Bicara Isi Kepala (Cognitive Science)
Ada 3 hal penting yang dikedepankan Lindsay Portnoy PhD, Associate Teaching Professor at Northeastern University’s Graduate School of Education dalam Cognitive Science.
Dia membicarakan dan menggaris bawahi hal di bawah ini:
1. Metacognition
2. Self regulation learning
3. Epistemology
Illustration: Lazaro Gamio/Axios
Cognitive science adalah sebuah study tentang pendidikan yang berkembang pada dekade saat ini, memungkinkan siswa untuk belajar sesuatu yang sebelumnya gagal di percobaan pertama namun dapat terus diulangi hingga berhasil. Cognitive science mengedepankan pembelajaran antar disiplin, di mana pengalaman adalah guru paling MAHA. Salah satu pertanyaan Lindsay menggelitik, "mengapa dalam dunia pendidikan kita tidak mengajari seorang siswa misalnya sejarah science sambil diiringi menciptakan atau mengkonstruksikan sebuah struktur permanen di mana membutuhkan perhitungan analisis matematika, skill komunikasi dan berakhir dgn skill menulis?"
Cognitive science mendobrak pembelajaran ala tradisional di mana sebuah keilmuan akan begitu tabu dicampurkan dengan keilmuan lain. Dalam dekade ini, peleburan ilmu antar disiplin semakin masuk akal.
Lalu apa hubungannya dengan 3 poin di atas?
1. Metacognition
adalah sebuah kemampuan yang sangat penting dimiliki oleh kita semua. Sebuah KESADARAN PENUH atas isi kepala, seberapa besar pengetahuan yang kita pikirkan, seberapa dalam kita TAHU. Metakognisi skill yang harus dilatih. Tidak semua orang dapat langsung menyadari bahwa dirinya "TAU DAN MENGERTI". Metakognisi adalah KNOWING WHEN YOU KNOW. Bagaimana seorang pembelajar dapat memiliki kemampuan tersebut?
2. Self Regulation Learning (SRL)
jawabannya adalah dengan meregulasi belajar atau dalam dunia pendidikan dikenal dgn self regulation learning. Pelajar menjadi seorang manajer atas isi pikirannya sendiri, atas pengetahuan dan tujuan yang dia inginkan. SRL adalah sebuah kemampuan seseorang untuk MERENCANAKAN, MEMANTAU, MENGEVALUASI proses belajarnya sendiri.
Dalam SRL siswa mengerti cara apa yang terbaik untuk dirinya belajar, pembelajar menemukan strategi atas proses pengolahan informasi ilmu pengetahuan yang dia lakukan. Dan setiap pembelajar memiliki targetnya sendiri-sendiri. Pelajar juga tahu kapan dia harus meminta bantuan orang lain saat proses belajarnya mandek.
Metode ini jarang dikaitkan dalam sistem pembelajaran konvensional. Beberapa penelitian di negara Asia Tenggara mengafiliasi SRL dengan aktivitas belajar online karena sistem pembelajaran di Asia masih banyak menganut piramida "dari atas turun ke bawah", pelajar sangat bergantung pada guru. Dalam tingkat pendidikan tinggi saja, mahasiswa masih bergantung pada dosen, mengikuti sistem pembelajaran di sekolah dengan tenggat waktu yang terbawa akan "kelumrahan". Mahasiswa tak punya kemampuan mandiri untuk menentukkan sejauh apa dia ingin mendalami keilmuan yang sedang ditempuh. Targetnya hanya lulus? Ya itu memang bukan permasalahan, tapi lulus yang bagaimana? Kemampuan seperti apa yang ingin dia kuasai?
Penelitian-penelitian yang berlangsung di Asia Tenggara akhirnya mengedepankan belajar online untuk pengaplikasian self regulation learning, padahal SRL idealnya digunakan untuk setiap individu yang ingin belajar.
Ajisuksmo & Vermunt pernah meneliti tentang hal ini di Universitas Atma Jaya pada tahun 1999. Mereka menggunakan ILS (The Inventory of Learning Styles), panduan yang diciptakan untuk mahasiswa di Belanda. Mereka menerjemahkan ILS menjadi Inventarisasi Cara Belajar (ICB) lalu membuat sebuah percobaan di Atmajaya. Hasilnya ada perubahan konsistensi belajar yang signifikan walaupun masih mempunyai masalah. Rintangan yang utama adalah ILS diciptakan untuk mahasiswa di Belanda dengan bahasa Belanda yang akhirnya diterjemahkan ke Bahasa Inggris lalu diterjemahkan lagi ke Bahasa Indonesia. Bayangkan ada berapa banyak perbuahan kontekstual linguistik yang terjadi? Selain tentu saja latar belakang budaya belajar antara mahasiswa Belanda dan Indonesia benar-benar berbeda.
Peneliti pendidikan dan psikologi di Indonesia sebaiknya mulai menciptakan self regulation learning nya sendiri, tentu dengan melihat berbagai sisi dinamika sosial, kultural yang terjadi di Indonesia. Bahkan perbedaan kultural, bentangan alam, kelangsungan perkembangan teknologi di setiap daerah bisa jadi membutuhkan SRL masing-masing. Perlu penelitian komprehensif dan mendalam tentang ini. 3. Epistemology yang terakhir adalah Epistemology. Pelajar yang terbiasa menggunakan kemampuan metakognisi alias YOU KNOW WHAT YOU KNOW akan lama-lama merubah pandangannya terhadap sesuatu dan ilmu pengetahuan. Pelajar yang asalnya "naive", mengedepankan dikotomi opsi "benar atau salah" lama kelamaan memiliki kemampuan untuk mempercayai hal yang lebih advance. They believe "certainly there's a better answer right now but there's always opportunity to learn more"
Cogntive Science dan generasi masa kini
Saya jadi penasaran, jika penelitian beberapa akademisi mengenai self regulation learning begitu erat dengan situasi belajar online maka "Apakah Gen Z di Asia Tenggara terutama Indonesia adalah seorang self regulator learner yang alamiah?" Contoh nyata adalah aksi seorang hacker membajak situs Mendagri saat demo besar mahasiswa berlangsung, 24 September 2019. Pelaku ditangkap dan mengaku belajar SEMUANYA HANYA LEWAT INTERNET. Pelaku sendiri sudah ratusan kali men-test skillnya untuk membajak laman online. Bisa jadi pelaku adalah self regulator learner yang memiliki tujuan skill yang ingin dia capai. Dalam artikel Tirto, Gen Z adalah generasi yg hampir 100 persen terpapar teknologi internet. Generasi ini memiliki ragam arus informasi yang cepat dan bertumpuk serta opsi-opsi pembelajaran mandiri yang begitu melimpah. Generasi Milenial tumbuh ditengah-tengah, kita berada pada ambang, sebagian dari kita adalah tech savy tapi tidak semua, sedangkan Gen Z: internet adalah pekarangan mereka. Jadi jangan heran dan kaget juga lalu meremehkan generasi yang kurang kita pahami ini. Gen Z memiliki halaman dialektika yang berbeda cukup jauh dengan Boomers misal. Saya excited, karena artinya bukan berarti mereka ini tidak belajar dan kerjaannya hanya berselancar online sana sini saja. Siapa tau mereka ini memang memiliki kemampuan metakognisi alami karena tumbuh dalam dunia kemandirian internet?
Siapa tau juga mereka memiliki strategi self regulation learning yang terlahir lebih natural karena tuntutan begitu tinggi terhadap pemahaman didukung pasokan ilmu pengetahuan melalui internet yang beragam?
Sudah dengar berapa berita mengenai anak muda yang expert dalam sebuah bidang dengan hanya belajar lewat internet? Rich Brian dengan bahasa inggrisnya?
Juga mahasiswa kemarin, turun ke jalan dengan aksi isu yang lebih kompleks. Tanpa kita sadari Gen Z menguasai ilmu-ilmu dengan caranya sendiri. Penelitian tentang psikologi dan pendidikan akan terus harus selalu diperbaharui. Dosen di Universitas saya bahkan bicara "peradaban akan selalu berubah, ilmu tentang manusia setiap sepuluh tahun sekali haruslah diteliti" Jadi ada yang berminat jadi tim peneliti bareng saya? #lah malah cari rekrutan Amiin dulu deh, saya harus lulus dulu. Doakan ya
Penelitian-penelitian yang berlangsung di Asia Tenggara akhirnya mengedepankan belajar online untuk pengaplikasian self regulation learning, padahal SRL idealnya digunakan untuk setiap individu yang ingin belajar.
Ajisuksmo & Vermunt pernah meneliti tentang hal ini di Universitas Atma Jaya pada tahun 1999. Mereka menggunakan ILS (The Inventory of Learning Styles), panduan yang diciptakan untuk mahasiswa di Belanda. Mereka menerjemahkan ILS menjadi Inventarisasi Cara Belajar (ICB) lalu membuat sebuah percobaan di Atmajaya. Hasilnya ada perubahan konsistensi belajar yang signifikan walaupun masih mempunyai masalah. Rintangan yang utama adalah ILS diciptakan untuk mahasiswa di Belanda dengan bahasa Belanda yang akhirnya diterjemahkan ke Bahasa Inggris lalu diterjemahkan lagi ke Bahasa Indonesia. Bayangkan ada berapa banyak perbuahan kontekstual linguistik yang terjadi? Selain tentu saja latar belakang budaya belajar antara mahasiswa Belanda dan Indonesia benar-benar berbeda.
Peneliti pendidikan dan psikologi di Indonesia sebaiknya mulai menciptakan self regulation learning nya sendiri, tentu dengan melihat berbagai sisi dinamika sosial, kultural yang terjadi di Indonesia. Bahkan perbedaan kultural, bentangan alam, kelangsungan perkembangan teknologi di setiap daerah bisa jadi membutuhkan SRL masing-masing. Perlu penelitian komprehensif dan mendalam tentang ini. 3. Epistemology yang terakhir adalah Epistemology. Pelajar yang terbiasa menggunakan kemampuan metakognisi alias YOU KNOW WHAT YOU KNOW akan lama-lama merubah pandangannya terhadap sesuatu dan ilmu pengetahuan. Pelajar yang asalnya "naive", mengedepankan dikotomi opsi "benar atau salah" lama kelamaan memiliki kemampuan untuk mempercayai hal yang lebih advance. They believe "certainly there's a better answer right now but there's always opportunity to learn more"
Cogntive Science dan generasi masa kini
Saya jadi penasaran, jika penelitian beberapa akademisi mengenai self regulation learning begitu erat dengan situasi belajar online maka "Apakah Gen Z di Asia Tenggara terutama Indonesia adalah seorang self regulator learner yang alamiah?" Contoh nyata adalah aksi seorang hacker membajak situs Mendagri saat demo besar mahasiswa berlangsung, 24 September 2019. Pelaku ditangkap dan mengaku belajar SEMUANYA HANYA LEWAT INTERNET. Pelaku sendiri sudah ratusan kali men-test skillnya untuk membajak laman online. Bisa jadi pelaku adalah self regulator learner yang memiliki tujuan skill yang ingin dia capai. Dalam artikel Tirto, Gen Z adalah generasi yg hampir 100 persen terpapar teknologi internet. Generasi ini memiliki ragam arus informasi yang cepat dan bertumpuk serta opsi-opsi pembelajaran mandiri yang begitu melimpah. Generasi Milenial tumbuh ditengah-tengah, kita berada pada ambang, sebagian dari kita adalah tech savy tapi tidak semua, sedangkan Gen Z: internet adalah pekarangan mereka. Jadi jangan heran dan kaget juga lalu meremehkan generasi yang kurang kita pahami ini. Gen Z memiliki halaman dialektika yang berbeda cukup jauh dengan Boomers misal. Saya excited, karena artinya bukan berarti mereka ini tidak belajar dan kerjaannya hanya berselancar online sana sini saja. Siapa tau mereka ini memang memiliki kemampuan metakognisi alami karena tumbuh dalam dunia kemandirian internet?
Siapa tau juga mereka memiliki strategi self regulation learning yang terlahir lebih natural karena tuntutan begitu tinggi terhadap pemahaman didukung pasokan ilmu pengetahuan melalui internet yang beragam?
Sudah dengar berapa berita mengenai anak muda yang expert dalam sebuah bidang dengan hanya belajar lewat internet? Rich Brian dengan bahasa inggrisnya?
Juga mahasiswa kemarin, turun ke jalan dengan aksi isu yang lebih kompleks. Tanpa kita sadari Gen Z menguasai ilmu-ilmu dengan caranya sendiri. Penelitian tentang psikologi dan pendidikan akan terus harus selalu diperbaharui. Dosen di Universitas saya bahkan bicara "peradaban akan selalu berubah, ilmu tentang manusia setiap sepuluh tahun sekali haruslah diteliti" Jadi ada yang berminat jadi tim peneliti bareng saya? #lah malah cari rekrutan Amiin dulu deh, saya harus lulus dulu. Doakan ya

Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.