berusia 150 tahun dengan gagasan menolong manusia tanpa melihat ras, nasionalitas maupun agama tertentu. Begitu harapannya.
Bergabung di bawah naungan Palang Merah Bayern membuat hidup saya lebih warna warni lagi. Kami diharuskan mengikuti sekitar 4 kali seminar atau bisa dibilang pelatihan yang kami buat bersama-sama.
Kali pertama saya belajar sejarah palang merah, lalu saya juga belajar bagaimana rasanya menjadi kaum difabel, mendorong kursi roda, berada di atas kursi roda, berpura-pura buta, kami belajar memasak untuk porsi 30 orang, diberi pengantar bahasa isyarat juga sekaligus ikut mencoba mengerti apa kendala dari teman teman yang tidak bisa mendengar, waktu lain kami berkumpul untuk mendengarkan bagaimana pecandu alkohol berjuang agar bisa menjalani hidup sehat, hiking bersama, bermain musik, berpesta, berkreatif, bersinergi, mendengar pengalaman hidup masing-masing teman, memandangi bintang bersama, mengenali diri sendiri.
Dalam program ini saya bertemu dengan relawan-relawan lain yang berasal dari berbagai negara. Saya belajar mengenai Kirgizstan, China, Rusia, Madagascar, Armenia, Jerman, Bosnia, Tajikistan, Kenya, Colombia, Venezuela. Ah kawan, dunia ini begitu besar sekaligus kecil.
Saya mendengar bagaimana gejolak di Venezuela membuat teman saya benar-benar tak ada pilihan untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Sekaligus bercerita mengenai daerah dengan petir yang abadi.
Bagaimana narkoba berseliweran di Colombia, namun dengan penduduknya yang senang berbahagia. Bagaimana teman Rusia saya tinggal di sebuah kota dengan polusi yang tinggi karena kota kelahirannya adalah sebuah industri panser perang (he drinks a lot of Vodka btw) hahahaha.
Belum lagi teman-teman dari Kirgizstan dan Tajikistan dengan muka Asia-Mongol nya namun berbahasa Rusia dan beragama Islam. Mereka semua tidak memakan babi, sama seperti teman Bosnia saya.
Ah tentu saja saya ingat teman-teman Madagascar, yang memiliki sejarah penduduk dari pulau Jawa juga, hidup begitu kolektif seperti orang-orang Indonesia, jangan heran muka-muka teman di Madagascar sawo matang seperti penduduk di tanah air. Mereka pun tinggal di sebuah negara super unik dengan berbagai biota alam yang satu-satunya di dunia. Remember Baobab Trees?
Mendengar teman-teman dari Madagascar yang bercerita bahwa pohon ini sedang dalam ancaman kepunahan. Mengingatkan saya akan perjuangan teman-teman pecinta lingkungan di tanah air yang berjuang atas kekayaan alam (tumbuhan maupun hewan) untuk selalu dijaga. Masing-masing dari manusia peduli akan sesuatu berharga yang tidak semua orang peduli.
Alasan penjagaan lingkungan agar warisan untuk anak cucu kita saya setuju. Namun saya memandang kepedulian terhadap sesama dan semesta dengan cara yang lain. Rasanya sebagai makhluk yang berbagi tempat di bumi, sudah selumrahnya peduli terhadap hal lain. Dampak ke depannya mungkin akan terasa begitu jauh. tapi kebaikan yang disebarkan sedari sekarang menanam kedamaian di sanubari.
Bersama mereka saya tak sering berjumpa, karena program pelatihan biasanya diadakan 3 bulan sekali saja selama satu Minggu. Namun di Minggu tersebut kami tinggal di sebuah asrama, menghabiskan waktu sampai larut bersama-sama. Alhasil banyak waktu yang kami habiskan mengobrol ngalor ngidul. Mengenai sejarah bagaimana bisa menemukan program ini.
Teman Armenia saya datang dengan berbekal kenekatan dan semangat mencari arti hidup. Beberapa waktu luntang lantung di Berlin hingga akhirnya menemukan program relawan ini.
Teman Rusia saya bercita-cita menjadi dokter dan ingin meneruskan sekolahnya di Jerman, sementara menunggu, dia habiskan untuk menjadi relawan.
Teman-teman Jerman rata-rata lulusan SMA yang masih belum siap untuk masuk ke dunia perkuliahan, sambil menunggu, tidak ada salahnya berkontribusi menjadi relawan.
Dari Mentor group kami, saya mengalami harapan tentang Jerman, tentang tetap berusaha menjadi baik. Di tengah arus kepedihan dan kesulitan bertahan hidup.
Saya selalu ingat apa yang dikatakan mentor relawan BFD Laura, Tobi dan Kathy di bukit kala itu. Musim panas lalu, saya duduk di sebuah bangku bersama Kathy, Laura dan Tobi di atas rerumputan hijau, di kejauhan pemandangan Bayern terlihat. Mereka mengatakan kata-kata begitu baik, yang akan selalu saya ingat, tentang saya. Yang hingga hari ini membuat saya tetap kuat. Ah orang-orang Jerman ini, saya sering merasakan kehangatan dari orang-orang yang asing ini. Entah bagaimana saya merasakan banyak ketulusan di negara dingin ini. Sejak itu saya selalu mencoba untuk selalu menyampaikan kata baik pada orang lain.
Tentang Relawan. Apa yang saya kerjakan?
Saya ditempatkan di sebuah pusat rehabilitasi untuk penyandang disabilitas. Di dapartemen Webwerk, di sini para pekerja yang terdiri penyandang disabilitas maupun tidak bersosialisasi menjadi padu membuat sebuah Website yang dipesan para konsumer. Kolega-kolega yang bekerja di Webwerk begitu beragam. Dengan berbagai disabilitas yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya, hanya disitu. Tapi dengan kemajuan teknologi dan bagaimana Jerman tetap mengedepankan persamaan hak asasi, kolega-kolega ini seperti Stephen Hawking yang tidak tersorot media.
They work really well beyond their disability.
Melihat pusat rehabilitasi ini saya menyadari bahwa negara kelahiran saya tertinggal jauh sekali.
Pusat rehabilitasi ini sebuah organisasi sekaligus perusahaan yang menaungi orang-orang dengan disabilitas. Mereka memiliki banyak sekali departemen. Ada departemen saya yakni Web & Design Development, ada juga Media & Advertising, Digital Art, Gardening, Painting, Ceramic, Art & Craft, Cafe, Books & Library, kantor dan masih banyak lagi.
Para kaum disabilitas bekerja sesuai minat dan kemampuan yang departemen teliti lebih dahulu. Biasanya calon karyawan akan diteliti bakat dan minatnya maupun dipersilakan untuk mencoba beberapa departemen selama satu-dua minggu.
Organisasi ini juga memiliki sekolah inklusiv dari TK hingga SMA serta apartemen-apartemen untuk kaum disabilitas. Tim pekerja kesehatan serta sosial selalu siap di masing-masing rumah tinggal maupun di tempat kerja untuk membantu keperluan mereka sehari-hari.
Dengan begitu besarnya organisasi ini, tentu mereka membutuhkan banyak pekerja sosial maupun relawan. Di departemen-departemen tersebut lah kami sebagai relawan masuk untuk membantu.
BFD di Web & Design departemen
Sebelumnya saya harus ceritakan kolega disabilitas yang bekerja di departemen ini. Sebagian besar dari mereka adalah lelaki dengan tingkat disabilitas level tertinggi yang biasanya diidap oleh penyandang "Muscular Dystrophy" (penyakit ini masih dalam proses penelitian). Merupakan sebuah penyakit genetis yang dialami karena adanya mutasi protein yang mencacati otot manusia. Dan menurut cerita dari kolega saya, sebagian besar atau hampir 90% pengidap penyakit ini adalah lelaki karena kesalahan mutasi terjadi di kromosom X.
Loh kenapa? Kan perempuan juga punya kromosom X?
Perempuan bisa saja mengalami kesalahan mutasi protein yang sama tapi kromosom X perempuan ada dua. Yaitu XX, jika terjadi kesalahan mutasi di salah satu kromosom, akibat yang ditimbulkan secara fisik tidak ada karena perempuan punya X yang lain. Perempuan bisa menjadi "pembawa", sedangkan lelaki yang diturunkan memiliki probability yang lebih besar dengan kromosom X yang hanya satu saja.
Disclaimer: saya bukan ahlinya, dan tentu pernyataan tersebut dapat memancing diskusi lanjut apalagi bidang kesehatan maupun kedokteran. Silakan yang mengetahui lebih banyak boleh berkomentar mengenai Muscular Dystrophy.
Inti dari penyakit tersebut adalah manusia akan mengalami kemorosotan perkembangan otot. Alhasil otot-otot yang membantu penunjang kehidupan kita tidak bisa berfungsi dengan baik. Mereka tidak bisa berdiri (apalagi berjalan), tidak bisa menggerakan tangan (kebanyakan hanya jari yang bisa digerakkan), beberapa pada tahap tidak bisa mengunyah dengan baik maupun menelan makanan (hingga dipasangi selang langsung masuk ke ginjal untuk suplai makanan), tidak bisa bernapas dengan baik (banyak dari mereka menggunakan alat bantu pernafasan), tidak bisa menggerakan badan (mereka bergerak menggunakan kursi roda elektronik).
Yes. Sebagian besar dari kolega saya menggunakan kursi roda elektronik. (It's kinda sad but cool)
Mirip seperti inilah kira-kira. Gambar di bawah adalah foto advertising sebuah produk hanya untuk gambaran, pada kenyataanya saya tidak boleh menyebarkan foto-foto kolega karena perlindungan privacy.
Pertanyaan-pertanyaan rencana masa depan ternyata dialami tidak hanya remaja beranjak dewasa di Indonesia, namun juga di Jerman. Bedanya, Jerman menawarkan banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan sambil menunjang pencarian jati diri maupun masa depan akademis. Salah satunya akan saya coba gambarkan.
Kebetulan, saya mengikuti program ini tidak dengan niat pencarian jati diri di umur 18 atau 19, fase itu mungkin sudah pernah saya lewati, Namun tetap saja, saya ini pelajar seumur hidup. Niat saya mengikuti program karena ingin belajar, tentang kehidupan, tentang dunia, tentang kebaikan, tentang perbedaan, tentang spiritualitas dan tentang menjadi manusia.
Dan dalam kisah ini, saya akan menjabarkan bagaimana rasanya menjadi seorang relawan.
Bundesfreiwilligendienst (BFD) / Freiwilligen Soziales Jahres (FSJ)
Tak perlu mencoba berpusing ria cara membacanya, akan saya coba beri contoh jika suatu hari kita berjumpa, atau..
google siap membantu kapan saja.
Program di atas yang akan saya singkat menjadi BFD atau FSJ adalah program menjadi seorang sukarelawan di berbagai ranah bidang pekerjaan.
Singkat penjelasan BFD atau FSJ adalah program yang diperuntukkan untuk penduduk yang sedang atau akan tinggal di Jerman (tidak melulu harus warga negara Jerman), di mana relawan selama satu tahun atau lebih menjalani program di sebuah Organisasi maupun Yayasan sosial. Lebih singkat lagi, kami kerja sosial.
Bagaimana cara dan ketentuannya tidak akan saya ceritakan lebih banyak, karena teman-teman dari komunitas AFA (Au-Pair, FSJ, Ausbildung Indonesia) di Jerman sudah cukup banyak berbagi tentang hal tersebut. Bisa dilihat di tautan ini:
Link Seputar FSJ (by AFA)
Saya sendiri berada di bawah asuhan Träger Bayersiches Rotes Kreuz disingkat BRK. Sebuah lembaga palang merah Bayern yang berafiliasi dengan Palang Merah Dunia temuan Henry Dunant. Palang Merah sendiri sudah berusia 150 tahun dengan gagasan menolong manusia tanpa melihat ras, nasionalitas maupun agama tertentu. Begitu harapannya.
Bergabung di bawah naungan Palang Merah Bayern membuat hidup saya lebih warna warni lagi. Kami diharuskan mengikuti sekitar 4 kali seminar atau bisa dibilang pelatihan yang kami buat bersama-sama.
Kali pertama saya belajar sejarah palang merah, lalu saya juga belajar bagaimana rasanya menjadi kaum difabel, mendorong kursi roda, berada di atas kursi roda, berpura-pura buta, kami belajar memasak untuk porsi 30 orang, diberi pengantar bahasa isyarat juga sekaligus ikut mencoba mengerti apa kendala dari teman teman yang tidak bisa mendengar, waktu lain kami berkumpul untuk mendengarkan bagaimana pecandu alkohol berjuang agar bisa menjalani hidup sehat, hiking bersama, bermain musik, berpesta, berkreatif, bersinergi, mendengar pengalaman hidup masing-masing teman, memandangi bintang bersama, mengenali diri sendiri.
Dalam program ini saya bertemu dengan relawan-relawan lain yang berasal dari berbagai negara. Saya belajar mengenai Kirgizstan, China, Rusia, Madagascar, Armenia, Jerman, Bosnia, Tajikistan, Kenya, Colombia, Venezuela. Ah kawan, dunia ini begitu besar sekaligus kecil.
Saya mendengar bagaimana gejolak di Venezuela membuat teman saya benar-benar tak ada pilihan untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Sekaligus bercerita mengenai daerah dengan petir yang abadi.
Bagaimana narkoba berseliweran di Colombia, namun dengan penduduknya yang senang berbahagia. Bagaimana teman Rusia saya tinggal di sebuah kota dengan polusi yang tinggi karena kota kelahirannya adalah sebuah industri panser perang (he drinks a lot of Vodka btw) hahahaha.
Belum lagi teman-teman dari Kirgizstan dan Tajikistan dengan muka Asia-Mongol nya namun berbahasa Rusia dan beragama Islam. Mereka semua tidak memakan babi, sama seperti teman Bosnia saya.
Ah tentu saja saya ingat teman-teman Madagascar, yang memiliki sejarah penduduk dari pulau Jawa juga, hidup begitu kolektif seperti orang-orang Indonesia, jangan heran muka-muka teman di Madagascar sawo matang seperti penduduk di tanah air. Mereka pun tinggal di sebuah negara super unik dengan berbagai biota alam yang satu-satunya di dunia. Remember Baobab Trees?
Mendengar teman-teman dari Madagascar yang bercerita bahwa pohon ini sedang dalam ancaman kepunahan. Mengingatkan saya akan perjuangan teman-teman pecinta lingkungan di tanah air yang berjuang atas kekayaan alam (tumbuhan maupun hewan) untuk selalu dijaga. Masing-masing dari manusia peduli akan sesuatu berharga yang tidak semua orang peduli.
Alasan penjagaan lingkungan agar warisan untuk anak cucu kita saya setuju. Namun saya memandang kepedulian terhadap sesama dan semesta dengan cara yang lain. Rasanya sebagai makhluk yang berbagi tempat di bumi, sudah selumrahnya peduli terhadap hal lain. Dampak ke depannya mungkin akan terasa begitu jauh. tapi kebaikan yang disebarkan sedari sekarang menanam kedamaian di sanubari.
Bersama mereka saya tak sering berjumpa, karena program pelatihan biasanya diadakan 3 bulan sekali saja selama satu Minggu. Namun di Minggu tersebut kami tinggal di sebuah asrama, menghabiskan waktu sampai larut bersama-sama. Alhasil banyak waktu yang kami habiskan mengobrol ngalor ngidul. Mengenai sejarah bagaimana bisa menemukan program ini.
Teman Armenia saya datang dengan berbekal kenekatan dan semangat mencari arti hidup. Beberapa waktu luntang lantung di Berlin hingga akhirnya menemukan program relawan ini.
Teman Rusia saya bercita-cita menjadi dokter dan ingin meneruskan sekolahnya di Jerman, sementara menunggu, dia habiskan untuk menjadi relawan.
Teman-teman Jerman rata-rata lulusan SMA yang masih belum siap untuk masuk ke dunia perkuliahan, sambil menunggu, tidak ada salahnya berkontribusi menjadi relawan.
Dari Mentor group kami, saya mengalami harapan tentang Jerman, tentang tetap berusaha menjadi baik. Di tengah arus kepedihan dan kesulitan bertahan hidup.
Saya selalu ingat apa yang dikatakan mentor relawan BFD Laura, Tobi dan Kathy di bukit kala itu. Musim panas lalu, saya duduk di sebuah bangku bersama Kathy, Laura dan Tobi di atas rerumputan hijau, di kejauhan pemandangan Bayern terlihat. Mereka mengatakan kata-kata begitu baik, yang akan selalu saya ingat, tentang saya. Yang hingga hari ini membuat saya tetap kuat. Ah orang-orang Jerman ini, saya sering merasakan kehangatan dari orang-orang yang asing ini. Entah bagaimana saya merasakan banyak ketulusan di negara dingin ini. Sejak itu saya selalu mencoba untuk selalu menyampaikan kata baik pada orang lain.
Tentang Relawan. Apa yang saya kerjakan?
Saya ditempatkan di sebuah pusat rehabilitasi untuk penyandang disabilitas. Di dapartemen Webwerk, di sini para pekerja yang terdiri penyandang disabilitas maupun tidak bersosialisasi menjadi padu membuat sebuah Website yang dipesan para konsumer. Kolega-kolega yang bekerja di Webwerk begitu beragam. Dengan berbagai disabilitas yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya, hanya disitu. Tapi dengan kemajuan teknologi dan bagaimana Jerman tetap mengedepankan persamaan hak asasi, kolega-kolega ini seperti Stephen Hawking yang tidak tersorot media.
They work really well beyond their disability.
Melihat pusat rehabilitasi ini saya menyadari bahwa negara kelahiran saya tertinggal jauh sekali.
Pusat rehabilitasi ini sebuah organisasi sekaligus perusahaan yang menaungi orang-orang dengan disabilitas. Mereka memiliki banyak sekali departemen. Ada departemen saya yakni Web & Design Development, ada juga Media & Advertising, Digital Art, Gardening, Painting, Ceramic, Art & Craft, Cafe, Books & Library, kantor dan masih banyak lagi.
Para kaum disabilitas bekerja sesuai minat dan kemampuan yang departemen teliti lebih dahulu. Biasanya calon karyawan akan diteliti bakat dan minatnya maupun dipersilakan untuk mencoba beberapa departemen selama satu-dua minggu.
Organisasi ini juga memiliki sekolah inklusiv dari TK hingga SMA serta apartemen-apartemen untuk kaum disabilitas. Tim pekerja kesehatan serta sosial selalu siap di masing-masing rumah tinggal maupun di tempat kerja untuk membantu keperluan mereka sehari-hari.
Dengan begitu besarnya organisasi ini, tentu mereka membutuhkan banyak pekerja sosial maupun relawan. Di departemen-departemen tersebut lah kami sebagai relawan masuk untuk membantu.
BFD di Web & Design departemen
Sebelumnya saya harus ceritakan kolega disabilitas yang bekerja di departemen ini. Sebagian besar dari mereka adalah lelaki dengan tingkat disabilitas level tertinggi yang biasanya diidap oleh penyandang "Muscular Dystrophy" (penyakit ini masih dalam proses penelitian). Merupakan sebuah penyakit genetis yang dialami karena adanya mutasi protein yang mencacati otot manusia. Dan menurut cerita dari kolega saya, sebagian besar atau hampir 90% pengidap penyakit ini adalah lelaki karena kesalahan mutasi terjadi di kromosom X.
Loh kenapa? Kan perempuan juga punya kromosom X?
Perempuan bisa saja mengalami kesalahan mutasi protein yang sama tapi kromosom X perempuan ada dua. Yaitu XX, jika terjadi kesalahan mutasi di salah satu kromosom, akibat yang ditimbulkan secara fisik tidak ada karena perempuan punya X yang lain. Perempuan bisa menjadi "pembawa", sedangkan lelaki yang diturunkan memiliki probability yang lebih besar dengan kromosom X yang hanya satu saja.
Disclaimer: saya bukan ahlinya, dan tentu pernyataan tersebut dapat memancing diskusi lanjut apalagi bidang kesehatan maupun kedokteran. Silakan yang mengetahui lebih banyak boleh berkomentar mengenai Muscular Dystrophy.
Inti dari penyakit tersebut adalah manusia akan mengalami kemorosotan perkembangan otot. Alhasil otot-otot yang membantu penunjang kehidupan kita tidak bisa berfungsi dengan baik. Mereka tidak bisa berdiri (apalagi berjalan), tidak bisa menggerakan tangan (kebanyakan hanya jari yang bisa digerakkan), beberapa pada tahap tidak bisa mengunyah dengan baik maupun menelan makanan (hingga dipasangi selang langsung masuk ke ginjal untuk suplai makanan), tidak bisa bernapas dengan baik (banyak dari mereka menggunakan alat bantu pernafasan), tidak bisa menggerakan badan (mereka bergerak menggunakan kursi roda elektronik).
Yes. Sebagian besar dari kolega saya menggunakan kursi roda elektronik. (It's kinda sad but cool)
Mirip seperti inilah kira-kira. Gambar di bawah adalah foto advertising sebuah produk hanya untuk gambaran, pada kenyataanya saya tidak boleh menyebarkan foto-foto kolega karena perlindungan privacy.
pic from rehaland. com
Saya membantu mereka absen stempel kerja, mengatur mouse agar bisa mereka pegang, membantu mereka di beberapa pekerjaan yang membutuhkan "tangan dan kaki", saat makan siang saya membantu membawakan makanan dan menyuapi, untuk urusan ke toilet pekerja sosial lelaki yang membantu. Intinya saya asisten mereka.
Di sela-sela bekerja saya belajar sedikit tentang programming maupun desain, atau bahasa Jerman (saat menjadi relawan saya juga harus test DAF), berbincang mengenai politik, budaya, olahraga. Kami pernah menonton piala dunia bersama di kantor, bertaruh, mengolok olok, bercanda hingga tertawa terpingkal. Menggoogling Bandung, melihat melalui layar apa itu Indonesia. (karena negara kita ini begitu jauh kawan). Memimpikan jika mereka suatu hari bisa berlibur ke sana. (yang hampir tidak mungkin mengingat penyakit mereka yang begitu rentan).
Walaupun mereka "cacat" hati mereka begitu besar, hingga kecacatan mereka sudah tidak tabu lagi untuk dibercandai. Mereka orang-orang baik yang kadang kesepian karena sebesar apapun usaha pemerintah Jerman memberi persamaan hak dan peluang tetap saja ada perbedaan yang tidak bisa dipungkiri. Selama satu tahun saya berusaha menjadi rekan kerja bahkan teman yang baik.
Kadang saya menaiki kursi roda elektronik di belakang sambil berpegangan dan mereka membawa saya mengebut di lobi kantor. Saya juga mencoba sepeda motor listrik untuk disabilitas di lorong kantor. Menghias kantor saat natal, makan kue bersama ketika ada yang berulang tahun, memesan pizza untuk makan siang. Beberapa dari mereka mengusili, saya usili balik.
Mempelajari alat-alat khusus yang mereka gunakan untuk bekerja. Satu dari mereka bahkan tidak menggunakan Mouse untuk mendesain, dia menggunakan sebuah alat di kepalanya hingga bisa mengatur kursor melalui pandangan. CANGGIH!
Di sini saya juga melihat monitor untuk orang buta. Mereka juga menggunakan program ketik hasil dari penelitian sebuah universitas.
Kehidupan sosial? Jangan salah, mereka pergi ke konser, bersosialisasi bersama teman-teman, party, ke Club (tentu dengan asisten).
Bahkan kadang-kadang saya lupa bahwa mereka cacat. Apalagi jika sudah urusan dibecandai.
Dari mereka saya banyak belajar tentang hidup, tentang pertemanan, tentang ketulusan dan kebaikan.
Saya juga semakin mengenali diri saya sendiri, semakin membuka mata akan dunia yang luas ini. Ketika perpisahan mereka membuatkan sebuah video mengenai ucapan terima kasih dan harapan baik untuk kehidupan saya selanjutnya.
Ah sebaliknya, mereka yang menolong saya, mereka yang memberi saya banyak hal yang tidak bisa diungkapkan. Semoga dengan mengenal saya selama satu tahun, kehidupan mereka sedikit banyak memberi warna.
Kolega disabilitas saya dan pemuda-pemuda relawan di BFD. Yang memiliki kebaikan hati luas, mempedulikan orang lain lebih daripada diri sendiri (rasa peduli ini kadang tidak begitu mereka rasakan karena mereka memang dasarnya adalah orang baik).
Saya kadang berkelakar, jika saya sukses dan kaya. Saya akan bangun tempat yang indah untuk mereka liburan dan mengunjungi Indonesia. Tempat ini akan ramah disabilitas, hingga mereka bisa merasakan hangatnya matahari dan lembutnya pasir pantai.
Orang-orang Jerman ini, yang di satu sisi depresinya bisa sedikit banyak saya rasakan. Kebanyakan dari mereka bertanya-tanya, "Runi, kenapa kamu ini orang Indonesia begitu diliputi kecerahan dan keceriaan?"
Ah dalam hati saya selalu bilang, hangatnya Indonesia, saya mungkin membawa "matahari" Indonesia yang saya sisipkan dua tahun lalu di jiwa saya sebelum saya berangkat ke Jerman. Tanpa itu baterai kehidupan saya mungkin juga sudah habis.
Memberi energi-energi apalagi di musim dingin. Ah saya harus charge energi, suatu hari ketika saya pulang.
pic from picturesboss.com
Tulisan di tulis di tengah dinginnya Augsburg dengan cuaca kelabu tanpa matahari, temaram.




Wah tulisannya luar biasa!
ReplyDeleteBenar benar menginspirasi
Delete