Perpisahan dan Melekatnya Orang-Orang

Saya mungkin tak begitu ekspresif, terlihat seperti yang biasa-biasa saja terhadap sesuatu. Begitu cuek atau cenderung kurang perhatian. Namun kenangan dan orang-orang melekat pada jiwa saya lebih daripada yang terlihat di luar saja.

Memutuskan menjalani hidup di perantauan, saya sudah dihadapkan pada banyak sekali perpisahan. Entah bagaimana alam bawah sadar saya seperti memberi "sistem imun" tersendiri dengan apa yang dinamakan perpisahan. Ketika memutuskan untuk ke Jerman, ada suara hati yang memberi saya peringatan, bahwa saya akan banyak berpindah. Bahwa di depan sana, perpisahan akan selalu ada. Saya seperti sudah diberi tahu, bahwa kepedihan akan berpisah. Akan saya alami terus.

Kenangan dan orang-orang melekat pada jiwa saya. Yang menemani di perjalanan panjang ini, ketika singgah di satu kota untuk beberapa tahun dan harus pergi ke kota lain karena nasib yang untuk entah berapa tahun. Setiap orang yang saya temui memberi pelajaran dan kisahnya masing-masing. Mengisi hati yang luas ini (walau tentu ada beberapa yang mendapat tempat lebih dibanding dengan lainnya). Tapi saya percaya bahwa hati bisa begitu luas dan hangat.

Seperti para tokoh di setiap buku yang mengisi hidup saya. Orang-orang yang menemani saya selama perjalanan hidup menjadi tokoh yang bercerita dan bahkan mengambil posisi dalam mimpi-mimpi saya di malam hari. Teman-teman saya, orang-orang yang pernah saya kenal, begitu menginspirasi. Saya mengagumi setiap individunya.
Mungkin saya pernah mengatakan hal serupa tapi:
"Jika suatu hari mengalami kebuntuan dan kekecewaan terhadap diri sendiri, jangan pernah lupa, bahwa ada saya di sini yang mengagumimu, dan dalam seratus tahun pun saya tak akan bisa seperti kamu"
Salut sekali dengan sinergi kehidupan dari manusia-manusia positif yang pernah saya temui.
Saya dikelilingi orang-orang baik.
Dan untuk mereka, saya berharap, semesta memberi keramahan sekaligus kekuatan.

Tapi betul saya tak punya semangat untuk mencari kawan baru. Sekarang mengerti, semakin kau dewasa dan mengenal diri sendiri, kau sudah punya "tempat aman singgahmu" sendiri. Teman-teman yang kau pilih untuk seumur hidup.
Jumlahnya beberapa saja.

Ketika dihadapkan pada gaya hidup berpindah ini. Di setiap kota kamu akan menemukan "rumah".
Yang tak kuasa adalah menahan rasa rindu pada masing-masing tempat yang kau anggap rumah tersebut.
Dulu saya tak bisa bayangkan hal ini. Karena kehidupan yang terbatas hanya di Bandung saja. Kali ini saya punya beberapa rumah. Yang pada mulanya saya kira akan hanya merindukan Bandung, tak disangka ada kota-kota lain yang mengisi hati saya.
Dan niat saya pun masih terus akan berpindah. Maka di masa depan mungkin ada tambahan rumah-rumah lain.
Di satu sisi menyenangkan sekali, tapi di sisi lain kamu tidak ingin menambah terlalu banyak rumah baru. Karena rasanya cukup melelahkan juga.

Saya sedih dengan diri saya sendiri. Yang akhirnya cukup sulit untuk terbuka dan benar-benar menjalin pertemanan dengan orang lain. Karena diliputi ketakutan akan perpisahan, yang sebenarnya ketakutan tersebut masih bersifat imaji saja.

Tapi saya memang begitu, jika berteman dengan seseorang maka akan setulus hati. Memberikan energi untuk pertukaran sinergi persahabatan. Dan yang mengerti akan tahu, bahwa berteman itu butuh waktu, tenaga, hati juga kerelaan. Dan saya ini manusia biasa, tidak bisa memberikannya pada semua yang saya kenal.

Di sisi lain saya juga bukan benar orang2 yang menyerap energi dari situasi sosial sejati. Karena sudah mendedikasikan persahabatan pada diri sendiri, maka saya juga harus alokasikan waktu untuk "saya sendiri". Saya sering bilang recharge energy, setelah berpuas-puas dalam situasi sosial penuh manusia, saya butuh ruang untuk sendirian. Karena sosialisasi itu untuk saya melelahkan juga. Orang lain mungkin melihat saya adalah orang yang pandai sekali dalam situasi sosial, tapi hanya beberapa yang tahu kalau saya ini punya sisi introvert juga, apa yang terlihat di luar "belum terlihat semuanya saja". 

Dalam usaha untuk mencari solusi, akhirnya saya melatih intuisi. Saya menguatkan frekuensi saya sendiri agar bisa menarik orang2 yang sekiranya akan cocok dengan saya. Lalu ada formula-formula yang saya buat untuk semakin memvalidasi intuisi tersebut. Dan hingga saat ini memang berhasil. Walaupun jauh perantauan ke negeri bernama Jerman, saya selalu beruntung dipertemukan dengan orang-orang baik.

Bahkan, mungkin sudah menjadi rahasia umum. Orang-orang Indonesia di luar negeri sangat berhati-hati menjalin pertemanan dengan sesama orang Indonesia. Karena banyak sekali kasus yang tidak baik diantara satu sama lain, walaupun sebenarnya "drama-drama" berseliweran terjadi di tanah air lebih bejibun lagi. Dan entah bagaimana secara tidak sadar sebagian besar animo masyarakat tenggelam dalam "drama" tersebut. Kami di sini sederhana tak punya waktu dan tenaga untuk bermasalah dengan orang lain. Sudah ada sekolah, ujian atau kerja yang menyita badan dan pikiran. Dengan kekhawatiran tersebut akhirnya beberapa orang tak mau ambil resiko menjalin pertemanan dengan orang Indonesia, untuk mengantisipasi drama (Padahal berteman dengan orang lokal pun tidak menutup kemungkinan terjadi drama).
Ini ironis karena sedari awal kita tidak menaruh kepercayaan pada kualitas pertemanan orang Indonesia. Dan saya melakukan hal yang sama, selama satu tahun tinggal di Jerman.

Saya pernah katakan ini pada seseorang setahun lalu, saya anggap sebuah keberuntungan bahwa dalam hidup saya akan dipertemukan dengan orang-orang baik. Namun dia berkata lain. Bahwa itu bukan keberuntungan. Itu adalah refleksi dari apa yang kamu keluarkan oleh "dirimu". Itu karena kamu adalah seseorang yang menyebar hal positif dan kebaikan, maka pancaran itu akan kamu tularkan pada yang lain.

Saya merasa bahwa saya bukan orang yang baik. Orang seperti saya tak pernah membawa agama atau dogma atau nilai-nilai dalam kitab suci dengan secara gamblang sekaligus harfiah pada rangkaian persahabatan. Tak pernah mengagungkan nilai kerelijiusan pada sebuah percakapan, tak pernah membahas kebenaran absolut pada pertemanan, tak pernah mencap seseorang lebih baik dari saya sendiri, tak pernah mengingatkan hal-hal terpuji dan menghubungkannya dengan surgawi, serta tak pernah membandingkannya dengan tingkatan pertemanan yang menyerap pahala. Perlahan saya sadar, standar kebaikan yang diagung-agungkan oleh beberapa pandangan orang adalah yang menuntut. Persahabatan adalah tentang menunjukkan sisi manusia mu tanpa kepalsuan dan ketakutan akan penilaian. Tentang menjadi manusia yang seimbang. Satu satunya tuntutan yang mungkin saya perlihatkan adalah agar teman-teman saya menyayangi dan mencintai dirinya sendiri. Hingga ketika dirinya sudah penuh kasih sayang, dia punya kemampuan untuk menyebarkan spiritnya pada yang lain.

Akhirnya saya sederhana ada di sana dan selalu menginginkan sisi manusia dari sahabat-sahabat atau teman saya. Membuat mereka yakin bahwa sejelek apapun anggapan mereka terhadap diri mereka sendiri, seburuk apapun perlakuan mereka (yang kata kebanyakan orang buruk padahal sebenarnya belum tentu), ada saya yang walaupun hanya 1 dari 200 juta penduduk Indonesia, akan menerima sosok mereka ini dengan sepenuh hati dan apa adanya. Saya menekan sisi kemanusiaan yang mereka punya untuk keluar. Saya tidak menjalin pertemanan dengan "malaikat". Saya ingin melihat sosok manusia yang memang tidak sempurna, yang kadang memiliki pemikiran begitu liar, atau melanglang buana, memiliki candaan yang tak semua bisa menerima, memiliki pandangan dan pertanyaan yang tidak berani diutarakan. 

Ternyata dengan formula tersebut saya diberi persahabatan tulus. Dengan karakter berwarna warni yang membuat hidup lebih seimbang. Yang semakin membentuk dirimu menjadi manusia yang mencintai manusia lain, juga mencintai hal apapun di luar tersebut. Seperti alam dan semesta



Karena saya berpikir sudah banyaklah tuntutan dari apa yang kau sebut sebagai suara masyarakat, suara mayoritas, suara-suara yang kadang tidak sesuai dengan isi hati seseorang. Alangkah sedihnya jika ditengah dunia yang begitu menuntut sana sini, begitu diliputi prasangka, seseorang sulit menjadi dirinya sendiri, sulit mengutarakan apa yang ada di hati dan kepalanya. Tak punya tempat untuk memberontak setidaknya mempertanyakan segala hal, atau tak punya kuasa menceritakan permasalahan karena akan diberi penilaian yang buruk. Atau takut menjadi berbeda karena khawatir tak ada yang menerima. Saya berusaha memancarkan frekuensi positif dan ketulusan. 
Memastikan bahwa:
"Tidak apa-apa, bersama saya kamu bisa menjadi manusia versi apapun"



Permasalahannya mungkin tak semua orang berbagi hal itu. Di alam bawah sadar beberapa menuntut sesuatu terhadap lawan bicaranya, memberi pandangan penilaian terlalu kentara, menutup empati dengan kalkulasi, mengedepankan ego pribadi, tidak berusaha menjadi "ada". Alhasil membuat seseorang untuk enggan menjadi dirinya sendiri, dan mundur perlahan. Orang-orang yang disangka adalah teman ternyata memang sedari awal membagi pertemanan yang minim ketulusan, yang seadanya saja, yang hanya formalitas.

Suka atau tidak itu terjadi pada beberapa orang. Di luar sana masih banyak yang tak punya "tempat singgahnya", bingung harus pada siapa menganggap sahabat. Bukan karena seperti saya yang takut akan perpisahan, tapi karena dirinya tak pernah benar-benar melekat di hati orang lain. Dia tak pernah merasakan bagaimana kualitas pertemanan yang sesungguhnya. Kualitas persahabatan yang tidak bisa manusia obralkan kemana saja pada siapa saja. Apapun yang berkualitas butuh sebuah proses, dan itu dimulai dari dirimu sendiri.

Percaya atau tidak, energi yang kau emban terlihat dan terasa oleh orang lain.

Selama satu tahun saya tidak mencoba untuk menyebarkan energi lagi. Namun hal itu berubah ketika saya akhirnya mencoba membuka diri dan menyebarkan formulasi yang sama ketika saya mencari teman. "Bermain frekuensi".
Akhirnya kontribusi praxis dalam bermasyarakat ini saya lakukan juga dalam PPI. Apakah berhasil? Sejauh ini ya, karena saya menganggap mereka bukan hanya anggota organisasi saja.

Kelompok yang mungkin dilihat orang begitu teknis dan tidak penting-penting amat juga sedikit politis secara perlahan namun pasti saling bersinergi membagi ketulusannya masing-masing. Saya kembali berkata pada seseorang: "Kombinasi yang terjadi di PPI Munich 2018 itu cuma kebetulan dan keberuntungan, jarang sekali harmoni kelompok yang sekuat itu terjadi".
Tapi dilihat dalam perspektif yang lebih besar, mungkin masing-masing dari kami adalah orang-orang yang memiliki self love dan empati pada orang lain. Yang masing-masing somehow punya perjalanan tanggung jawab dan kepemimpinan jauh sebelum kami saling bertemu satu sama lain. Dan secara tidak sadar sebenarnya sudah saling memberi frekuensi dan saling menerima. Ada tangan-tangan kekuatan semesta di sana.
Akhirnya yang terjadi kami berbagi rasa cinta yang dimiliki pada diri sendiri ini pada sekitar kami. Yang awalnya adalah kelompok kontribusi organisasi, menjadi persahabatan dan keluarga.
Hingga yang satu saling melekat di hati yang lain tanpa keseragaman membosankan. Kelompok kecil ini adalah bukti bahwa berbeda dan berwarna itu keseimbangan yang membahagiakan. Bahwa masing-masing kepribadian akan diterima.

Saya mengambil kesimpulan, cara saya menjalin persahabatan masih valid untuk dipraktikan di masa depan. Tinggal sebesar apa energi dan usaha yang ingin saya bagikan lagi untuk memulai mencari "tempat singgah yang lain", karena apa yang sudah saya punya sekarang sebenarnya sudah saling melengkapi ruang lingkup sosial yang saya butuhkan. Tapi saya tak ingin menutup pagar dan membangun tembok kokoh juga.

Semoga orang-orang tulus ini tetap melekatkan nama saya pada seruang tempat di hatinya. Juga tetap mempunyai formulasinya sendiri untuk juga mencari "tempat singgah" yang betul-betul berkualitas. Jumlahnya bisa mereka putuskan sendiri, karena saya percaya hati manusia mampu begitu hangat dan luas.

Comments

Post a Comment

Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.