Tidak Pernah Habis

Satu tahun belakangan semenjak diajak bergabung di komunitas film, banyak dicekokin film-film yang ternyata saya baru sadar bagaimana film bagus itu. Menonton film-film yang saya tonton dalam satu tahun ini merubah banyak pandangan saya tentang film. Saya juga banyak ditugaskan untuk jadi moderator sekaligus narasumber untuk sesi diksusi film berlangsung, alhasil mau ngga mau harus googling sana sini buat cari artikel, info dan opini terkait film yang akan saya bahas.
Saya jadi baca majalah film, baca info-info terbaru tentang film, membaca pandangan kritikus film terkenal tentang bagaimana film yang bagus, nontonin wawancara-wawancara dengan sutradara film di youtube, liat best movie dari taun ke taun, sedikit banyak cari tau sejarah perfilman Indonesia, kenal dengan pecinta-pecinta film lain. Setiap diskusi juga saya mendengarkan banyak pendapat orang lain tentang film dan interpretasi masing-masing orang. I learn, but still not enough.



Satu tahun masih belum cukup, apa yang saya pelajari masih jauh dibanding orang-orang pecinta film yang sudah lebih duluan dari saya. Saya sempet ngobrol juga sama salah satu orang teman:
"Gila, perasaan uda nonton banyak banget film tapi tetep aja film-film keren masih bejibun yang belum ditonton. Itu film-film dulu, film sebelum taun 90an. Belum kita juga musti tau film sekarang yang beberapa ngga kalah keren."
Dan teman saya pun setuju dengan apa yang saya ungkapkan.

Semakin saya banyak nonton film semakin saya ngerasa ngga tau apa-apa banget. Saya belajar, hal-hal yang berhubungan dengan kreatifitas manusia dan imajinasi bakal terus berkembang dan ngga akan abis-abis. Ada lagi yang keren, ada lagi yang jauh lebih keren, teruuuuuus ada lagi yang lebih, yang belum kita tau, yang dari dulu sudah ada tapi kita kurang info buat tau, yang masih tersimpan di otak manusia dan di masa depan akan hadir.
Kasus di atas juga berlaku untuk buku dan musik.

Sampe nulis kaya begini di line

Begitu juga dengan buku dan musik. Oleh karena itu, salah satu bucket list saya tahun 2015 adalah banyakin baca buku bagus minimal 100 buku dalam 1 tahun. Sampe bikin target ke diri sendiri untuk minimal seminggu baca 1 buku. Untung aja saya suka banget baca jadi terasanya menyenangkan. Menariknya buku juga sama dengan film, ngga abis-abis yang bagus, banyak bikin ternganga sama imajinasi penulisnya, beberapa buku juga langsung menginspirasi saya buat nulis.

Musik ngga usah ditanya, walaupun ada beberapa yang tetap bagus abadi dan tidak terbantahkan, tetap aja pengen terus explore lagi musik-musik lain. Jenis-jenis yang belum pernah saya denger, saya coba dengerin siapa tau saya suka. Update tentang musisi yang emang dari dulu saya suka, apakah mereka ngeluarin album terbaru.
Tapi saya pribadi punya catatan tersendiri tentang musik, karena saya kadang anaknya bosan banget sama sesuatu hal yang terus menerus sama. Begini,

Jika menyukai salah satu musik atau lagu jangan dengarkan terus menerus, berilah jarak. Jangan dengarkan lagu yang sama dan itu itu saja. Karena ini yang terjadi selanjutnya: Awalnya kau mencintai lagu tersebut sepenuh hati lalu karena keegoisan  rutinitasmu dengan mendengarkannya terus menerus dan kebetulan-kebetulan pendukung yang membuatmu mendengar lagu tersebut lebih dari batasan rasa muakmu yang sesungguhnya. Maka kualitas lagu tersebut seperti tidak akan kau rasakan. Indera perasamu seperti dikalahkan rasa bosan dan berakhir dengan enggan mendengarkan lagu yang awalnya kau suka. Jangan membuat kualitas lagu kesukaanmu jatuh karena kebosananmu sendiri.

Itu pendapat saya secara pribadi, tapi teori tersebut tidak mutlak, karena sesungguhnya hal mutlak adalah ketidak mutlak-an. Karena ada beberapa lagu juga yang saya dengarkan terus menerus tapi kualitasnya everlasting dan tetap saya rasakan. Biasanya lagu-lagu tahun 50-70. hehe

Belajar dari itu semua saya lalu berpikir apa teori "tidak pernah habis" ini berlaku untuk hal hal lain. Saya sih percayanya kalau yang berhubungan dengan kreatifitas dan imajinasi bakal iya, karena dengan begitu berarti manusia berkembang terus and it's good.

Saya juga jadi berpikir tentang tempat dan pemandangan. Kayanya sih sama, tidak pernah habis, sebabnya mungkin karena bumi yang segede uprit ini di dalam galaksi terasa besar buat saya, manusia yang ukurannya cuma setitik kecil pokonya leutik pisan. Saya pengen banget liat, tempat baru, pemandangan baru dan apakah standar saya tentang tempat bagus akan berubah dengan semakin banyaknya referensi. Kayanya sih berubah, it's hard to keep my words.

Comments

Post a Comment

Thankyou for your comment. I will also visit your blog. Keep writing and reading.