What I don't talk about when I...

Di bawah ini tulisan saya di bulan Januari 2020:

Saya menulis ini pukul 1 malam di hari-hari yang selalu berulang ketika saya takut untuk tertidur. Dalam pikiran saya tidur akan membawa hari baru bersamanya datang, padahal tanpa tidur pun hari akan berganti. Maka dari itu saya tidak berani tidur, saya takut menghadapi hari esok.

 
Dulu sekali saya merindukan sesuatu, seperti rumah yang tak tahu ada di mana. Perasaan yang menakutkan dan membingungkan, takut karena saya tak kenal perasaan rindu macam apa yang saya rasakan ini. Akhir-akhir ini saya juga sering merindukan sesuatu, hanya saja jaraknya lebih bisa terukur, saya rindu tanah kelahiran.

Percaya atau tidak orang yang sudah 18 tahun tinggal di Jerman pun pernah bicara pada saya bahwa belakangan dia ingin pulang ke Indonesia.

Saya bertanya-tanya, apa dia mengalami sepi seperti yang saya rasakan di sebagian waktu saya? Hampir 5 tahun, saya di Jerman hampir 5 tahun...


Beberapa berkata mengenai rumah, bahwa rumah adalah dirimu sendiri. Kamu bisa berada di manapun jika sudah bersahabat dengan diri sendiri. Saya setuju, saya lakukan itu selama 27 tahun saya hidup. Put me everywhere and I pretty much can survive. Namun survive dan fulfillment tidak selalu berada dalam satu arah.

Saya lalu bertanya-tanya, jika selama ini saya selalu bersahabat dengan diri saya sendiri kenapa dalam beberapa kesempatan tetap saja kesepian datang? Sepertinya teori ini tidak benar-benar cocok. Apa saya kurang benar-benar bersahabat dengan diri saya sendiri? Sisi lain dalam pikiran saya menyeruak, jika seorang manusia dapat bertahan hanya dengan dirinya sendiri kenapa manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial? Bahkan penulis-penulis yang terisolasi dalam tahanan membutuhkan tokoh-tokoh dalam imajinasinya untuk dihidupkan. Saya semakin sadar, ada perbedaan cukup penting dengan bersahabat dengan dirimu sendiri dan hidup sendirian.

Koneksi yang datang dari dirimu sendiri tidak benar-benar cukup untuk seseorang yang lahir terutama dari kehangatan komunal. Koneksi ini harus diproyeksikan pada orang lain, manusia tetap saja harus merasakan energi dari manusia lain. We need other to connect. We need other human to feel kindness and compassion. Ada hal-hal yang datang dari orang lain, kita ngga bisa hidup sendirian.


Dulu sekali saya rindu sesuatu karena saya tidak bergerak. Saya tumbuh lebih besar dari ruang yang tersedia, saya pikir harus keluar dan menjelajah. Sekarang saya rindu rumah karena jarak dan koneksi yang perlahan mengering, saya selalu bergerak. Saya butuh energi berhenti, kehangatan.

Sulit untuk memvalidasi apa yang saya rasakan karena seseorang yang merantau tak pernah benar-benar bicara tentang hal tersebut. Mungkin orang merasa seperti menurunkan daya tahan tingkat resiliensnya terhadap keputusan yang dia buat?
Jika ada orang lain yang bilang, saya merasa kesepian. Saya takut diserang oleh sebuah pernyataan, wah ya salah sendiri memilih untuk pergi jauh sekali dari rumah.
Atau banyak yang ingin berada di posisi saya ini, maka ketika ada yang berkata: "Wah enak ya di sana dan jadi kamu", saya bilang: Tidak kok, it's often so hard and alone.

Namun kebanyakan saya menahan diri karena orang akan berkata: OH YHA tapi bersyukur lah kamu bisa melakukan apa yang ngga bisa saya lakukan dan idamkan.

Jadi ya sudah, saya tidak benar-benar pernah membagi apa yang saya rasakan di dalam diri saya.


Saya juga tak membicarakan sisi vulnerability ketika harus melakukan semua hal sendirian. Terlihat seperti hal yang mudah untuk dilakukan, padahal kenyataannya ada proses-proses melelahkan yang kadang membuat saya ingin muntah dan kabur dari dunia ini.
Itu juga yang menyebabkan keinginan kecil sederhana muncul seperti suatu hari ada seseorang yang berkata bahwa "Don't worry, I heard you, it must be hard, I can take care of you well" walaupun pada kenyataannya seorang perempuan seperti saya tetap berusaha berdiri di kakinya sendiri.
Namun rasanya sedikit tentram saja jika ada seseorang yang memvalidasi apa yang tidak saya bicarakan.


Perempuan yang mandiri bisa melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri, namun tujuan untuk membahagiakan diri sendiri menjadi semakin tak punya arti ketika kamu tak bisa membagikan apa yang kamu raih pada orang yang penting bagimu. Ketika semua tujuanmu HANYA untuk dirimu sendiri rasanya rencana-rencana masa depan terlihat biasa-biasa saja. Seperti: "Yes I can get it, but what for? My self?"
Bukan berarti kamu tidak menyayangi dirimu, lebih seperti, jika aku bahagia sendirian rasanya ternyata tidak menyenangkan-menyenangkan amat.
Kebahagiaan perlu dibagikan.

Saya belajar bahwa apa yang membuat saya penuh adalah ketika apa yang saya dapatkan bisa dirasakan oleh orang-orang yang saya sayangi atau minimal orang-orang di sekitar saya.

Comments