Maybe this is the reason now I often cry
Saya tidak terlalu ingat saat-saat di mana saya menangis di masa kecil saya. I had a happy childhood, but it seems so impossible and unhealthy when you never cried. Saya lalu menyadari apakah saya menekan rasa frustasi ketika kecil dengan baik, I manage to regulate my emotion or I manage to not validate the emotion.
Momen ketika menangis saat kecil tidak pernah saya ingat, bahkan ketika di Taman Kanak Kanak saya pernah terjatuh ke selokan besar dan membuat dada saya berdarah. I remembered, that I didn't cried back then. Saya ingat beberapa hal kecil saat saya menangis, satu kali ketika dimarahi ayah saya (penyebabnya saya sudah lupa), satu kali saat bermain dan saya memakai celana terbalik (saya merasa dipermalukan sekali), satu kali saat jari kelingking saya dijahit tanpa biusan (alasan dokter tidak membius adalah tak lain tak bukan karena ketika kecelakaan terjadi saya tidak menangis sama sekali).
It seems I don't validate enough all my emotion.
Saya ingat posisi saya sebagai anak pertama memang tidak terlalu banyak memberi ruang untuk saya mempunyai perasaaan marah, perasaan sedih, perasaan frustasi. Saat itu yang saya ingat, janganlah menyusahkan ayah dan ibu saya. I have to be a good daughter.
Adik saya hanya beda dua tahun dari saya sendiri. Saya ingat kalau saya bukan kakak yang menyusahkan, saya mudah mengalah, menekan perasaan demi melihat adik saya tidak menangis atau demi melihat orang tua saya tidak disusahkan. Adik saya tumbuh menjadi anak normal pada umumnya, sering sekali menangis dan mengeluarkan emosi. Saya melihat ibu saya kadang memang direpotkan dengan adik saya, maka dari itu saya selalu berusaha untuk menjadi anak yang baik. Kasihan ayah dan ibu tidak punya waktu untuk sekedar memvalidasi emosi serta perasaan yang saya rasakan. Saya tidak ingat, mungkin ketika kecil saya diam-diam menyimpan perasaan yang sebal ketika adik saya tiba-tiba marah atau mengatur. Saya hanya tidak pernah memvalidasi semua perasaan negatif. Mungkin saja, karena saya beranggapan bahwa itu tidak baik, jangan dilakukan. Bahkan saya menghindar untuk menangis, rasanya saya menanamkan di dalam diri saya bahwa tangisan adalah sesuatu yang akan menyusahkan orang lain.
Lalu adik ke dua saya muncul. Lebih banyak merepotkan ayah dan ibu, adik saya yang terakhir senang sekali tantrum. Saya kembali tidak mau merepotkan kedua orang tua, saya harus menjadi contoh dan penjaga adik-adik saya ini.
Akhirnya hingga dewasa saya lupa atau bahkan mungkin tidak benar-benar tahu bahwa emosi negatif haruslah divalidasi. Saya lebih sering untuk tidak menghiraukan atau cepat-cepat merubahnya menjadi emosi yang lebih positif. Saya juga tumbuh menjadi individu yang tidak ingin merepotkan atau membuat susah orang lain. Saya jarang sekali menangis, jarang sekali marah, jarang sekali frustasi.
Bertahun-tahun saya mampu melewati itu, lalu hingga akhirnya dimulai dengan quarter life crisis hingga hari ini, saya dapat pembelajaran terbesar (mungkin di kemudian hari akan muncul yang lebih besar, but it's okay, I'm not there yet) bahwa semua emosi yang saya tekan, yang saya hiraukan, tetap masih ada di badan saya... satu persatu bahkan kadang sekaligus bermunculan..
Mereka tidak hilang, karena kebanyakan tidak saya validasi, saya cuekki, tidak saya perhatikan. It's still there, hiding..
Bertahun-tahun secara tidak sadar saya menyelipkan dan menyimpannya, semua negatif, rasa frustasi, amarah, kesedihan, lelah, seperti gulungan bola salju yang membesar. Seharusnya saya memproses itu semua dengan mencicil, ini seperti tiba-tiba semuanya berdatangan.
Semakin menjelang umur 30 saya semakin sadar, emosi dan perasaan frustasi bukan dihilangkan, bukan dihiraukan, saya harus mengakui dan memvalidasi, memprosesnya satu persatu, bersabar dan jangan lari. Saya dapat getahnya sekarang, hal-hal yang tidak terproses dulu saya rasakan saat ini. I often feel sad, frustation, angry, alone, tired tanpa jelas penyebabnya.
Saya dibesarkan menjadi perempuan yang enggan sekali merepotkan orang lain. I manage to do it by myself, ternyata saya belajar bahwa itu tidak terlalu bijak. Saya harus menyayangi diri saya sendiri dan mencoba untuk membiarkan other take roles, minta bantuan. Di dunia itu hakikatnya, kamu membantu orang lain dan menerima bantuan dari orang lain. Oleh karena itu juga kadang saya takut sekali mempercayakan diri saya dicintai orang lain, dilihat sisi rapuhnya. (aren't we all?)
Hingga hari ini saya masih belajar membuka sedikit demi sedikit lapisan pelindung saya dan berani untuk "merasa", berani menerima perasaan sedih, perasaan frustasi, marah. Secara tidak sadar copy mechanism saya yang sering melompati semua proses perasaan negatif, mengikis compassion saya terhadap orang lain.
Saya yang tidak memvalidasi perasaan saya sendiri, sulit memvalidasi emosi orang lain. Seakan-akan tidak ada di sana, seakan-akan ya harus diregulasi langsung menjadi perasaan yang lebih positif atau menjadi lebih produktif. Numb sekali.
Proses tahunan menekan emosi saya ketika kecil hingga melewati masa remaja, hingga saat ini mempengaruhi saya sebagai orang dewasa. Namun akhir-akhir ini saya mulai menyadari, mulai belajar acknowledging bahwa sometimes or maybe often, I'm not okay and It's okay.
Saya belajar untuk tidak takut terhadap perasaan tidak nyaman, saya juga menyadari bahwa saya ternyata individu yang sensitif terhadap emosi orang lain. Bertahun-tahun saya menutupi itu dengan lapisan-lapisan pelindung agar saya tidak diliputi rasa tidak nyaman ketika mendengar orang lain merasa sedih atau frustasi.
Saya belajar mengakui bahwa di dunia ini ya memang ada emosi serta perasaan negatif. It's not entirely a bad things.
Keseimbangan akan selalu muncul dengan caranya yang tidak kita pahami.
Comments
Post a Comment
Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.